Mengkaji Hadits di Al-Muhajirin

Spread the love
Workshop Metodologi Pembelajaran Ilmu Hadits untuk Pemula di Madrasah Aliyah Keagamaan
Pesantren Al Muhajirin, Purwakarta.

Purwakarta (5/3). Sebanyak 200 orang yang terdiri atas beberapa elemen seperti pengurus MUI, guru Pendidikan Agama Islam, pengasuh pesantren, tumplek blek di Aula UMMI, Pesantren Al Muhajirin, Purwakarta. Mereka adalah peserta undangan program Workshop Ilmu Hadist yang diadakan Pesantren Al Muhajirin. Program ini dirancang sebagai acara tahunan sebagai bagian dari program penguatan prodi keagamaan di Aliyah Al Muhajirin.

Dalam sambutannya, Kepala Madrasah Aliyah Al Muhajirin, H. Marfu Muhyidin Ilyas, MA., menyampaikan beberapa hal. Pertama, mendapati tradisi keilmuan keilmuan sudah mulai lesu. Makanya, acara ini sangat penting sebagai upaya menghidupkan tradisi para ulama tersebut. Prodi keagamaan, lanjutnya, adalah wadah yang tepat untuk itu. Kedua, kajian keislaman masih menjadi sesuatu yang minoritas. Meskipun demikian, bagi Al Muhajirin, kajian keislaman merupakan ruh madrasah. “Karena kajian keislaman adalah ruh madrasah, maka Al Muhajirin insya Allah istikomah menjadikan kegiatan seperti ini sebagai pilihan utama,” katanya. Ketiga, ini merupakan pengabdian Al Muhajirin kepada umat. Makanya, Al Muhajirin mengajak-serta berbagai komponen untuk terlibat aktif di dalamnya.

Adapun yang menjadi narasumber dalam workshop ini adalah Dr. Ahmad Lutfi Fatahullah, MA. Beliau adalah Direktur Pusat Kajian Hadist dan dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Workshop ini hanya bagian kecil dari proyek besar AL Muhajirin sebagai upaya membangun jejaring keilmuan dan menghidupkan ilmu-ilmu keislaman. H. Marfu Muhyidin Ilyas berharap, ini bukan sekadar workshop. Tetapi, setelah acara ini rampung, ada semacam blue print bagi pengembangan Madrasah Aliyah keagamaan di Al Muhajirin pada khususnya, dan di seluruh madrasah Aliyah di pesantren ataupun sekolah pada umumnya.

“Ke depan, keagamaan bukan lagi sekadar jurusan yang baru dipilih di kelas XI, namun benar-benar menjadi prodi yang dipilih dan ditetapkan santri/siswa sejak masuk ke madrasah aliyah,” tutupnya. (FZ)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *