KETENTUAN-KETENTUAN IBADAH HAJI

Spread the love
Sumber gambar: NU Online

Haji adalah rukun Islam yang kelima, yang menjadi pondasi kesempurnaan Islam. Dan sebagaimana layaknya ibadah, haji pun memiliki beberapa ketentuan yang mesti dipenuhi, mulai dari syarat wajib, syarat sah, rukun, dan kewajiban di dalamnya.

Imam Al-Ghazali rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya Ihya Uluumiddin bahwa syarat-syarat sah haji ada dua, yaitu berkaitan dengan waktu dan Islam. Oleh karena itu, ibadah haji anak kecil yang sudah mumayyiz dan melakukan ihram sendiri itu sah. Begitu pula ibadah haji anak kecil yang dikerjakan bersama oleh walinya maka ihram, thawaf, atau sa’i adalah sah juga.

Sedangkan syarat sah yang berkaitan dengan waktu yaitu syawal, dzulqaidah, dan sembilan hari dari dzulhijjah sampai terbit fajar dari hari raya haji. Barang siapa yang melakukan ihram bukan pada waktu itu, maka ibadahnya merupakan umrah. Dan seluruh tahun adalah waktu bagi umrah. Tetapi orang yang sedang melakukan ibadah haji pada hari-hari di Mina, maka semestinya ia tidak melakukan ihram umrah.

Sedangkan syarat-syarat haji ada lima: Islam, merdeka, baligh, berakal, dan waktu. Dan keempat syarat pertama tersebut pun merupakan syarat ibadah umrah, kecuali waktu. Karena umrah bisa dilaksanakan sepanjang tahun.

Imam al-Ghazali rahimahullah pun menyebutkan bahwa haji dianggap sunnat setelah lepas tanggungan kewajibannya dari haji pertama. Sehingga haji Islam ini mesti didahulukan daripada haji qadla bagi orang yang rusak hajinya, atau haji nadzar, dan haji menggantikan orang lain (haji niabah), serta haji sunnat.

Adapun syarat-syarat yang mewajibkan haji adalah baligh, Islam, berakal, merdeka dan sanggup. Orang yang wajib atasnya haji fardlu, maka wajib pula atasnya umrah fardhu. Siapa yang bermaksud memasuki Makkah, untuk berziarah atau berniaga dan dia bukan penjual kayu bakar, niscaya wajiblah berihram menurut sebagian ulama. Lalu ia bertahallul (keluar dari ihram) dengan amalan umrah atau haji.

Berkaitan dengan kesanggupan, Imam al-Ghazali membaginya menjadi dua macam. Pertama, kesanggupan secara langsung dan itu mempunyai beberapa sebab. Sebab yang berkaitan dengan dirinya adalah kesehatan, sedangkan yang berkaitan dengan jalan adalah jalan yang bagus dan aman. Adapun berkaitan dengan harta, maka dengan diperolehnya belanja ongkos pergi pulang ketempat asalnya dan belanja untuk orang yang wajib ditanggungnya saat ia berhaji, serta ia pun memiliki harta untuk melunasi utang-utangnya.

Kedua, kesanggupan orang lemah karena lumpuh sedangkan hartanya cukup. Maka dia wajib memberi ongkos orang yang mengerjakan haji untuknya, dengan syarat orang yang diongkosi itu mengerjakan haji fardhu bagi dirinya terlebih dahulu . Namun seorang anak yang menyerahkan ketaatannya kepada ayahnya yang lumpuh, maka ayahnya dianggap mampu. Namun jika ayahnya menyerahkan hartanya, maka ia masih tetap dianggap tidak mampu.

Orang yang sanggup wajib mengerjakan haji dan boleh ia menunda meskipun penundaan ini mengandung resiko. Kalau mudah ia mengerjakan haji, walau itu pada akhir umurnya, maka gugurlah haji darinya. Jika ia meninggal sebelum haji, maka ia menjumpai Allah Ta’ala dalam keadaan bermaksiat, disebabkan meninggalkan haji. Dan haji itu dihajikan dari harta peninggalannya, meskipun ia tidak mewasiatkan, seperti juga utang-utangnya yang lain.

Jika seseorang sanggup berhaji pada suatu tahun, namun ia tidak melaksanakannya, lalu hartanya binasa pada tahun itu sebelum manusia ramah melakasnakan haji, kemudian ia meninggal, niscaya ia menjumpai Allah Ta’ala dan tak ada haji atasnya.

Namun orang yang meninggal dan tidak mengerjakan haji serta dalam kedaan mudah, maka keadannya akan sulit di sisi Allah. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya aku bercita-cita mau menuliskan surat ke segala ibu kota, dengan mewajibkan pajak terhadap orang yang tidak mengerjakan haji, sedang ia sanggup berjalan kepadanya.”

Bahkan Sa’id bin Jubair, Ibrahim ans-Nakha’iy, Mujahid, dan Thawus berkata, “Jika engkau tahu seorang kaya, yang wajib atasnya haji, kemudian ia meninggal sebelum mengerjakan haji, niscaya tidak mesti kau shalat jenazah atasnya.” Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pun berkata: “Barangsiapa meninggal dan ia tidak mengeluarkan zakat dan tidak mengerjakan haji, niscaya orang itu meminta kembali ke dunia.” Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu membaca firman Allah Ta’ala:

رَبِّ ارْجِعُوْنِ. لَعَلِّي أَعْمَلُ صَلِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ

Wahai Tuhanku! Kembalikanlah aku (hidup)! Supaya aku mengerjakan perbuatan baik yang telah aku tinggalkan itu. (QS. Al-Mu`minun: 99-100)

Adapun rukun-rukun haji itu ada lima, yaitu: ihram, thawaf, sa’i sesudah thawaf, wuquf di ‘Arafah, dan bercukur sesudahnya menurut pendapat sebagian ulama. Demikian pula rukun-rukun tersebut berlaku untuk umrah, kecuali wuquf di ‘Arafah.

Sedangkan wajib haji itu ada enam: dua di antaranya wajib dikenakan dam apabila ditinggalkan sedangkan empat kewajiban lainnya sebagian ulama mengatakan bahwa sunnah diganti dengan dam.

Yang wajib diganti dam adalah ihram dari miqat dan melempar jumrah. Maka orang yang meninggalkan ihram atau melewati miqat itu, maka ia dikenakan dam berupa kambing atau kibasy.

Sedangkan wajib haji yang wajib atau (menurut satu pendapat)sunnat diganti oleh dam bila ditinggalkan adalah: bersabar di ‘Arafah sampai terbenam matahari, bermalam di Muzdalifah, bermalam di Minda, dan Thawaf Wada.

Adapun cara melakukan haji dan umrah ada tiga. Pertama, secara ifrad (tersendiri), yaitu mendahulukan haji terlebih dahulu. Apabila telah selesai haji, lalu keluar ke tanah halal, maka ia ihram lagi dan mengerjakan umrah. Kedua, secara bersama-sama (qiran), yaitu dikumpulkan sambil ia mengatakan, ‘Labbaika bihijjatain wa ‘umratain ma’an’ (Aku perkenankan seruan-Mu bersama-sama haji dan umrah). Sehingga ia berihram dengan keduanya, dan cukuplah segala amalan haji dan umrah sebagaimana masuknya wudlu di bawah mandi. Kecuali apabila ia berthawaf dan sai sebelum wukuf di arafah, maka sa’inya itu dianggap bagian dari haji dan umrah, sementara thawafnya hanyalah dianggap sebagai bagian dari haji. Orang yang melakukan haji qiran maka ia menyembelih dam, kecuali ia orang Makkah karena ia tidak meninggalkan miqatnya.

Ketiga, secara tamattu’ (bersenang-senang), yaitu bahwa dilampauinya miqat dengan berihram umrah dan bertahallul di Makkah serta bersenang-senang dengan segala larangan bagi seorang yang berihram, sampai datang waktu haji, kemudian ia berihram dengan haji. Tidaklah dikatakan tamattu’, kecuali setelah memenuhi lima syarat, yaitu: tidak termasuk penduduk Masjidil Haram, didahulukan umrah atas haji, umrahnya terjadi pada bulan-bulan haji, dia tidak kembali kepada miqat haji untuk ihram haji, dan haji dan umrahnya itu dari satu orang. Bila syarat-syarat tersebut terpenuhi, maka ia harus menyembelih dam seekor kambing. Bila tidak, maka ia berpuasa tiga hari saat haji, sebelum hari raya, dan tujuh hari apabila telah kembali ke tanah air. Bila tidak berpuasa tiga hari saat haji, maka puasanya menjadi sepuluh hari saat ia telah kembali ke tanah air.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq, hidayah, serta kemudahan kepada kita semua untuk mengunjungi Tanah Haram dan beribadah kepada Allah Ta’ala di sana. Aamiin.

*) Sumber : Buletin Mingguan penulis Dr. KH. Abun Bunyamin, MA Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Wakil Rais Syuriah PWNU Jabar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *