BERKURBAN BUKAN HANYA SEKALI

Spread the love
Dr. Kh. Abun Bunyamin, MA Pimpinan Umum Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Wakil Rais Syuriah PWNU Jabar

Menyembelih binatang kurban itu tidak boleh mengatakan sudah, karena nikmat Allah juga tidak pernah berhenti, tapi terus berjalan sampai sekarang bahkan hari esok. Untuk itu menyembelih kurbanpun dianjurkan pada setiap tahun, berbeda dengan aqiqah yang hanya satu kali dalam seumur hidup.


Memotong binatang kurban hakikatnya bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita, terutama nikmat sehat dan nikmat lainnya yang tidak bisa kita hitung jumlahnya. Oleh karena itu niatkanlah dalam hati agar kita bisa berkurban pada setiap tahun. Kurban bisa terlaksana karena 5 faktor

  1. Faktor iman, artinya karena keyakinan kepada Allah, yakin semua perintah Allah itu adalah demi kebaikan bersama, Allah menjamin bagi yang menjalankannya dengan segala balasan yang berlipat ganda, orang beriman pasti yakin dengan segala janji-JanjiNya itu. Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Al-hujurat 15 ;
    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
    Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS.Al-hujurat 15)
    Dari ayat tersebut Allah mengabarkan bahwa orang beriman itu ditandai dengan yakin kepada Allah dan rasulnya, berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa raganya.
  2. Faktor ketaatan, orang beriman ketika ada perintah Allah tidak ada pilihan lain kecuali taat dan patuh kepada perintah itu. seperti Nabi Ibrahim as diperintah untuk menyembelih anak kesayangannya Ismail as. Maka langsung dilaksanakan tanpa banyak pertimbangan. Sebagaimana Firman Allah dalam surat al-ahzab: 36
    وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
    Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Q.S. Al-Ahzab: 36)
    Dari ayat ini menyatakan bahwa orang beriman itu harus selalu patuh kepada Allah SWT tanpa harus pilih-pilih dan banyak pertimbangan seperti halnya Nabi Ibrahim as. Kita harus konsisten dengan ikrar yang selalu diucapkan ketika sholat bahwa “sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah kepunyaan rab seluruh alam “
  3. Faktor keinginan hidup bahagia. Kebahagiaan itu sifatnya relatif artinya boleh jadi berbeda antara satu individu dengan individu lain, tapi menurut al-Quran rumusan bahagia itu sama yaitu beriman dan beramal shaleh. berqurban itu bagian dari amal shaleh yang merupakan perbuatan terpuji yang pasti akan dibalas dengan kebahagiaan. Sebagaimana Firman Allah dalam QS Al-Nahl : 97
    مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
    Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-Nahl: 97)
    Ayat tersebut menyebutkan bahwa Allah SWT menjamin kebahagiaan dunia akhirat bagi setiap orang yang beriman dan beramal shaleh, oleh karena itu kita wajib beriman dan beramal soleh jika hidupnya ingin bahagia.
  4. Faktor ingin rizkinya bertambah. Setiap orang pasti bercita-cita usahanya itu semakin maju, semakin berdaya guna dañ semakin bermanfaat untuk ummat. Oleh karena itu tidak ada cara lain yang harus ditempuh kecuali mensyukuri nikmat Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah dalam QS.Ibrahim ayat 7
    وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
    Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS.Ibrahim : 7)
    Dalam kitab hikam, dikatakan bahwa mensyukuri nikmat itu sama dengan mengikatnya sedangkan mengingkari nikmat sama dengan menyodorkan buat dicabutnya nikmat itu.
  5. Faktor keinginan berbagi. Setiap manusia mempunyai perasaan kalau punya rizki ingin dinikmati juga oleh orang lain, terlebih oleh sesama orang yang beriman dalam rangka membantu anak yatim dan orang miskin. Sebab pada rizki kita itu ada hak mereka yang tersimpan. Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Al-Ma’un ayat 1-7
    أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7(
    Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (QS. Al-Ma’un 1-7)
    Dalam surat pendek tersebut Allah memastikan kerugian bagi 5 kelompok manusia yaitu 1). Yang membiarkan anak yatim, 2). Tidak peduli terhadap orang miskin, 3).Suka lalai terhadap shalat yang 5 waktu, 4).Orang yang riya dalam segala peribadatannya, 5). Enggan mengeluarkan zakat atau sodaqah.
    Orang yang menyembelih kurban hakikatnya ingin agar terbebas dari ancaman sebagaimana tertera dalam ayat tersebut, yaitu ancaman sebagai pendusta agama dan neraka Wael.
    Semoga saja dengan berkurban akan bisa kita petik 3 hikmah yaitu Pertama, Bagi pekurban akan tertanam jiwa dermawan yang bersih dari sikap kikir terhadap harta. Kedua Bagi orang lain akan tumbuh jiwa ta’awuniyah artinya saling menolong dengan sesama hambanya, terutama terhadap orang miskin, yatim piatu dan yang lainnya. Ketiga Untuk agama hikmahnya adalah semakin semaraknya syiar Islam, persaudaraan dengan sesama ummat manusia semakin dekat. Untuk itu semoga kita diberi umur panjang dan bisa berkurban pada setiap tahunnya.

*) Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin,
Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Barat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *