Mengenal Lebih Dekat Sosok Perjuangan DR. Kh. Abun Bunyamin, MA dalam Membangun Al-MuhajirinSejarah

Spread the love

Jati Diri Al-Muhajirin Tidak Lepas dari Kiprah DR. Kh Abun Bunyamin, MA

KH. DR. Abun Bunyamin, MA dalam Membangun Al-Muhajirin dari Humas Al-Muhajirin Kampus 1 yang beralamat di Jalan Veteran 155, RT.41/RW.05, Nagri Kaler, Kec. Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat 41115 

Kiyai Abun Bunyamin membangun kepercayaan kepada masyarakat berdirinya Yayasan Al-Muhajirin. Perjuangannya dari semasa kecil hingga sekarang dikenal hingga mancanegara. Itu tidak lepas dari dorongan dan do’a orang tuanya.


Diambil dari buku yang diterbitkan oleh Taqaddum Pesantren Al-Muhajirin Jl. Veteran Gg. Kenanga II Kebon Kolot Purwakarta, bisa menjadi inspirasi pembaca dalam menyikapi hidup sekarang ini.

Buku ini membuat saya bergetar. Cucuran air mata tidak terasa menemani saya saat merenungkan dan mengenang kembali isi buku ini. Bukan karena kata-katanya yang bagus dan indah. Akan tetapi karena semuanya adalah benar-benar tentang kisah hidup saya. Dari halaman pertama buku tentang kelahiran saya sampai puluhan tahun kemudian yang direkam pada halaman terakhir, saya tidak membayangkannya akan seperti ini.

Buku ini benar-benar mengembalikan saya ke masa lalu. Terbayang jelas wajah Emah dan Abah,  dan para guru terutama KH. Ilyas Ruhiyat. Masih segar diingatan saya, sapaan beliau bila bertemu saat nyantri di Cipasung dulu, “Min, lagi apa? Dari mana?” Kesantunan yang selalu tunjukkan kepada saya sebagai santrinya. Pernah suatu hari saya kepergok sedang-sedang senyum-senyum sendiri di lantai dua gedung PTI (sekarang IAIC), KH. Ilyas mengagetkan saya, “Ada apa, Min?” Dengan malu saya menjawab, “Ini Pak, Lulus Ujian PGA 6 Tahun.” Ya, waktu itu saya menerima pemberitahun lulus ujian PGA 6 tahun dari Sumedang.

Buku ini juga mengingatkan saya akan energy perjuangan yang dialirkan KH. Khoer Afandi kepada saya. Saya hanya belajar 40 hari di Manonjaya. Memang tidak lama. Tetapi perjumpaan saya dengan Wa Ajengan itu memantapkan hati saya. Saya tidak takut menghadapi halangan dan gangguan apapun, terutama saat itu masa Orde Lama. Doktrin kalimat thoyibah dan wahdaniyat Allah swt rupanya sedemikian rupa membekas dalam jiwa saya. “Mun teu diuji, moal gede-gede” begitu pesannya untuk saya waktu itu.

Buku ini membuat saya terbangun di tengah malam dan merenung sendiri dalam keheningan malam. Saya menerawang kehidupan masa lalu yang bukan rekayasa. Seakan-akan saya tidak percaya bahwa buku ini adalah tentang perjalanan hidup saya sendiri. Pahit, sakit, terjepit, DAN terhimpit yang dulu semasa kecil sempat saya keluhkan, kini terasa indah. Saya belajar kepada pengalaman diri sendiri yang direkam buku ini, bahwa cita-cita dan optimisme tidak boleh surut, sebesar ombak kesulitan menggulung perjuangan.

Buku ini bagi saya juga menunjukkan kebenaran janji Allah swt. Ini pula keyakinan saya yang selalu saya pegang, bahwa Allah swt akan meninggikan derajat hidup orang yang berilmu. Juga kabar kemuliaan bagi orang berilmu yang penyebutannya disejajarkan dengan Allah swt dan para malaikat-Nya. Perjalanan hidup yang Allah swt takdirkan untuk saya membuktikan semua itu.

Kini tersisa pertanyaa dalam batin saya, setelah semua capaian yang Allah swt anugerahkan ini, apakah anak, cucu, dan murid saya bila dipinta menjalani hidup seperti saya, mereka akan siap? Saya berharap mereka menjadi kader terbaik saya. Kepada mereka saya pesankan, bersiaplah menerima ujian dan harus lulus melaluinya. Hadapi dan tuntaskan ujian itu dengan sempurna. Ingat kisah Nabi Ibrahim dalam Surat Al-Baqarah. 

Bapak, Sumber Inspirasiku

Sebuah Pengantar

Al-Muhajirin berdiri ditengah kondisi ekonomi, politik yang waktu itu sangat sulit. Namun kesediaan menghadapi keadaan sulit tersebut membuat Al-Muhajirin tangguh dan tak pernah berhenti berhijrah dari satu kondisi ke kondisi berikutnya. Bapak sebagai Founding Father telah menanamkan pondasi yang kuat dalam dakwah Islam sehingga menjadi ruh dalam setiap aktifitas semua komponen Al-Muhajirin.

Sejauh ini figur Bapak dan Ibu memang mendominasi. Mereka selalu ingin memberikan yang terbaik bagi  umat sehingga karisma mereka berdua begitu kental bagi masyarakat. Semangat mengabdi dari Bapak dan Ibu telah terjalarkan. Kini Al-Muhajirin, dengan meningkatnya kuantitas dan kualitas di dalamnya, semakin mengokohkan kiprah pembinaan umat.

Buku ini hadir untuk menjawab pertanyaan dari mana Al-Muhajirin bermula? Jawabannya ternyata adalah kepribadian, impian, keilmuan, kesulitan dan kegigihan Bapak sepanjang hidupnya. Dalam halaman pengantar ini, saya tak bisa menahan diri untuk berbagi cerita tentang pengalaman pribadi saya sebagai putri pertamanya.

Bagi saya, Bapak merupakan sosok  yang sangat halus dalam mendidik putri-putrinya. Saya tak pernah merasa mendapat marah karena sebuah urusan. Selalu  ada kata-kata yang tepat untuk menegur saya dan kedua adik saya bila salah. Bapak  juga sosok guru yang menghantarkan kami ke gerbang dunia dengan membaca, khususnya Al-Quran.

Bapak juga adalah guru pertama yang mengajari saya Alif, Ba, Ta, Tsa. Guru  pertama yang mengenalkan Jurumiah, Mutamimah  dan Safinah. Sungguh tidak bisa lepas bagi saya dua peran besar Bapak; sebagai orang tua biologis sekaligus guru pertama.

Bapak adalah sosok pekerja keras yang selalu berusaha dengan tangan sendiri, khususnya sebagai kepala keluarga. Waktu saya masuk Gontor putri, Bapak dengan tangannya sendiri mengangkat koper, dan kardus berisi buku-buku utk belajar saya disana. Padahal  kalau mau, Bapak sudah punya bujang yang bisa disuruh untuk bisa mengangkut. Akan tetapi untuk anak sendiri, Bapak lebih senang mengerjakan dengan tangannya sendiri.

Hal yang sama Bapak lakukan dalam mengurusi bisnis percetakannya. Bapaklah yang  langsung pergi membeli kertas ke Surabaya dengan membawa segunung kertas. Semua di bawanya sendiri sambil mampir ke Gontor Putri menengok saya yang lagi mondok. Saya tahu kemudian, bisnis ini Bapak persiapkan untuk membangun pesantren.

Bapak selalu mengisi celah sekecil apaun untuk bisa berjuang dan bekerja. Kekuatan dan keteguhannya memegang prinsip begitu jelas saya baca. Pada masa awal perkembangan Al-Muhajirin, banyak tantangan dari orang orang yang tidak senang dengan usaha dakwah Bapak. Ruang kelas yang dibakar, tugas kerja yang dilempar jauh dari kota, ancaman yang menerir, sampai amaliah pengajian dan khutbah yang diberhentikan. Akan tetapi Bapak menyikapinya dengan tenang.

Dalam kondisi dakwah yang seperti itu, Bapak tetap menjalankannya dengan istiqomah. Saya meyakini satu hal, shalat malam dan puasa sunat Bapaklah gerbang solusi untuk semua kesulitan yang merintangi dan menimpa Bapak. Bukan hanya sosok yang kuat, cerdas dan terampil, tetapi justru yang paling menonjol dari Bapak adalah sikap penyabar dan konsistensinya dalam ibadah.

Kehadiran buku ini yang secara apik mencatat perjalanan dalam membangun Al-Muhajirin, semoga menjadi motivasi besar bagi saya, adik, dan cucu Bapak untuk menjaga amanah dan warisan terbesarnya, yakni perjuangan menghidupkan syiar agama Allah swt, pesantren  Al-Muhajirin ini. Semoga menjadi nasihat pula bagi kami untuk mewarisi sikap tulus dan istiqomah dalam berjuang dan ibadah.

Lebih dari itu, semoga buku ini menjadi pedoman bagi seluruh komponen Al-Muhajirin dalam menjaga dan melanjutkan perjuangan Bapak. Jangan sampai salah arah dan tujuan. Insya Allah, buku ini juga kaya dengan inspirasi untuk menyemangati kita. Satu di antaranya adalah prinsip yang sering Bapak ajarkan bahwa sebanyak orang yang kita pikirkan, maka sebanyak itu pula yang memikirkan kita.

Mengakhiri pengantar ini, saya mengajak semua pembaca untuk mendo’akan Bapak KH. DR. Abun Bunyamin, MA dan Ibu Hj. Euis Marfu’ah, MA agar beliau berdua selalu dalam keadaan sehat wal afiat. Diberikan umur yang panjang. Dibalas semua pahit dan lelah perjuangannya dengan pahala yang besar dan surga yang kekal.

Bagian 1

Awal Hijrah

(1954 – 1980)

Nama yang Hijrah

Semua tahu, waktu itu, Indonesia yang masih muda amat sibuk luar biasa.  Banyak berita ribut-ribut di halaman surat kabar. Seorang yang disebut tengku kecewa terhadap presiden dan ingin merdeka di ujung Sumatera sana. Sedikit ke timur di pulau yang sama, petani bentrok dengan polisi,  lima orang mati. Para petani malang menjadi korban gara-gara tak terima ketika polisi mengusir mereka. Konon, orang-orang komunis membisiki petani-petani itu untuk bertahan di tanah garapan mereka yang sejak lama ditinggalkan pemiliknya.

Di Bandung, nama Westerling masih ramai disebut, setelah empat tahun dia angkat kaki dari Indonesia. Menaiki pesawat Belanda, dia terbang ke Malaya. Kapten berambut jagung itu dikutuk orang-orang karena membuat kekacauan di Bandung dan Jakarta. Membunuhi banyak tentara Indonesia dan penduduk biasa.

Pada waktu yang kurang lebih sama, satu atau dua jam perjalanan dari Bandung, di sebuah desa yang seolah terlepas dari segala kekacauan Indonesia belia, seorang ibu berjuang hebat untuk mengantar sebuah sejarah baru; kelahiran bayinya yang kelima. Tangis bayi laki-laki memecah awal hari yang belum lagi disambangi matahari. Hari itu, 4 April 1954, Siti Juariyah, sang ibu, melahirkan anak laki-laki yang ketiga itu tanpa pernah membayangkan, kelak bayi itu akan mengubah banyak hal dalam catatan kehidupan keluarga besarnya.

Muhammad Mukhtar, suami Siti Juariyah, menamai anaknya itu dengan nama penuh doa: Muhammad Tamrin. Nama yang hanya berumur beberapa tahun, karena begitu cukup umur untuk masuk sekolah dasar, Tamrin didaftarkan dengan nama baru: Ade Bunyamin. Kelak keisengannya menyingkat nama Ade Bunyamin dengan Abun saat ia remaja, melahirkan nama baru yang melekat mengiringi warna-warni hijrahnya dalam mewujudkan lembaga pendidikan Islam terbesar di Purwakarta, Abun Bunyamin.

Ngala Suluh

Ade, sebagaimana anak-anak seusianya di desa, menikmati masa kecilnya dengan bersahaja namun teramat kaya makna. Di luar kegiatan belajar di sekolah, waktu bermain Ade lebih banyak ia habiskan di kebun karet Ciung Wanara. Bersama kakak terdekatnya, Adang Sulaiman, Ade biasa ngala suluh, mencari kayu bakar di sana.

Berbekal bakul bambu, Ade setia mengumpulkan satu per satu ranting-ranting yang berserak di tanah, sementara kakak dan teman-temannya naik ke atas pohon menjatuhkan ranting-ranting kering yang masih tertahan di dahan-dahan.

Ade berumur sekitar 11 tahun sewaktu keberaniannya sudah cukup untuk melakukan hal sama seperti yang kakak dan kawan-kawannya kerjakan. Dia merakit galah khusus untuk menjolok ranting-ranting kering itu. Galah bambu yang disambung dengan jari-jari roda bekas sepeda. Keduanya direkatkan dengan getah karet yang mengering. Ade memanjat sendiri pohon-pohon karet yang menjulang jauh di atas kepalanya. Hampir setiap hari, sepulang sekolah, Ade mengumpulkan ranting-ranting kering itu setelah sebelumnya merontokkannya dari dahan-dahan pohon yang ia panjati.

Kesibukan Ade kecil bertambah-tambah setelah orang tuanya membelikan untuknya enam ekor domba dan seekor sapi. Sejak hari itu, Ade mesti pintar-pintar membagi waktunya untuk bersekolah, mencari kayu bakar, dan menggembalakan sapi dan domba-dombanya.

Rumah Dibakar

Tak melulu kisah menyenangkan yang akan selalu Ade ingat pada masa kanak-kanaknya. Sebuah peristiwa yang kemudian mengubah banyak hal dalam diri Ade adalah kebakaran besar yang melalap seluruh rumah keluarganya. Terlalu kebetulan sewaktu ayahnya sedang tidak ada di rumah, api yang tak diketahui dari mana mulanya itu memberangus seluruh rumah dan isinya, kecuali ibu dan seluruh saudaranya.

Abah, panggilan Ade kepada Muhammad Mukhtar: ayahnya, sedang berada di Cimasuk, sebuah daerah di Sumedang, ketika musibah itu terjadi. Banyak orang percaya, kebakaran itu bukan sebuah kecelakaan semata. Ada orang-orang tertentu yang sengaja membahayakan keluarga Ade. Setidaknya, orang-orang itu benar-benar sengaja membakar habis rumah dah harta keluarga Ade karena rasa tidak suka.

Keluarga Ade pun meneruskan hidup dengan sekadarnya. Mereka ditampung seorang pemilik pabrik teh merah yang dipanggil Mang Ahim. Handai taulan dan kenalan yang bersimpati terhadap keluarga Ade lalu memberikan bantuan sebisa mereka. Termasuk memberikan baju, kain sarung, kopiah, dan makanan.

Bukan hari-hari yang mudah untuk dilewati, namun Ade dan keluarganya memahami peristiwa menyusahkan hati itu sekadar tahapan yang harus dilewati bersama-sama. Meski berat, Abah kemudian memutuskan sesuatu yang oleh Ade tak pernah ia perkirakan sebelumnya. Keluarga itu memilih untuk berhijrah, meninggalkan tanah kelahiran dan bertumbuh yang telah didiami selama bertahun-tahun.

Abah memilih sebuah desa bernama Cibeureum sebagai tempat keluarganya memulai kehidupan yang baru.  Meski merasa sangat sedih dan berat meninggalkan kampung halaman, keluarga Ade pun memantapkan hati untuk berpindah. Orang-orang yang selama ini merasa dekat dan terikat hati dengan keluarga Ade merasa sangat kehilangan dengan kepindahan itu. Mereka bahkan ramai-ramai mengantar Ade dan keluarganya menuju tempat bermukim yang baru. 

Ade kemudian menyesuaikan diri dengan banyak hal baru setelah kepindahannya itu. Rumah baru, sekolah baru, teman-teman baru, dan nama yang baru. Ade mendapat nama baru dari salah seorang pamannya. Amin, begitu pamannya menyebut nama baru Ade.

Berguru Kepada Abah

Cibeureum adalah dunia baru bagi Amin. Banyak hal yang ia jejak pada masa dewasa bermula dari tempat ini. Termasuk ketertarikannya terhadap ilmu dan agama benihnya dimulai dari banyak jeda bakda subuh dan waktu-waktu malam ketika Abah mulai membimbing hafalan Qur’annya dengan tertib. Abah adalah guru pertamanya.

Amin memulai setoran hafalan surat Asy –Syams sampai surat An Nas disambung dengan YasinAl Mulku, dan Al Waqi’ah. Amin pun mulai mendalami kitab kuning. Abah mengajari Amin Kitab Tijan Ad Darari dalam ilmu tauhid, mulai dari hafalannya hingga maknanya. Kitab-kitab yang juga diajarkan Abah kepada Amin adalah kitab Jurumiyah dalam ilmu Nahwu, Safinah dalam Ilmu Fiqih, dan Sullam At-Taufiq dalam Ilmu Tauhid dan Tasawuf.

Enterpreneur Cilik

Banyak hal berubah pada diri Amin, tetapi tidak pada satu hal: kemandiriannya. Memahami keadaan keluarganya yang tengah terimpit banyak kesusahan, dia ingin menjadi bagian dari solusi. Setahun setelah kepindahan keluarganya ke Cibeureum, sekitar tahun 1966, Abah sakit keras. Ketika itu di mana-mana kehidupan terasa sangat menjepit pascaperistiwa G 30 S/PKI.

Amin dan teman-teman barunya mencari peluang untuk bisa mengumpulkan rupiah. Mereka kemudian mengumpulkan daun pisang dan daun tisuk. Dipotong rapi, ditali dengan jeli, daun-daun itu siap untuk dijual sebagai bungkus makananan. Amin dan teman-temannya sudah punya pembeli langganan di Pasar Tanjung Sari, pasar terbesar di wilayah itu.

Jika sudah terkumpul cukup banyak daun pisang dan daun tisuk, Amin berpamitan kepada Abah dan Emah: panggilan Amin kepada ibunya, untuk menginap di tajug; semacam surau di kampung. Dari tajug, sebelum subuh dia dan teman-temannya berjalan kaki ke Pasar Tanjung Sari. Pagi-pagi, baru mereka sampai di pasar dan menjualan barang dagangannya.

Amin memang sembunyi-sembunyi melakukan hal ini. Abah pasti marah jika tahu anaknya sampai-sampai harus berjualan daun pisang ke pasar yang jauh agar bisa membantu keperluan dapur Emaknya. Dari berjualan daun pisang dan daun tisuk itu, setidaknya setiap pulang dari Tanjung Sari, Amin membawa ikan asin dan terasi untuk Emak. Sebelum pulang pun, dari hasil berjualan, Amin masih bisa menyisihkan uangnya untuk jajan lontong sayur dan menabung sisanya.

Amin cukup jauh mendahului anak-anak seusianya dalam hal usaha. Dia menanam tembakau di lahan subur tak jauh dari rumahnya. Di daerah bernama Situ Burung itu, Amin menanam setidaknya 150 batang pohon tembakau yang tumbuh bagus karena dia rawat betul-betul. Ketika panen tiba, hasilnya sangat lumayan. Amin bisa membeli jam tangan yang sangat dia inginkan dari hasil berjualan daun tembakau.

Menanam tembakau memberi banyak pengetahuan baru bagi Amin. Termasuk hal-hal apa saja yang dibutuhkan pedagang tembakau dan bisa dia sediakan. Salah satunya gebog cau, kulit pohon pisang kering. Amin sengaja mengambil kulit-kulit pohon pisang lalu menjemurnya hingga kering betul. Gebog cau itu lalu dijual ke pedagang tembakau yang memang sangat membutuhkan untuk keperluan dagangannya.

Rumah pun menjadi tempat usaha bagi Amin. Dengan rafia yang diikat pada paku-paku, bergelantunglah kerupuk-kerupuk teman makan pada tiang-tiang kayu rumah Amin, setiap hari. Mereka yang membeli kerupuk-kerupuk itu kebanyakan masih terhitung saudara sendiri. Ada yang membeli kontan, ada pula yang menghutang. Kadang-kadang, Amin membawa kerupuk dagangannya itu sembari berangkat ke sekolah. Di sepanjang perjalanan, kerupuk-kerupuk itu habis terjual.

Lama-kelamaan, Amin semakin pintar menangkap peluang usaha. Ketika dia berkunjung ke Sabagi, tempat tugas salah seorang kakaknya bernama Ceu Oneng, Amin mendapat ide brilian. Ceu Oneng tinggal di rumah milik ibu-ibu yang pandai membuat gula merah. Amin memanggil ibu ini Ma Oneh. Dari Ma Oneh, Amin membeli lima bungkus gula merah dengan dalih sebagai oleh-oleh untuk orang rumah.

Sampai di kampung, Amin menjual gula merah itu alih-alih sebagai oleh-oleh untuk orang-orang rumah. Tentu saja Amin menjualnya dengan harga sedikit lebih tinggi dibanding harga beli ke Ma Oneh. Ludes semua gula merah itu berkat kepiwaian Amin menawarkannya kepada orang-orang.

Ketika Amin menceritakan kesuksesan pertamanya kepada Ceu Oneng, kakaknya itu gembira sekaligus bangga terhadap adiknya. Ceu Oneng lantas menambah modal dagang Amin. Pada kunjungan berikutnya ke Sabagi, Amin membeli gula merah dari Ma Oneh dua kali lipat. Sepuluh bungkus gula merah ia bawa pulang dan mulai dijual. Dari Ma Oneh, Amin membeli per bungkusnya dengan harga Rp. 15 dan menjualnya Rp. 20. Jadi, dari setiap bungkus gula merah, Amin mendapat keuntungan Rp. 5.

Seperti hendak memanfaatkan semua tenaga yang ada pada dirinya, Amin benar-benar pintar melihat peluang. Pada tahun-tahun itu, di Cibeureum ada penjual keliling yang datang dari Bandung. Dagangan berupa piring, gelas, payung sampai baju-baju dijual berkeliling kampung dalam pikulan. Dua pedagang yang paling terkenal adalah Ayi Atih dan Ayi Syahrudin.

Amin kecil lagi-lagi membacanya sebagai peluang usaha. Dia menawarkan diri kepada Ayi Atih dan Ayi Syahrudin untuk memikul dagangan itu berkeliling kampung. Sebagai upahnya, Amin diberi beberapa rupiah. Uang yang terkumpul cukup bagi Amin untuk membayar uang sekolah dan jajan.

Kebiasaan Amin mencari kayu bakar dan menggembala kambing masih dia lakukan hingga saat itu. Lebih terkenang-kenang soal mencari kayu bakar karena kali ini, Amin tidak hanya mengumpulkannya dari kebun karet. Amin dan seorang kenalan bernama Ayi Udin sampai mendaki Gunung Manglayang guna mengumpulkan kayu kering. Karena letaknya jauh, Amin biasa berangkat pada dini hari dari rumahnya.

Suasana masih sangat gelap dan senyap sewaktu Amin dan Ayi Udin mulai memasuki hutan di kaki Gunung Manglayang. Terus naik ke gunung dan mengumpulkan kayu-kayu kering yang pada dini hari begitu masih terbungkus embun lembap. Shalat subuh biasa Amin lakukan di tengah hutan sembari bergelung sarung.  Pagi hari, ia mengisi perutnya dengan nasi bungkus yang ia bekal dari rumah.

Berburu Ilmu ke Majalengka

Pada tahun 1968, cerita seru tentang hari-hari Amin dengan segala usahanya yang gigih terjeda. Tahun itu, usia Amin genap 14 tahun.  Amin dikirim Abah untuk meneruskan sekolah di Majalengka. Pak Syukur, kepala sekolah tempat Amin meneruskan pendidikannya memutuskan agar Amin dimasukkan ke kelas empat. Namun, dari hasil evaluasi para guru, rupa-rupanya Amin terlalu pintar untuk duduk di kelas empat. Dalam sehari, oleh gurunya, Amin dinaikkan ke kelas lima. Lagi-lagi, guru yang mengajar Amin di kelas lima menganggap Amin tak pantas duduk di kelas lima karena semua pelajaran di kelas itu sudah dia kuasai.

Akhirnya, oleh gurunya di kelas lima, Amin dinaikkan ke kelas enam. Amin sendiri meyakini dirinya mempunya pengetahuan yang lebih dari cukup untuk duduk di kelas barunya itu. Dengan keyakinan yang bulat, juga bekal bacaan surat Yasin yang dipesan Abah, Amin kemudian menghadap kepala sekolah untuk mengutarakan keinginannya. Amin mengajukan diri agar diterima di Sekolah Guru Islam. Sebuah lompatan yang sangat jauh dibanding saat kali pertama Amin masuk ke sekolah itu.

Mempertimbangkan kemampuan Amin, kepala sekolah akhirnya menerima pengajuan Amin. Dimulailah babak baru kehidupan Amin. Ketika menjadi murid sekolah guru, Amin memiliki dua sahabat karib, Ujang dan Syamsudin. Keduanya berasal dari Pasir Kunci, Ujung Berung, Bandung.

Kedua kawannya itu tinggal di rumah kos yang cukup memadai. Biaya tinggal di kos pada waktu itu seharga Rp1.500 dan 20 liter beras per bulan. Bagi Amin, biaya itu terlalu besar untuk ditanggung. Oleh karena itu, dia bertekad mencari tempat tinggal yang lebih murah. Sambil menenteng koper besi yang dia cat sendiri dengan warna hijau, Amin mencari-cari tempat tinggal sesuai kebutuhannya.

Pada akhirnya, Amin memilih tinggal di asrama Persatuan Umat Islam (PUI) supaya bisa menekan pengeluaran. Bahkan, untuk keperluan makan, Amin tidak membeli di luar. Dia memasak sendiri makanannya sehari-hari. Sejak saat itu, setiap malam, Amin belajar ilmu agama kepada KH Abdul Wahab. Secara mandiri, dia juga mempelajari sendiri Ilmu Nahwu, Ilmu Sharaf, dan kitab Fathul Qarib.

Amin mengisi waktunya selama dua tahun di Sekolah Guru Islam (SGI) PUI Majalengka dengan berbagai kegiatan keilmuan. Setelah itu, dia pindah ke pesantren Hidayatul Muta’allimin, pimpinan K.H. Abdurrahman atau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Edun. Amin berguru juga kepada K.Syakur, K.H. Yasin Basyuni dengan deretan kitab yang dipelajari antara lain Al-Amtsilah At-Tashrifiyah, Ta’limul Muta’alim, Fathul Qarib, Kifayatul Awam, Fathul mu’in, dan lain sebagainya.

Selama di Majalengka, Amin terlibat dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Di sana, Amin dipercaya menjadi seksi koperasi. Bakat dagang Amin kembali terasah pada waktu-waktu ini. Dia lagi-lagi ke luar masuk hutan untuk mencari kayu bakar dan buah-buahan. Sampai-sampai, Amin mendaki Gunung Margatapa untuk memenuhi kebutuhan itu.

Dia juga kembali berjualan berbagai kebutuhan sehari-hari dengan konsumen teman-temannya seasrama. Salah satu barang dagangannya adalah minyak tanah. Sedangkan jika kesempatan pulang datang, Amin berbelanja kecap di Majalengka dan dijualnya di kampung halaman.

Hari-hari penuh prihatin itu Amin alami selama beberapa tahun. Setiap hari dia mencukupkan kebutuhan perutnya dengan nasi berlauk ikan asin, kecap, dan toge. Jika ada uang lebih dari hasil berdagang, baik-baik dia simpan. Setelah terkumpul, uang itu ia belanjakan untuk membeli sarung, baju, atau kitab. Jika sedang benar-benar tidak memiliki uang, Amin mesti menahan diri untuk tidak melakukan pengeluaran sama sekali. Suatu kali, Amin pernah pulang ke Sumedang dengan menumpang truk pengangkut beras menuju Bandung. Amin diturunkan di tengah jalan, di kawasan Citali, tengah malam.

Dari Citali, Amin berjalan kaki menuju Cibeureum melewati persawahan, rumah penduduk, hingga kuburan. Tidak langsung ke rumah, Amin kemudian mampir di tajuk dan tidur di sana. Subuh-subuh, Abah yang biasa shalat di tajuk membangunkan Amin, mengajaknya shalat berjamaah sebelum pulang bersama-sama.

Di asrama sendiri, hari-hari Amin tidak selalu berjalan tenang dan menyenangkan. Kejahilan teman-teman seasrama kadang sudah sangat keterlaluan. Tanpa alasan pasti, seringkali Amin diganggu dengan kelakuan yang tidak pantas. Beberapa kali, ketika sedang menghafal isi kitab Alfiyah Ibnu Malik di kamar, aliran listrik diputus dari luar. Dalam gelap, tentu Amin tidak bisa meneruskan kegiatannya.

Masakan Amin tak luput dari keisengan teman-teman satu asramanya. Ada waktunya, nasi liwet yang sedang ia tanak ditaburi pasir oleh mereka. Keisengan yang tidak jelas di mana letak kelucuannya. Lama kelamaan, Amin merasa tak lagi bisa memberi toleransi dengan serangan-serangan semacam itu.

Ke Bandung

Suatu pagi, selepas shalat subuh, sewaktu usianya mendekati 18 tahun, Amin kabur dari asrama di pesantren Hidayatul Muhtadin pulang ke Sumedang. Kepada Abah, Amin minta dipindahkan ke pesantren lain karena sudah tidak tahan dengan perlakukan buruk teman-teman seasramanya. Abah lalu memindahkan Amin ke Pesantren Sukamiskin, Bandung.

Dua tahun belajar agama di Majalengka hingga kelas III SLTP, Amin melanjutkan tahapan hidupnya di Bandung. Tujuan hijrahnya ke Bandung saat itu ingin langsung mengikuti ujian Pendidikan Guru Agama (PGA) di Cicaheum. Sambil menunggu waktu ujian tiba, Amin ikut belajar di PGA Kifayatul Akhyar, Cipadung, Bandung. Masa belajar yang normalnya ditempuh dalam 6 tahun, Amin justru merampungkannya hanya dalam tempo 4 bulan. Usai masa itu, Amin lalu hijrah ke Cicalengka.   

Amin tinggal di rumah Ayi Endang di kawasan Andir, Ujung Berung selama tiga bulan.  Keinginan belajar dalam diri Amin tak ada habisnya. Setiap Ramadhan, Amin berangkat ke Cicalengka, Bandung Selatan. Di sana dia mengikuti pesantren kilat di Pesantren Al Falah asuhan KH Amad Syahid. Masih di Cicalengka, Amin memenuhi kehausannya akan ilmu dengan belajar Al Qur’an ke Pesantren Kebon Kapas pimpinan KH. Amin.

Pendidikan Amin kemudian berlanjut ke kelas IV PGA. Selama belajar di PGA Cicaheum, Amin mulai mempelajari ilmu-ilmu mantiq yang membuat wawasan keilmuannya kian luas dan berimbang. Setiap lepas tengah malam, dia belajar ilmu logika itu dengan rujukan kitab Idhahul Mubham langsung dengan Mama Ajengan Adi, pengasuh Pondok Pesantren Sukamiskin. Selain ilmu mantiq, Amin juga mempelajari ilmu Fiqih dari kitab Fathul Qarib kepada Ajengan Yahya. Mulai saat itu, Amin juga mulai mengajar anak-anak yang belajar di madrasah pesantren sebagai pengganti Kang Enting yang biasa mengasuh anak-anak tersebut.

Kehidupan sehari-hari Amin di Pesantren Sukamiskin tak beda jauh dengan keadaannya di Majalengka. Amin mesti pandai-pandai mengatur keuangan dan kebutuhan hidupnya. Setiap pergi ke PGA Cicaheum dari pesantren, Amin mesti berjalan kaki. Untuk makan sehari-hari pun, Amin meski memutar otak agar dia bisa bertahan. Abah di kampung memang harus bekerja keras untuk bisa memenuhi kebutuhan Amin di perantauan. Sebab, pada saat yang sama, Abah harus membiayai kakak Amin; Adang, yang sedang belajar di Pesantren Gontor, Jawa Timur.

Saking beratnya keadaan saat itu, Abah pernah mengirimi Amin beras hijau yang belum siap panen. Padi itu dipanen sebelum waktunya kemudian dikukus dan dijemur. Setelah kering baru ditumbuk.  Beras inilah yang dikirim Abah untuk makan Amin sehari-hari. Tak jarang, selama tiga bulan tinggal di Sukamiskin, Amin sering mengalami sakit lambung karena perutnya sering kosong atau ia isi dengan makanan keras sedangkan sebelumnya dalam keadaan kosong.

Keadaan yang tak kunjung membaik itu kemudian menjadi alasan Amin untuk kembali berpindah tempat belajar. Amin pergi dari Sukamiskin ke Santiong untuk belajar di pesantren Al-Hidayah yang dipimpin Mama Ajengan Emed. Di sana, Amin belajar kitab Riyadl Ash- Shalihin dan Fathul Mu’in.

Pada waktu itu, keadaan Amin, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan makannya terpenuhi dengan baik.  Karena letak pesantren ini tak jauh dari rumah Ceu Oneng, makan sehari-hari Amin ditanggung kakak perempuannya itu. Jika sekali waktu Amin sangat ingin jajan, dia menukar beras dari dapur Ceu Oneng dengan jajanan warung.

Ngaji ke Garut

Pada Oktober 1973, sewaktu usianya telah lewat 19 tahun, Amin memutuskan melanjutkan belajar agamanya ke Garut. Tepatnya di Pesantren Riyadhlul Alfiyah, Sadang, Wanaraja, Garut. Dia berangkat dengan bek al 15 liter beras. Agar bekal tersebut cukup untuk menutup kebutuhan selama satu bulan, Amin lalu menitipkannya kepada pemilik warung di dekat pesantren.

Setiap hari, Amin mengambil “titipan” nya itu dalam bentuk sepiring nasi,  sambel, tempe, ikan asin, dan sayur. Hanya sekali sehari. Repot sekali ketika masa “penitipan” selama satu bulan telah lewat, tetapi Amin belum juga punya bekal untuk lanjut ke bulan setelahnya.

Kiriman dari Abah memang tidak akan pernah datang jika saja Amin tak pernah memberitahukan kepindahannya ke Garut. Ketika berangkat dari Bandung dan memutuskan melanjutkan belajarnya ke Garut, Amin tidak mengabari Abah sama sekali. Itulah mengapa tak ada kiriman dari kampung pada bulan kedua setelah Amin tinggal di Garut.

Begitu tahu Amin sudah tidak lagi di Bandung, Abah sangat kaget dan keheranan. Pada akhirnya, Abah memahami keputusan Amin dan mendukungnya. Untuk kebutuhan bulan kedua Amin di Garut, Abah akhirnya mengirimi Amin 15 liter beras dan sedikit ongkos.

Meski sekadarnya, Amin bersyukur dengan keadaan itu dan menikmati hari-harinya di Garut. Karena waktu itu bertepatan dengan Ramadhan,  tak seperti keluarga Muslim kebanyakan yang berbuka dengan macam-macam makanan, Amin mencukupkan dirinya dengan menu air putih untuk membatalkan puasanya. Baru pada tengah malam, usai pengajian Alfiyah, dia bisa makan nasi yang dilanjut dengan sahur air putih atau kadang sama sekali tidak sahur.

Keadaan ini membuat fisik Amin sangat kurus. Jika ia melilitkan handuk besar di pinggangnya, itu tidak cukup untuk menahan celananya agar tidak melorot sakit kecil badannya. Namun, keadaan itu tidak membuat kecerdasan Amin berkurang. Dia tetap menjalani tahapan belajarnya dengan semangat. Dia mempelajari rujukan tertinggi dalam ilmu nahwu yakni Alfiyah Ibnu Malik dengan baik. Amin mempelajarinya hanya dalam waktu tiga bulan melalui metode pasaran. Semacam semester pendek di bangku kuliah.

Melambung di Cipasung

Terus menerus menggali ilmu agama, Amin seperti selalu kehausan mencari sumber-sumber baru. Pada tahun yang sama dengan kedatangannya ke Garut, Amin lalu pindah lagi ke Tasikmalaya. Seorang teman bernama Asep Jamaludin yang dikenal Amin di pesantren Garut membantu Amin saat mendaftar di pesantren baru yang terletak di Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya itu. Amin kemudian tinggal sekamar dan sekelas dengan Asep. Untuk makan, keduanya memenuhi kebutuhan masing-masing. Amin biasa membagi jatah sarapannya menjadi dua. Dimakan pagi setengah, sisanya untuk sore, ketika nasinya sudah dingin dan keras.

Selama empat tahun di Cipasung, Amin belajar langsung kepada Kiai Ilyas Ruhiyat, pemimpin pesantren tersebut. Amin mendalami Jam’ul Jawami’ dalam bidang ushul fiqih sampai dua kali khatam. Di tempat yang sama, Amin menamatkan pembelajaran Mughni Labib dalam bidang Nahwu dan SharafJauhar Maknun dan Uqudul Juman dalam bidang ilmu balaghah, juga Syu’abul Iman dalam bidang tauhid.  Minhatul Mughits dalam bidang ilmu Hadits, Fathul Wahhab dalam bidang fiqih, Rohbiyah dalam bidang ilmu waris, dan kitab kajian lain seperti Al-Luma’Bulugul Marom, hingga Kifayatul Akhyar pun ia pelajari.

Kuliah tanpa Ijazah SLTA

Totalitas Amin dalam mempelajari berbagai ilmu di pesantren-pesantren sebelumnya berbuah manis. Kiai Ilyas menganggap Amin telah layak belajar di tingkat universitas meskipun ia belum memiliki ijazah SLTA. Amin diterima di Fakultas Tarbiyah Perguruan Tinggi Ilmu Agama Cipasung tingkat satu setelah lulus tes saringan masuk. Agar proses belajarnya di perguruan tinggi didukung dokumen formal, Amin pun mengikuti ujian persamaan di PGAN selama 6 tahun di Sumedang.

Tak berapa lama kemudian, kehidupan Amin mulai beranjak membaik. Di Asrama Pusaka Pesantren Cipasung, Amin terpilih menjadi rais atau ketua. Posisi barunya ini cukup membantu Amin untuk setidaknya bisa makan cukup setiap hari. Sebab, dia mendapat kemudahan dari ibu kos yang merasa terbantu karena Amin mendaftarkan banyak santri baru untuk makan di Ibu Kos. Setahun kemudian, “jabatan”  Amin kian mantap. Dia terpilih menjadi seksi mubalighin tingkat Rais Am yang meliputi seluruh asrama di Pondok Pesantren Cipasung.

Sarjana Muda

Setelah melewati masa empat tahun belajar di Pesantren Cipasung, Amin kemudian mengikuti Ujian Negara tingkat sarjana muda dan langsung lulus.  Amin mengambil kesempatan emas itu dengan melanjutkan studinya ke IAIN Sunan Gunung Jati di Bandung tanpa tes. Keputusan ini harus digadai dengan cita-cita Amin sebelumnya yang sangat ingin melanjutkan pendidikannya di Al Azhar, Mesir.


Meski batal pergi ke Negeri Piramid, Mesir, Amin telah melakukan pilihan yang tepat. Amin kemudian berpamitan kepada semua orang yang selama bertahun-tahun menyokongnya dengan doa, semangat dan motivasi, termasuk Kiyai Ilyas dan guru-guru lain di Pesantren Cipasung.

Sebelum pergi ke Bandung, Amin menyempatkan diri pulang ke Sumedang untuk pamit kepada orang tua dan keluarganya.


Abah Cipasung membekali Amin dengan pesan yang tak pernah dia lupakan: shalat di awal waktu, membaca Al Fatihah untuk Abah, dan membaca Al Qur’an 50 ayat setiap hari, agar ilmu yang dipelajari manfaat dan penuh berkah.

Sementara dari K.H. Ilyas Ruhiyat penerus Abah, menitipkan pesan ini, “Di mana urang mukim, kade Min titip NU (Bila nanti mukim, membuka pesantren, ingat Min titip NU)” . Pesan ini kelak terus terngiang dalam telingan Amin sampai puluhan tahun setelahnya menjadi Rais ‘Am PCNU Kabupaten Purwakarta.



Kuliah di Bandung

Amin mengawali kuliah di IAIN Bandung sebagai mahasiswa semester IV jurusan Pendidikan Agama Islam pada Fakultas Tarbiyah. Amin menumpang di rumah Eteh Haji di Cinunuk, tak jauh dari kampus. Setiap hari, Amin bangun sebelum shalat Subuh untuk menyapu dan mengepel seluruh rumah. Selama enam bulan Amin menjalani keseharian itu. Sampai kemudian, Amin pindah ke sebuah kamar di atas madrasah milik Mang Empud di samping SPBU Cinunuk.

Waktu itu, Amin mulai rutin mengajar di Tsanawiyah Kifayatul Akhyar, Cipadung dan di PGA Ma’arif, Cicalengka, Bandung. Selain sebagai media pengikat ilmu, kegiatan mengajar ini membantu Amin untuk menutup kebutuhannya sehari-hari dan kuliah. Amin juga mulai bisa mengirim uang ke kampung untuk membantu biaya sekolah Ecep, adiknya yang bersekolah SMA Cipasung. Dia juga mengikuti arisan yang  akan sangat membantu urusan pernikahannya setahun kemudian.

Selama kuliah di Bandung, Amin aktif dalam organisasi Ikatan Pemuda Nahdatul Ulama (IPNU) Kabupaten Sumedang. Melalui aktivitas keorganisasin ini pula Amin bersahabat karib dengan Akun Masykur, putra bungsu ulama besar yang kharimatik dari Sumedang, K.H. Muhammad Syatibi. Dia juga menjadi aktivis Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat sebagai sekretaris bidang Kebudayaan.  Keilmuwan Amin mulai dipercayai masyarakat secara luas. Setiap shalat Jumat, dia menjadi khatib di masjid Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Seskoad.

Ke Purwakarta

Perjalanan Amin menuju titik lompatan besar dalam hidupnya dimulai ketika dia berkunjung ke Purwakarta dua bulan sebelum pernikahannya. Amin datang ke Purwakarta untuk bersilaturrahim dengan K.H. Ubaidillah Alawi, ayah dari Euis Marfu’ah yang kemudian menjadi istrinya. Kedatangannya diterima langsung K.H. Alawi yang akrab ia panggil Abah Alawi. Kunjungan istimewa itu oleh Abah Alawi dianggap sebagai khitbah karena rupanya tak ada keraguan mengenai kualitas dan kesungguhan sang calon mantu. Padahal, Amin bahkan belum merampungkan kuliah S1 nya karena masih menunggu ujian akhir dan skripsi.

Dua bulan setelah kunjungan istimewa itu, Amin menyempurnakan niatnya dengan memboyong Abah, Emah, dan Ceu Oneng dari Sumedang. Mengira hanya akan ada pertemuan dua keluarga, Amin dan keluarganya kaget bukan main ketika tahu keluarga Abah Alawi sudah menyiapkan sebuah syukuran pernikahan. Amin pun kemudian ditanyai oleh Abah mengenai kesiapan dan kesanggupannya untuk menikah. Karena anak laki-lakinya itu menyatakan kesanggupannya, akad nikah antara Amin yang kemudian dipanggil Abun Bunyamin dengan Euis Marfu’ah pun disahkan. Tepatnya tanggal 9 Desember 1978, Amin melamar gadis pilihannya itu dengan mas kawin kalung emas sepuluh gram yang ia beli dari hasil arisan.

Nama Abun di depan Bunyamin sendiri merupakan jejak kreatif Amin di masa remajanya. Belasan tahun setelah masa kanak-kanaknya terlewati, seperti halnya kebanyakan remaja yang tengah mereka-reka identitas dirinya, Ade Bunyamin pun mengalami hal yang sama. Bermula dari keisengan belaka, Ade menambahkan nama Abun di depan namanya. Kependekan dari nama lengkapnya: Ade Bunyamin.  Kelak, nama Abun Bunyamin kemudian jauh lebih dikenal luas dibanding nama-nama sebelumnya.

Ijab kabul pada hari istimewa itu dilaksanakan dengan bahasa Arab. Amin tak repot memikirkan mas kawin, karena sebelumnya dia telah menitipkan kalung emas sepuluh kilogram kepada Euis begitu mendapat uang arisan. Tak heran jika Abah Alawi merasa yakin pada kesungguhan Amin dan menginginkan pernikahan bisa segera disahkan.

Sampai pernikahannya, Amin belum berpindah ke Purwakarta oleh karena kuliahnya yang belum selesai jugak aktivitas lain yang masih harus dia selesaikan di Bandung. Sebagai gantinya, Amin secara rutin pulang ke Purwakarta sebulan sekali. Namun, meski secara kuantitas tak terlalu sering bertemu, sebuah semangat telah menular dari Abah Alawi kepada Amin: semangat untuk melahirkan sebuah pesantren.

Sejak kali pertama bertemu disambung dengan pertemuan bulanan itu, Amin terus menerima transfer semangat dan cita-cita Abah Alawi untuk mewujudkan cita-cita lamanya. Abah Alawi pernah memimpin sebuah pesantren di Samoga, Cisalak, Subang sebelum tahun 60-an. Pesantren itu musnah dibakar oleh gerombolan misterius.

Sejak saat itu, Abah Alawi terus memelihara mimpi dan hasrat besarnya untuk menghidupkan kembali tradisi pesantren yang pernah ia mulai. Bertemu dengan pemuda Amin membuat semangat itu kembali menyala.  Ketika akhirnya Amin lulus ujian skripsi, Abah Alawi menyampaikan nasihat yang kemudian menjadi penyemangat bagi Amin untuk benar-benar menuntaskan cita-cita Abah Alawi. “Sekarang, kita bersyukur telah diberi gelar oleh manusia, tinggal gelar dari Allah yang baik yang harus didapatkan. Abah sangat mendoakan kalian,” ujar Abah Alawi pada syukuran kelulusan Amin ketika itu.

Setahun setelah pernikahannya, Amin diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Agama dan ditugaskan di Sekolah Tehnik Menengah (STM) Negeri Purwarkata. Gayung bersambut. Penugasan tersebut sangat cocok dengan agenda hidup Amin setelahnya. Dia pun sempurna berhijrah ke Purwakarta. Bekerja untuk negara sekaligus mempersiapkan cita-cita besarnya, sebuah pesantren.

Bagian 2

Kekuatan Do’a Multazam (1980 – 1995)

Percetakan Cita-Cita

Tahun 1980, Amin mengontrak sebuah rumah di Gang Beringin, Purwakarta. Kontrakan yang sederhana. Ranjang tanpa kasur, bangku, lemari bekas kuliah, gelas, piring, kado dari mereka yang menghadiri syukuran pernikahan Amin dibawa ke kontrakan baru itu. Termasuk selembar sarung samarinda pemberian Abah Alawi yang menjadi kenang-kenangan bagi Amin. Pada bulan Mei di tahun itu, putri pertamanya lahir di sana dalam segala kebersahajaan. Amin lalu menamainya Ifa.

Ketika putri pertama Amin dan Euis telah hampir berumur satu tahun, keadaan ekonomi pasangan muda ini mulai membaik. Amin mulai mampu membeli bata, batu, dan kayu. Semua dikumpulkan sedikit-sedikit untuk membangun sebuah rumah sederhana di samping rumah Abah Alawi di Kebon Kolot, Purwakarta.

Menyusul putri pertama mereka, tahun 1981 lahir putri kedua pasangan pejuang pendidikan ini dan diberi nama Zahra Haiza Azmina yang dipanggil Dede sedari bayi. Ketika Dede telah genap enam bulan, rumah di samping Abah Alawi sudah selesai dibangun, meski belum sempurna. Amin pun memboyong keluarga kecilnya dari Gang Beringin, pindah ke rumah baru mereka yang belum dipasangi kaca, tanpa langit-langit, dan belum berlantai sempurna.

Amin dikaruniai kemudahan dalam hal keturunan. Dua tahun setelah Dede lahir, adiknya menyusul. Putri lucu yang diberi nama Kiki Zaqiah, lahir tahun 1983.  Ketika Kiki berumur enam bulan, Amin kembali mendapatkan momentum yang melecutnya untuk semakin bersungguh-sungguh merealisasikan pembangunan pesantren.

Motivasi Wa Ajengan

Momentum itu datang ketika Amin mengikuti  pasaran di Pesantren Muftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya. Selama empat puluh hari, Amin belajar kepada Ua Ajengan, panggilan akrab K.H. Khoer Afandi pucuk pimpinan pesantren terbesar di Jawa Barat itu. Pasaran ini sekaligus bukti kecintaan yang tinggi terhadap ilmu. Bukan hanya sudah beristeri, tetapi Amin sudah dikarunia tiga putri yang masih belia. Dalam seperti itu, semangat belajarnya tak padam oleh kesibukan.

Sepulang dari Manonjaya, semakin rapi saja Amin merencanakan cita-citanya. Amin semakin mantap untuk meneruskan perjuangan para ulama lewat pendirian sebuah pesantren. Pergerakan pertama yang ia lakukan adalah membuka percetakan Hand Press dengan modal delapan ratus ribu pinjaman dari BPD Jabar Purwakarta. Keterampilan Amin dalam hal wirausaha sedari kecil benar-benar teruji ketika itu. Dari hasil percetakan itu, Amin mampu membeli tanah di samping rumahnya, di Gang Alamanda, Gang Soka, Sukamulya, di Jalan Veteran Nomor 155, di Ciseureuh dekat kampus Madrasah Aliyah Negeri Purwakarta, dan di Bendul. Usaha percetakan itu kian menggurita. Tahun 1987, Amin telah merambah bisnis toko ATK, copy centre dengan empat mesin photo copy merek Agfa.

Dakwah di Wanayasa

Sebagai seorang sarjana yang lulusan pesantren, tentu saja pikiran utama Amin adalah tentang pendidikan dan umat. Usaha photo copy dan percetakan tidak membuatnya lupa dari dari tugas membina umat. Setahun setelah kelahiran putri bungsunya, Amin mengembangkan pendidikan di daerah Wanayasa melalui penugasan sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah YPMI. Sebelumnya, Jebolan Cipasung dan Manonjaya ini, dipromosikan sebagai kepala MTs Negeri Purwakarta. Hijrah rupanya telah ditakdirka lekat dengan ayah dari Ifa, Dede, dan Kiki ini.

Dari tahun 1984 sampai 1988, Amin akrab dengan masyarakat Wanayasa. Bukan sekadar mengurusi madrasah tempatnya bertugas, tetapi juga mencerahkan masyarakat melalui pengajian-pengajian. Demi, cita-cita membangun pesantren yang telah terpatri dalam dadanya, Amin beberapa kali mengajukan mutasi dari daerah terdingin di Purwakarta itu. Ijin pindah tempat kerja tak kunjung didapatnya. Solusi cerdas segera dirancangnya.

 Mendirikan Al-Wathon

Amin menyiapkan tempat barunya sendiri. Tahun 1987 dibelinya sebidang tanah di daerah Bendul Sukatani seluas dua patok setengah, setara dengan 1000 m2. Di atas lahan ini kemudian dibangun satu kelas ruang belajar. Itulah MTs Al-Wathon. Lembaga pendidikan pertama yang Amin bangun. Madrasah cikal ini diperluasnya lagi dengan membeli tanah seluas 1500 m2. Untuk semua itu, Amin dan isteri harus merelakan simpanannya untuk berangkat haji terpakai. Ya, semua biaya tanah dan pembangunan madrasah itu seratus persen dari saku pribadi Amin. 

Pada tahun 1989, hasil usaha Amin yang disimpan dalam bentuk tabungan telah bernilai sepuluh juta rupiah. Jumlah fantastis pada dekade itu. Tak sabar rasa hati Amin untuk segera memulai pembangunan pesantren. Agar lebih mantap hatinya, Amin pun berkunjung ke K.H. Drs. AF Ghazali, SH di Bandung, seorang ulama kharismatik dan amat terkenal di Jawa Barat. Beliau adalah seorang mubaligh ulung dengan retorika yang sangat khas dalam bahasa Sunda yang amat menyentuh rasa dan mudah dicerna.

Dari sang kiai inilah, Amin menerima sebuah masukan yang sangat menghunjam hatinya. Amin disarankan menggunakan tabungan tersebut untuk naik haji terlebih dahulu. “Mendirikan pesantren adalah tugas semua orang sedangkan ibadah haji adalah fardlu ain yang menjadi tugas pribadi,” saran Kiai Ghazali. Amin pun mengiyakan saran tersebut dan segera menyiapkan keberangkatannya ke Mekkah. Namun, ternyata azam untuk pergi menitipkan cita-cita di Multazam tak jadi dilakukan tahun itu. Dana yang sudah disiapkan sudah habis terpakai membangun Al-Wathon.

Rindu Puluhan Tahun yang Terbayar

Saat putri bungsunya berusia 7 tahun, kerinduan Amin kepada Ka’bah menjadi kenyataan. Kerinduan yang telah ditanamnya saat berumur 10 tahun nun jauh di kampung halamannya. Rindu Ka’bah yang menyelinap, bersemayam dan mekar saat seorang juragan tahu di kampungnya berangkat haji dengan diiringi tabuhan qasidah. Rindu yang terbayar meski dengan berat hati meninggalkan anak-anak yang belum dewasa. Ifa baru berumus 10 tahun, Dede 9 tahun, dan si bungsu, Kiki 7 tahun. Tetapi, bekal tauhid dari Abah Ruhiyat dan Uwa Ajengan memantapkan hati Amin tanpa sedikitpun khawatir dan cemas.

Di titik Multazam, antara Hajar Aswad dan pintu Kabah, Amin dan istrinya meminta kepada Allah agar cita-cita mereka mendirikan pesantren bisa terwujud. Do’a di penghujung Al-A’raf ayat 89 berikut inilah

عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَاۚ رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰتِحِينَ ٨٩

  Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya

Doa itu terus menerus dibaca oleh Amin dan mendatangkan keyakinan yang amat kuat di dadanya.

Ibadah haji pertama Pa Abun menyisakan cerita dan hikmah yang besar untuk perkembangan Al-Muhajirin. Berangkat dengan isteri tercinta, Pa Abun menyaksikan bagaimana penataan yang kurang dalam ibadah haji tahun itu. Jamaa’ah yang banyak hanya dipandu oleh satu orang pembimbing. Ada juga petugas yang sama awamnya dengan jama’ah karena belum pernah ibadah haji. Akibatnya banyak jama’ah yang nyasar dan tidak sampai ke Masjidil Haram untuk thawaf. Ada yang sampai tapi bisa sa’i. Bahkan ada jamaah yang sa’i duluan sebelum thawaf. Sejak saat itulah tekadnya untuk mengakan bimbingan ibadah haji bergelora di dada Pa Abun.

Dalam perjalanan haji ini, Pa Abun yang memimpin 11 orang jama’ah, sangat mensyukuri mobil mogok yang dinaikinya bersama-sama menuju Mina. Apa pasal? Peristiwa tragis yang merenggut sekitar 700 nyawa jamaah haji terjadi pada musim haji tahun itu. Tabrakan sesama jamaah di terowongan Muasim adalah penyebabnya. Andai saja mobil yang dinaiki pa Abun saat itu melaju lancar dan masuk terowongan, namanya akan tercatat sebagai bagian dari 700 syahid Mina. Sungguh mogok yang menyelamatkan.

Pa Abun akhirnya memilih langsung ke Mekah untuk thawaf, sa’i dan cukur rambut. Di sewanya mobil bak terbuka dari Mina menuju Mekah. Jama’ah lain dari Purwakarta yang sudah mabit terlebih dahulu di Mina, berharap-harap cemas. Karena lama tak kunjung, mereka mengira pa Abun dan isteri menjadi korban tragedy Mina. Begitu sore hari Pa Abun, isteri dan jama’ah muncul di tenda, terharulah semua jama’ah. Pa Abun selamat.

Sepulang dari berhaji, pintu-pintu menuju cita-cita mendirikan pesantren terbuka lebar. Segala kemudahan tampak begitu dekat dan mengalir tanpa penghambat. Maka, pesantren itu pun cepat dan pasti mulai berdiri. Nama Amin muda, sang pendiri, telah berubah menjadi KH. Abun Bunyamin. Ditemani isteri tercinta, Dra  Hj. Euis Marfu’ah, melangkah bersama-sama mewujudkan cita-cita besarnya.

Perjalanan haji pertama ini sekaligus meretas jalan Pa Abun dalam urusan pembinaan haji untuk umat di waktu-waktu mendatang. Al-Muhajirin di bawah kepemimpinan Pa Abun muda menjadi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji pertama dan terbesar di Purwakarta.

Mendirikan TKA dan TPA

Doa yang tak berkesudahan di titik Multazam pada tahun-tahun setelah K.H. Abun Bunyamin menunaikan ibadah haji seperti anak kunci yang kemudian membuka pintu-pintu kemudahan.  Pada 3 Januari tahun 1991, Taman Kanak-Kanak (TKA) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) mulai berjalan. Belum ada gedung khusus yang dindingnya bergambar lucu atau halamannya dipenuhi wahana-wahana permainan. TKA dan TPA yang menjadi cikal bakal pesantren itu masih memanfaatkan rumah Pak Abun, panggilan KH Abun Bunyamin, di Jalan Veteran No 155, Purwakarta. Sebuah pendidikan anak yang benar-benar berbasis rumah.

Praktiknya, bukan cuma berfungsi ganda sebagai tempat tinggal dan bersekolah, rumah Pak Abun juga menjadi tempat usaha percetakan yang terus berkembang. Pada awalnya, hanya ada 200 siswa di TKA dan TPA itu. Sedangkan gurunya berjumlah tujuh orang. Mereka adalah Olis Setiawati, Tajuddin, Irham Musafir, Karsana, Hamidah, Bu Muksin, dan tentu saja Abun Bunyamin dengan Euis Marfu’ah. Kelak, TPA/TKA ini menjadi prototipe TPA/TKA di Jawa Barat.

Tahun 1991, TPA/TKA Al-Muhajirin adalah satu-satunya lembaga pendidikan pra sekolah yang dikelola dengan serius dan konsep yang kuat. Tidak mengherankan jika kepercayaan masyarakat kian menguat dalam waktu singkat. Jumlah anak yang bersekolah di TKA ini meningkat sangat fantastis pada waktu-waktu setelahnya.

Pada perkembangannya, jumlah siswa TKA ini mencapai 470 anak sedangkan guru-gurunya baru berjumlah 12 orang. Perkembangan yang luar biasa ini tentu diikuti dengan kebutuhan akan lokasi dan bangunan yang lebih memadai. Bergulirlah ide dan pelaksanaan pembangunan gedung TKA/TPA sebagai langkah majunya.

Bermula dari Mesjid

Pada rentang waktu yang hampir bersamaan, sebuah masjid di Perumahan Oesman Singawinata, Purwakarta tengah dibangun. Masjid jami yang diberi nama Al-Muhajirin itu kepanitiannya diketuai Pak Abun. Saat itu posisi ketua RW di kawasan tersebut juga dijabatnya. Alamat kepercayaan masyarakat makin lekat dengan dirinya.  Sekitar bulan April pada tahun yang sama, berkumpullah para panitia pembangunan masjid tersebut di rumah Pak Abun untuk berdiskusi mengenai keberadaan masjid dan proyek lain yang kelak akan membuat kawasan tersebut dikenal khalayak luas.


Para tokoh ini antara lain: H. Canondeng, H. Sukarna, SH, Drs. Wasmin Wiryana, Bambang Suntaryono, Hartadi, Drs. Amin Muksin, Deden Jaenudin, dan Pak Abun sendiri. Dalam pertemuan itulah kemudian ide mengenai pendirian sebuah pondok pesantren benar-benar terlisankan. Tukar pendapat dalam diskusi yang hangat akhirnya membulatkan kesepakatan di antara mereka. Semua sepakat bahwa ide pendirian pesantren harus diperjuangkan.

Langsung ke sasaran, obrolan yang awalnya santai itu mengerucut tak hanya perihal bentuk pesantren yang menggabungkan unsur modernitas dan tradisional namun juga memunculkan nama yang kemudian dipakai hingga berdekade kemudian: Al-Muhajirin. Nama yang sama dengan masjid jami yang tengah dibangun. Orang-orang yang sama, semangat yang sama, dan nama dua entitas yang juga sama.

Setahun perjuangan itu diupayakan, tidak ada hasil yang signifikan. Bahkan hampir gagal. Untuk membangun pesantren, pertama-tama tentu saja urusan lahan yang harus disiapkan. Kerja keras panitia selama satu tahun itu baru bisa mengumpulkan dana lima ratus ribu rupiah. Sangat jauh dari cukup untuk membeli tanah yang telah dipilih lokasinya dengan harga 15 juta rupiah. Tanah di Gang Kenanga II seluas 3100 mmiliki Haji Syahri dan Ibu Tuti Djuhati.

Selain masalah harga, lokasi tanah tersebut masih menyisakan masalah. Tidak ada akses jalan untuk menjangkaunya. Pertolongan Allah swt datang tanpa diduga. Adalah Wa Arkat Adireja yang Allah swt pilih sebagai sebab. Pensiunan Brimob ini merelakan 120 m2 dapurnya hilang demi akses jalan menuju lahan cikal bakal pesantren Al-Muhajirin. Sebab lainnya yang Allah swt hadirkan adalah Wa Brata yang merelakan tanahnya seluas 200 m2 dibeli oleh panitia pembangunan pesantren. Benar-benar pertolongan Allah swt, karena sebenarnya si Uwa sudah melakukan kesepakatan jual beli dengan Pa Warsan. Tetapi niat baiknya untuk membantu pesantren membuatnya tak ragu membatalkan penjualan tersebut. Di runut ke belakang, ternyata kedua sepuh ini adalah jama’ah pengajian Pa Abun di Mesjid Agung sejak tahun 1984.  

Permasalahan ternyata belum tuntas. Uang 500 ribu yang dikumpulkan panitia hanya untuk membayar uang muka kepada pa Syahri. Bukan hanya itu, pa Syahri pun barangkali karena melihat pa Abun yang tidak siap dengan uang kontan, menyodorkan surat perjanjian. Isinya, sisa 14,5 juta lagi harus lunas dalam 6 bulan. Bila tidak, maka uang muka tidak bisa diambil lagi. Bukan perkara mudah menyepakati perjanjian tersebut. Pada momentum itulah, pa Abun merasakan hikmah besar dari masa dakwahnya di Wanayasa selama empat tahun.

Drs. H. Suherman Saleh yang akrab disapa Uda Herman adalah hikmah terpendam itu. Kepada Uda inilah, mantu Abah Alawi ini meminta saran perihal surat perjanjian tersebut. Dengan kesiapan membantu dana pinjaman untuk pelunasan pembayaran tanah kepada pa Syahri, Uda menyarankan agar perjanjian tersebut ditandatangani saja. Sebagai kepercayaan atas pinjaman tersebut, pa Abun menjaminkan tanah seluas 400 m2 di Jl. Veteran Ciseureuh, persis di depan MAN sekarang.

Enam bulan dari masa penandatanganan surat perjanjan itu lewat sudah. 31 Desember 1992, ternyata 14,5 juta untuk melunasi hutang gagal terkumpul. Pa Abun kembali menemui Uda Herman. Keyakinannya kepada pertolongan Allah swt berbuah manis. Pulang dari Uda, uang 15 juta berhasil dibawa pulang. Tanah seluas seluas 3100 m2 itu pun sah menjadi miliknya. Di sanalah kelak kampus pusat Al-Muhajirin berdiri tegak. O, barangkali ini jawaban do’a Multazam itu.

Perihal Nama Al-Muhajirin

Meski nama Al-Muhajirin sebagai identitas lembaga dan masjid muncul tahun 1991, sejarahnya membentang lebih dari satu dekade sebelumnya. Penamaan tersebut tak lepas dari pengalaman dan perenungan Pak Abun semenjak lama. Ketika pada awal tahun 80-an Pak Abun mulai banyak berkiprah di berbagai kegiatan dakwah di Purwakarta, mulai muncul gesekan-gesekan yang bermula dari sikap tidak suka kaum tua terhadap kemunculan Pak Abun. Pendekatan dakwah yang khas anak muda, pemikiran-pemikiran yang segar dan “beda” dengan para pendahulunya membuat Pak Abun muda menjadi sorotan bahkan mendapat penolakan. Sebuah fenomena yang kerapkali muncul ketika generasi pendahulu mendadak khawatir peran dan keberadaan mereka tergeser oleh kedatangan pembaharu. Pada titik puncak gesekan tersebut, Pak Abun kemudian memutuskan untuk berhijrah, sebagaimana Nabi Muhammad dan para sahabat berhijrah meninggalkan masyarakat Mekkah yang statis menuju Madinah yang penuh harapan.

Semangat menuju titik harapan inilah yang kemudian memantapkan Pak Abun untuk memberi nama masjid jami’ yang  dibangun di Perum Usman dibawah komandonya dengan nama Al-Muhajirin. Begitu juga dengan nama pondok pesantren yang tengah dirintis. Dalam diskusi di rumah Pak Abun, saat ide pondok pesantren digulirkan, sempat muncul usulan agar ada label “modern” di belakang kata pesantren sehingga menjadi Pondok Pesantren Modern Al-Muhajirin. Namun, pada perkembangan diskusi, semua peserta diskusi sepakat kata modern tidak dipakai, mengingat Al-Muhajirin sendiri memang menggabungkan dua unsur: tradisional dan modern pada karakteristik proses belajar mengajarnya.

Pertemuan di rumah Pak Abun selain menghasilkan bentuk dan nama pesantren juga memilih beberapa orang yang duduk di jajaran panitia penerimaan wakaf diketuai Bambang Suntaryono dengan sekretaris Deden Zaenudin dan bendahara Hartadi.

Rintisan Pondok Pesantren Al-Muhajirin mulai memperlihatkan titik terang sewaktu penerimaan santri dimulai, mereka yang mendaftar datang dari berbagai daerah, tak terbatas dari wilayah Purwakarta saja. Paling tidak, dari 18 santri baru yang tercatat, beberapa di antaranya datang dari Karawang, Subang, hingga Sumedang.

Semacam botol bertemu tutupnya, dukungan masyarakat terhadap pesantren yang baru memulai langkahnya terus berdatangan. Termasuk di antaranya ketika seorang tokoh agama di daerah Ciseureuh, Purwakarta bernama H. Rachmat mewakafkan sebidang tanahnya untuk Pesantren Al-Muhajirin.

Sebagai seorang tokoh yang berwawasan keagamaan yang baik, H Rachmat mengisyaratkan bahwa dia ingin mewakafkan tanahnya untuk pendirian sebuah masjid yang kelak setelah berdiri menjadi tempat ibadah yang makmur jamaah, bukan masjid yang sekadar megah namun sepi dari berbagai kegiatan keagamaan dan kurang bermanfaat bagi umat.

Pak Abun kemudian meyakinkan H. Rachmat bahwa tanah yang hendak diwakafkan itu pasti akan bermanfaat bagi orang banyak dan ramai oleh kegiatan keagamaan karena berdiri di tengah-tengah sebuah pondok pesantren yang pada waktu mendatang diyakini akan memiliki banyak santri. Di kemudian hari, di atas tanah ini berdiri masjid Al-Mukhtar. Mesjid yang tak pernah sepi dari berjamaah shalat sepanjang tahun.

Pergerakan pembangunan pesantren itu deras dan cepat mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pak Abun mulai memperluas lahan yang hendak dibangun dengan bantuan para dermawan. Nama-nama yang akan terus tercatat dalam proses rintisan itu di antaranya: Hj Sukarti dan H. Budiana yang berumah di Gang Soka, Purwakarta.

Cercaan dan hujatan yang mewarnai perjalanan pesantren yang kelak menjadi terbesar di Purwakarta ini,  menjadi bekal untuk semakin larut dalam kedekatan amat dekat dengan Allah Pembolak-balik rasa dalam sukma bila malam tiba. Selalu mengkomunikasikan Al-Muhajirin kepada Allah, itulah yang setia Pak Abun lakukan. Komunikasi spiritual ini kemudian membekaskan keberanian untuk membawa Al-Muhajirin ke dalam pembicaraan dengan sebanyak mungkin orang. Dengan  keluarga, teman, pejabat, teman, keluarga, hartawan, pengusaha dan kaum intelektual, Al-Muhajirin setia jadi tema bicara. Al-Muhajirin adalah cinta mati perjuangan Pak Abun. Kemanapun, dimanapun, dengan siapapun, dan apapun kesibukan adalah untuk kesuksesan Al-Muhajirin. Melalui Al-Muhajirin inilah membina umat untuk kejayaan Islam divisikan.

Selama Al-Muhajirin membangun, Pak Abun juga tak luput bermunajat pada Allah SWT. Setiap hari melakukannya, sepanjang malam melakukannya. Pak Abun juga melakukan sebuah amalan dan wirid-wirid khusus yang didapatnya dari KH Yusuf Taji, seorang ulama kharismatik dari Wanaraja Garut. Ulama yang masih ada hubungan kerabat dengan abahnya itu memberikan dua amalan sebelum dan sesudah tidur yang  harus dilakukan Pak Abun. 

Puasa Karena Tidak Ada Beras

Pada tahun-tahun pertama Pesantren Al-Muhajirin berjalan, sebagian besar santri berasal dari kalangan tidak mampu. Bukan hanya belajarnya yang cuma-cuma, kebutuhan sehari-hari para santri ini akhirnya ditanggung oleh pesantren. Karena baru saja dirintis, kondisi keuangan pesantren tentulah masih belum stabil. Hal ini berimbas pada kemampuan pesantren untuk menanggung seluruh kebutuhan santri. Mau tak mau, pesantren sangat bergantung pada bantuan para donatur.

Ketika itu, belum ada asrama tempat para santri beraktivitas di luar pesantren. Mereka masih ditampung di rumah Pak Abun di Jalan Veteran No. 163, Purwakarta. Ketika bantuan dari donatur kurang mencukupi atau malah tidak ada sama sekali, para santri pun sama-sama berpuasa.

Namun, pada waktu selanjutnya, bantuan dari para donatur terus berdatangan, dan berbagai pos pengeluaran santri pun bisa ditutup. Satu tahun setelah penerimaan santri pertama kali dilakukan, ide untuk terus melengkapi entitas dalam lingkungan pesantren berlanjut.  Pak Abun berinisiatif membuka madrasah tsanawiyah sekaligus memulai pembangunan fisik Pesantren Al- Muhajirin di Jalan Veteran, Gang Kenanga II Kebin Kolot, Purwakarta.

Kali ini, posisi ketua panitia dipercayakan kepada Afif Anwari. Ketika proses pembangunan fisik pesantren dimulai, jumlah santri aktif telah bertambah menjadi 52 orang. Hingga Februari 1993, pesantren Al-Muhajirin terus mencari bentuk ideal proses belajar mengajarnya. Banyak kekurangan yang terus menerus disempurnakan. Termasuk salah satunya kekurangan jumlah guru. Pak Abun, ketika itu, bahkan harus bertanggung jawab seorang diri untuk mengajar kajian kitab kuning seluruh santri karena belum ada guru yang bisa mendampinginya.

Peresmian Gedung Pesantren

Dengan segala kesulitan dan keterbatasan, akhirnya pembangunan  sebanyak lima kelas ruang belajar dan asrama bisa diselesaikan. Usaha yang dirintis Pa Abun rupanya disiapkan untuk membangun pesantren yang telah lama dicita-citakannya.  Toko photo copi dan Alat Tulis Kantor serta percetakan yang dikelolanya sungguh banyak menunjang pembangunan pondok pesantren. Bila simpanan uang pada kas panitia menipis atau habis, dengan tanpa ragu Pa Abun mennggunakan dana keluarga untuk menutupinya. 

Tepat  pada tanggal 7 pebruari 1993 atau 15 Sya’ban 1413 H. Peresmian gedung baru langsung dilakukan Bupati Purwakarta waktu itu, H Soedarna T.M., SH. Hadir juga dalam hari bersejarah itu, KH Khoer Affandi yang sekaligus memberikan ceramah. Ulama sepuh lainnya yang hadir adalah KH. Drs. AF. Ghozali, SH, sang da’i kondang di tatar Sunda. Dari para ulama inilah, Pa Abun mendapat suntikan motivasi dan ruhul jihad yang makin membuatnya bulat dalam tekad mewujudkan pesantren sebagai sarana pengabdian untuk kejayaan Islam dan mencerdaskan umat.  

17 Pengukir Sejarah

Jauh sebelum lahan dan bangunan di Gang Kenanga II ini siap dan resmi digunakan, kegiatan pesantren sebenarnya sudah dimulai di rumah Pa Abun sendiri. Adalah 17 orang santri dari kalangan masyarakat ekonomi lemah yang menjadi as-saabiquun al-Awwaluun bagi pesantren Al-Muhajirin. Selama satu tahun pertama, santri yang datang dari Sumedang, Karawang, Subang dan Purwakarta ini kebutuhan hidupnya di pesantren ditanggung oleh Pa Abun dan isteri. Sesekali ada donatur yang membantu meringankan beban. Para santri angkatan pertama ini semuanya sekolah di luar, baik di MTs, MA, atau SMK.

Santri Angkatan Pertama

Resmi sejak 7 Februari, seluruh santri berpindah dari “asrama” sementara di rumah Pak Abun di Jalan Veteran no. 163 ke lokasi baru yang berdiri tegak di Jalan Kenanga II. Sejak hari itu, Pak Abun bahu-membahu dengan mitra pantang mundurnya: Drs Sofyan Sulaeman dan guru kitab salaf alumni Pesantren Miftahul Huda Manonjaya; Ade Rosyidin. Bertiga, mereka terus maju mengembangkan pesantren yang baru dirintis itu. Lokasi baru yang strategis, sarana prasarana yang memadai membuat apa yang dicita-citakan: membentuk generasi berakhlak mulia bergulir menuju arah yang kian jelas.

Panti Asuhan dan Koperasi

Kondisi 17 santri pertama pesantren Al-Muhajirin yang berasal dari keluarga tidak mampu, mendorong pa Abun untuk memastikan keberlanjutan belajar mereka tanpa harus membebankan biaya. Demikian pula dengan kebutuhan sehari-hari mereka. Panti Asuhan Sosial Anak (PSAA) dipandang Pa Abun sebagai sebuah peluang. Maka pada tahun 1993 itu, terbentuklah PSAA Al-Muhajirin seiring dengan kegiatan pesantren di gedung baru yang kian ramai.

Pengalaman menjadi pengurus koperasi saat sekolah di Majalengka dulu, rupanya berbekas dalam diri Kyai yang Enterprenuer ini. Untuk mencukupi kebutuhan para santri, didirikanlah Koperasi Pondok Pesantren Al-Muhajirin.

Tsanawiyah dan Aliyah

Setelah memiliki MTs Al-Wathon, Madrasah Aliyah, dan TKA/TPA, Pa Abun merasa pesantrennya tidak lengkap tanpa Madrasah Tsanawiyah. Menjawab idealisme tersebut, pada tahun peresmian pesantren dibuka pula pendaftaran untuk MTs Al-Muhajirin.

Nama Al-Muhajirin kian mengemuka dan diakui. Jumlah santri baru yang mendaftar terus meningkat dengan pesat. Pada Juli 1994, jumlah santri tercatat sejumlah 82 orang.  Bertambahnya jumlah santri ini salah satunya karena ada pelimpahan murid dari Madrasah Aliyah Salafiyah, Gang Beringin. Di kemudian hari, nama madrasah itu diubah menjadi Madrasah Aliyah Al-Muhajirin Kebon Kolot, Purwakarta. Lima tahun sebelumnya, Pa Abun bersama KH. Yusuf Tojiri memang mendirikan MA Salafiyah di Gang Beringin.

Penambahan entitas pendidikan ini kian mempertegas posisi Al-Muhajirin sebagai institusi pesantren yang juga kompeten menyelenggarakan pendidikan sekolah. Ketika itu, belum ada satu pondok pesantren pun di Purwakarta yang menyelenggarakan pendidikan TKA, MTs, dan MA.

Tantangan Awal 

Ketika gedung asrama santri telah berdiri tegak, tak berarti selesai tantangan yang membayang-bayangi. Bertambahnya jumlah santri sudah tentu membuat semangat untuk membesarkan pesantren kian menyala. Namun, pertambahan jumlah penghuni asrama punya konsekuensi lain; bertambahnya jumlah kebutuhan harian santri yang mesti dipenuhi.

Langkah proaktif untuk memastikan donasi tetap mengalir dari para dermawan menjadi prioritas untuk terus dilakukan. Kepercayaan para donatur terhadap pengelolaan dana yang masuk ke pesantren menjadi kunci bagaimana dana untuk menopang kebutuhan para santri terus mengalir. Tak diragukan lagi, profesionalitas dan sikap amanah pengelola pesantren menjadi alasan mengapa para donatur terus mempercayakan infak mereka ke Pesantren Al-Muhajirin.

Tantangan satu terselesaikan, muncul lagi tantangan lain yang sifatnya cukup mendasar: kurangnya pengajar kitab kuning yang menjadi karakter khas pendidikan pesantren. Ketika itu selain Pak Abun, sudah ada seorang guru bernama Ade Rosidi yang berbagai tugas untuk mendampingi pembelajaran kitab salaf atau kitab kuning terhadap para santri.

Namun, karena Ade Rosidi memutuskan untuk berpindah dari Al-Muhajirin ke Bendul, Sukatani pada 1994, beban pengajaran kitab kuning seluruh santri lagi-lagi dipikul sendirian oleh Pak Abun. Bersanding dengan berbagai aktivitas dan beban tugas Pak Abun lainnya, mengajar seluruh santri menjadi hal yang tak mudah, terutama perihal pembagian waktu.

Akhirnya, demi efektivitas pengajaran dan keseimbangan tugas-tugas yang lain, Pak Abun meminta bantuan Uwa Ajengan untuk mengirimkan seorang santrinya, khusus untuk membantu Pak Abun dalam hal pengajaran kitab kuning.  Ua Ajengan lalu menugaskan  Ade Mumuh untuk mengisi kekosongan pengajar kitab kuning sepeninggalan Ade Rosidi.

Khusus untuk para pengajar, fase ini punya bumbu lebih heroik lagi karena ketika asrama santri telah berdiri, para pengajar belum memiliki ruangan mereka sendiri. Tak ada pilihan, supaya proses belajar para santri tetap berjalan dengan baik dan tertib, para pengajar meninggalkan pesantren ketika para santri tidur pada pukul 22:00, dan harus kembali lagi pada pukul 04:00. Jeda di antaranya, para pengajar “pulang” ke rumah Pak Abun di Jalan Veteran no 155.

Enam jam lowong antara waktu santri tidur dan bangun menjelang Subuh itu bukan kemudian lepas dari perhitungan Pak Abun dan pengelola pesantren lainnya. Tetap ada kekhawatiran terhadap segala kemungkinan, karena selama enam jam jeda itu, pengawasan terhadap santri otomatis longgar. Sedangkan area sekeliling lokasi masih berupa kebun ilalang, rumpun bambu, dan pohon rambutan. Lebih menjadi kecemasan para pengelola, bagaimana jika selama para pengajar tidak ada di pesantren, para santri membutuhkan kehadiran para guru. Pemikiran ini membuat kebutuhan akan gedung bagi para pengajar menjadi prioritas yang mesti dipikirkan.

Berbagai pertimbangan itu kemudian menjadi dasar fokus pengembangan Al-Muhajirin mulai tahun 1995. Pembangunan terus dilakukan, para pengajar mulai tinggal di lingkungan pesantren, Pak Abun dan keluarga berpindah pula ke kompleks pesantren, sehingga pembinaan para santri, pendampingan program, dan segala yang direncanakan bisa berjalan seusia harapan. Perlahan namun pasti, nama Al-Muhajirin kian menguat di masyarakat. Pembuktian demi pembuktian membuat pesantren yang diawali dari tekad ini menjelma menjadi tempat belajar tepercaya.

KBIH Pertama dan Terbesar

Memori peristiwa Mina dan kesedihan menyaksikan ibadah haji jamaah yang tidak terbimbing, melekatkan pesantren Al-Muhajirin dengan bimbingan ibadah haji. Dari 11 jamaah yang dibimbing Pa Abun dan isteri pada tahun 1990, 5 tahun kemudian resmilah berdiri Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dengan ratusan jama’ah. KBIH ini sekaligus menjadi yang pertama dan terbesar di Purwakarta.

Pa Abun mengajak dan melibatkan para Kyai sepuh di Purwakarta dalam pembinaan umat melalui KBIH nya ini.  Jejak ini, telah disematkan dalam dirinya oleh sang Ayah. Saat kecil dulu Abah sering mengajaknya berkunjung menemui para ulama di kabupaten Sumedang. Dari sanalah, Pa Abun kecil saat itu mengenal nama KH. Muhamad Syatibi, ulama besar Sumedang, KH. Amin, KH. Muhamad Toha Suja’i, KH. Ahmad Azizi, Ajengan Mahmud, dan Mama Cileunyi, KH. Kapten Makmun Cililin, KH. Yusuf Tojiri Wanaraja Garut, KH. Suja’i Sindangsari Cileunyi, dan Mama Ajengan Adi Suhrowardi Pengasuh Pesantren Sukamiskin Bandung. Jejaring Abah dengan para ulama itu, Pa Abun teladani melalui KBIH.

Nahdlatul ‘Ulama

Persentuhan Pa Abun dengan NU telah dimulai sejak kuliah di IAIN Bandung, pada tahun 70-an. Sepuluh setelah itu, 1980, pada awal kehidupannya di Purwakarta, status sebagai pengurus Gerakan Pemuda Ansor Wilayah Jawa Barat disandangnya. Pada tahun  itu, Pa Abun mengikuti muktamar GP. Ansor di Gelora Pancasila Surabaya. Pesan dari KH. Ilyas yang menitipkan NU rupanya selalu diingatnya.

Bagian Tiga

Satu Pipa (1996-2015)

Setelah sukses mendirikan TKA  dan menjadikannya sebagai TK terbesar di Purwakarta, 10 tahun kemudian Pa Abun mendirikan Play Group. Sebuah terobosan, sebab kala itu lembaga selevel ini belum popular di masyarakat. Maka  tahun 1999, Pesantren Al-Muhajirin resmi memiliki lembaga pendidikan untuk anak usia dini.

Selama lebih kurang delapan tahun, ratusan santri lulusan TK diterima di berbagai sekolah dasar di Purwakarta. Bagaimana  jika pendidikan mereka terus berlanjut di Al-Muhajirin? Bukankah nilai-nilai keislaman yang sejak dini ditanamkan akan terjaga kesinambungannya? Pemikiran seperti ini, membuat Pa Abun segera mendirikan Sekolah Dasar pada tahun yang sama dengan Play Grup. Lembaga pendidikan dasar ini dinamainya Sekolah Dasar Plus.

Kata Plus merujuk pada pemikiran Pak Abun tentang sebuah lembaga pendidikan dasar yang sarat nilai lebih keislaman. Plus juga berarti keunggulan. Dengan konsep Plus, SD ini sejak kelahirannya dituntut tampil  lebih dari yang biasa dan lebih dari yang lain. Namun  tetap memelihara yang sudah ada, tak lantas meninggalkan sesuatu  yang sudah baik demi mencapai sesuatu hal baru yang belum tentu bisa diraih.

Sekulerisme adalah salah permasalahan pendidikan di Indonesia. Sejarah pendidikan nasional sejak awal memang diwarnai tarik-menarik antara kaum Islamis dengan nasionalis. Lembaga pendidikan pun terpecah menjadi sekolah dan madrasah. Begitu juga, keilmuan dan mata pelajaran terbelah menjadi umum dan agama. Pa Abun cermat membaca fenomena ini.

Bukan hanya secara politis, dualisme itu terjadi, tetapi juga secara sosiologis. Masyarakat juga memiliki pandangan yang tidak seimbang terhadapa sekolah dan madrasah. Sampai tahun 1999 itu, tak dapat dipungkiri madrasah dan pesantren masih dipandang sebelah mata. Masih dianggap sebagai lembaga pendidikan nomor dua. Lebih memilih sekolah daripada madrasah, SMP daripada MTs, dan SMA daripada MA. Juga lebih senang dengan negeri daripada swasta. Berpikir dinamis yang sejak awal jadi moto Al-Muhajirin, mengusik Pa Abun untuk segera menyikapi dan mengantisipasi gejala ini bagi perkembangan pesantrennya.

Pada tahun itu, genaplah pesantren Al-Muhajirin memiliki semua lembaga pendidikan dasar dan menengah. Keberadaan MTs dan MA, mulai tahun pelajaran 1999/2000 dilengkapi dengan SMP dan SMA. Terbukti, animo masyarakat makin meningkat. Jumlah santri bertambah signifikan. Tetapi bagi Pa Abun, bukan sekadar urusan jumlah santri. Ada yang lebih strategis daripada itu.

Naluri kewirausahaan yang telah lekat sejak belia, rupanya berbicara dalam sikap Pa Abun terhadap fenomena dualisme pendidikan tadi. Tentu jadi pikiran siang dan malam agar sebanyak mungkin keluarga muslim mendidik anaknya di pesantren. Jadilah SMP dan SMA sebagai kemasan dan daya tarik supaya masyarakat tidak ragu menitipkan anak-anaknya di pesantren.

Semua lembaga pendidikan yang didirikan Pa Abun selalu berhaluan independen dan otonom dalam pengembangan kurikulum. Sejak kurikulum TK, Play Grup, MTS, SMP, MA sampai SMA dikembangkan secara mandiri. Pa Abun tak ragu menambah atau mengurangi, mengadakan atau menghilangkan. Pijakannya adalah visi pesantren yang dibangunnya dengan penuh pengorbanan itu. Apapun yang mendukung visi, tanpa ragu ditambahkan. Sebaliknya, apapun yang merugikan visi, tanpa ragu diabaikan dan dibuang.

Sampai tahun 2002, tidak seluruh siswa yang belajar di empat lembaga pendidikan tersebut nyantri dan ngobong  di dalam pesantren. Melihat ini sebagai kerawanan bagi kedisiplinan dan pembinaan santri, pada tahun itu Pa Abun mewajibkan seluruh santri yang belajar di MTs, SMP, MA dan SMA untuk tinggal di pesantren. Opsinya hanya dua, ngobong atau pindah ke sekolah lain. Bukan keputusan yang mudah. Tak sedikit orang tua santri yang menolak kebijakan ini. Sebagian dari mereka protes dengan keras. Bahkan ada segelintir orang yang mengirim surat kaleng dan menuduh bahwa Pa Abun ingin membisniskan pesantren dengan program ini.

Lebih dari sekadar hujatan surat kaleng pernah dan sering Pa Abun terima dalam mendirikan, membangun dan mengembangkan pesantren ini. Maka program wajib mondok ini terus berjalan dengan segala konsekwensinya. Pada tahun pertama setelah kebijakan berani ini digulirkan, penerimaan santri baru sempat turun drastis. Terutama SMA, sempat tak memiliki siswa untuk satu tahun ajaran. Namun bukan Pa Abun bila bergeming oleh tantangan seperti ini. Didasari itikad baik dan keyakinan yang mantap bahwa wajib mondok adalah pilihan terbaik, maka pada tahun-tahun berikutnya jumlah santri kembali bertambah bahkan bisa dibilang melonjak tinggi.

Melihat lengkapnya lembaga pendidikan yang telah dibangunnya, dari mulai pendidikan dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, Pa Abun mengidamkan kesinambungan belajar bagi seluruh santrinya. Ada impian, santri Play Grup berlanjut belajar agama di TK, lalu masuk ke SD, MTs/SMP, sampai MA/SMA. Mempelajari agama secara berkesinambungan tentu akan membuat mereka lebih utuh memahami Islam. Inilah ide dasar PA Abun tentang manajemen satu pipa.

Untuk mengarahkan lulusan SMA dan MA ke jenjang perguruan tinggi, pada tahun 2007, Doktor Tafsir pertama di Purwakarta ini mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam. Sesuai dengan kepakarannya dalam bidang tafsir, STAI yang dibangunnya pun menjadi perguruan tinggi Islam pertama dengan program studi Tafsir Hadits di Purwakarta dan sekitarnya. Sampai periode ini, lengkaplah sudah Pa Abun memiliki lembaga pendidikan Islam dari mulai pendidikan usia dini sampai perguruan tinggi.

Tak dapat dipungkiri, seperti juga pesantren pada umumnya, rata-rata santri yang berguru kepada Ketua Umum MUI Purwakarta ini berasal dari luar Purwakarta. Sebaliknya harapan masyarakat Purwakarta untuk belajar di pesantren Al-Muhajirin sebenarnya tinggi. Akan tetapi ketentuan semua santri wajib mondok yang telah dipegang teguh sejak tahun 2002, menjadi dilema tersendiri. Pa Abun membaca harapan masyarakat ini, mungkinkah belajara di Al-Muhajirin tetapi tanpa mondok di pesantren.

Tahun 2010 adalah momentum untuk menjawab harapan tersebut. Bermula dari keinginan H. Syamsuddin untuk beribadah haji pada tahun 2008 bersama keluarganya, tanah seluas 3100 m2 miliknya ditawarkan kepada Pa Abun untuk dibayar dengan ongkos haji untuk lima orang. Di atas tanah itulah didirikan SD dan SMP dengan konsep Full Day School. Selain menjual tanah, H. Syamsudin juga mewakafkan 100 m2 untuk pesantren Al-Muhajirin. Sejak 2010 itulah, kesibukan Pa Abun kian bertambah dengan adanya kampus baru di daerah Sukamulya Ciseureuh ini.

Masyarakat menyambut hangat kelahiran SD dan SMP Full Day ini. Melalui konsep ini, masyarakat tetap dapat merasakan nuansa dan kultur pendidikan pesantren meskipun tidak tinggal di pesantren seperti umumnya santri. Sosok yang tak cepat puas dengan capaian suksesnya ini, menginginkan ciri khas kajian dan kultur pesantren menjadi keunggulan di semua lembaga pendidikannya, sekalipun siswanya tidak tinggal di asrama seperti kedua sekolah penjaga kampus dua ini.

Kaderisasi yang dilakukan Pa Abun untuk mengelola lembaga pendidikan di dua kampus ini berbuah sukses. Impian memiliki 1000 santri yang mondok di pesantren terjawab di kampus satu sebagai sentral bagi pengembangan Al-Muhajirin. Begitupun di kampus dua, bukan hanya lahan yang kian bertambah untuk pengembangan pesantren, gedung dan jumlah siswa pun mengikuti peningkatan itu. Lima tahun kemudian dari sejak pembelajaran kampus dua dimulai, lebih dari 1000 siswa belajar di kampus dua di atas lahan seluas 5 hektar dengan 39 ruang kelas.

Pesantren bagi Pa Abun adalah induk sekaligus ruh bagi semua lembaga pendidikan yang telah dibangunnya. Oleh karena itu, dalam benak Pa Abun, di lahan yang masih berupa sawah ini kelak akan berdiri pesantren dengan layanan dan fasilitas yang serba prima. Masjid yang megah, aula yang menawan, kantin yang lengkap, dan tentu saja program yang unggul. Pa Abun sepertinya tak berhenti merangkai impian untuk masa depan umat ini.

Impian yang kerap jadi kenyataan. Pada tahun 2012 skenario Allah swt kembali menyapa Pa Abun. Tanah 22.000 m2, satu buah masjid dan dua rumah permanen diiwakafkan untuk Al-Muhajirin. Bermodal informasi dari salah seorang jamaah bimbingannya, Hj, Lela putri dari H. Halim tentang tanah milik H. Bambang yang akan dijual di Citapen,  Pa Abun bersama H. Halim berangkat ke Jakarta menemui pemilik tanah. Bukan uang ratusan juta yang dibawa, melainkan bulletin, buku karangannya yang sudah terbit, kalender dan foto-foto kegiatan pesantren Al-Muhajirin. Bermodal keyakinan yang mantap kepada Allah swt, Pa Abun sekenanya aja mengatakan siap membayar 1 milyar untuk tanah itu. Padahal, tak satu peserpun yang dikantonginya. Pa Bambang tidak langsung mengiyakan proses jual beli dengan Pa Abun. Sebelumnya saja tanah itu sudah ditawar 3 milyar untuk perumahan. Satu bulan kemudian, setelah melewati beberapa proses lahan baru itu resmi milik pesantren Al-Muhajirin. Pada waktunya, hutang 1 milyar pun terlunasi.

Di atas 22.000 m2 itulah kampus 3 Al-Muhajirin resmi digunakan sejak tahun pelajaran 2012/2013. Keunggulan Bahasa, Pa Abun pilih sebagai kekhasan kampus terbarunya ini. Memang sejak lama, kerinduan memiliki pesantren Bahasa ini melanda hati Rais AM PCNU Purwakarta ini. Sejak tahun 1993 program Bahasa telah dicoba dan diterapkan di kampus pusat. Namun tak kunjung membuahkan hasil yang ideal, meski tidak berarti gagal. Pa Abun berkesimpulan, harus ada tempat, tenanga dan lingkungan khusus untuk program seperti ini. Maka pilihannya jatuh kepada kampus 3.

Seiring perkembangan pesantren yang kian meluas, tanggung jawab keumatan penulis buku Seni Memperpanjang Usia ini pun makin besar. Setahun setelah kampus 3 berjalan, pada tahun 2013, penulis buku Seni Memperpanjang Usia ini terpilih sebagai Rais ‘Am PCNU Kabupaten Purwakarta. Dalam Konpercab di pondok pesantren Al-Hikamus Salafiyah Cipulus, Kang Abun, begitu panggilan akrabnya di kalangan nahdliyin, amanah itu dipikulkan kepadanya.

Keterlibatannya dalam kepengurusan NU Purwakarta, telah dirajut Kang Abun sejak 2008 ketika Drs. H. Nasir Saady yang ketua PCNU mengajaknya bergabung sebagai Wakil Syuriyah. Nasir Saady adalah teman lama semasa aktif di Gerakan Pemuda Ansor, belasan tahun yang lalu saat kuliah di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Untuk urusan pendidikan formal, Pa Abun membuka SMP bagi santri yang bersekolah di kampus ini. Sampai tahun 2012, berarti sudah ada tiga unit SMP yang tersebar di tiga kampus. 1 unit MTs, 1 unit MA, 1 unit SMA, 2 unit SD yang berlokasi di kampus 1 dan 2; 1 unit TK, 1 unit TPA, 1 unit TK, dan 1 unit Perguruan Tinggi. Langsung atau tidak langsung, sekitar empat ribu santri kini berguru kepada Pa Abun melalui lembaga-lembaga tersebut.  Semuanya bermula dari santri 17 orang santri di rumahnya dengan merelakan putri-putrinya yang saat itu masih kecil berbagi kamar dengan para santri. Bermula dari hijrah ke Purwakarta dan warisan semangat Abah Alawi yang ingin impiannya tentang pesantren kembali nyata. Bermula dari keteladanan dan doa Abah dan Emah di Cimasuk. Bermula dari sanad ilmu selama belajar di Majalengka, Bandung, Garut, dan Tasikmalaya, puluhan tahun yang lalu. Bermula dari seorang Muhamad Thamrin yang hijrah nama menjadi Ade Bunyamin lalu hijrah lagi untuk terakhir kalinya menjadi Abun Bunyamin.

Bagian Empat

Peta Pikiran

Alumni yang Diharapkan


Purwakarta  2022, di sebuah aula besar berudara sejuk dari sapuan lembut napas mesin ac, lantai dengan karpet empuk dan lembut, di atas kursi-kursi yang elegan nan amat nyaman diduduki, berkumpullah ratusan pejabat, pengusaha, guru, dan tokoh agama dari Purwakarta, Subang, Karawang, Bekasi, Jakarta, Bogor, Sumedang, dan beberapa kabupaten lainnya. Ada kyai, bupati, anggota dewan, Kapolres, camat, direktur berbagai korporasi, pengusaha sukses, guru-guru pilihan, dokter dan sejumlah pejabat serta profesi penting lainnya. Mereka berkumpul di aula pesantren Al-Muhajirin dalam acara Reuni Akbar Alumni Pesantren Al-Muhajirin.

Mereka adalah alumni Al-Muhajirin. Sebagian dari mereka dulunya belajar semasa TK di Al-Muhajirin. Sebagian lagi berlanjut ke SD Plus. Banyak juga yang bahkan sampai berlanjut di SMP dan Tsanawiyah lalu menuntaskan hingga SMA dan Aliyah. Ratusan lainnya adalah alumni STAI Al-Muhajirin.

Itulah  impian Dr. KH. Abun Bunyamin, MA terhadap setiap alumni Al-Muhajirin dari mulai play group sampai perguruan tinggi. Doktor Tafsir pertama di Purwakarta ini telah bermimpi dengan sangat sadar dan terjaga, 10-20 tahun yang akan datang, pejabat pemerintahan yang bertakwa dan berakhlakul karimah, pebisnis yang bersih dan jujur, politisi yang beriman kuat, dan posisi penting lainnya di eksekutif dan legislatif adalah alumni-alumni Al-Muhajirin.

Mimpi yang menjadi cita-cita tertinggi Pak Abun dalam membangun Al-Muhajirin ini begitu mengobati kerinduan akan sosok pejabat yang benar-benar menerapkan ajaran Islam dalam kesehariannya. Cita-cita akan tokoh-tokoh masyarakat yang rajin shalat lima waktu, puasa, zakat dan haji.

Tidak dengan sumpah serapah dan kritik membabi buta dalam menyikapi moral pejabat yang korup. Tetapi cita-cita pendiri Al-Muhajirin ini adalah jawaban yang futuristik tentang bagaimana seharusnya pejabat, pengusaha, dan segenap posisi strategis lainnya punya sikap. Siap menjadi imam shalat, sigap berbagi ilmu agama, komitmen menegakkan syiar agama Allah, cinta masjid, rajin ibadah, dan andil berdakwah. Dengan karakter seperti inilah para alumni itu kelak menjalankan tugas-tugas pentingnya dalam mengelola pemerintahan.

Karena kecintaannya pada ilmu dan kebanggaannya pada almamater, para alumni yang menjadi ahli masjid, ahli ibadah, dan ahli dakwah itu ikut mempertahankan, mengharumkan, dan membesarkan Al-Muhajirin dengan mewariskan pendidikan yang sama untuk anak cucunya di Al-Muhajirin. Ajakan kepada tetangga, sejawat dan masyarakat untuk hal yang sama menjadi kekuatan yang dibangun alumni sebagai cara andil dalam berdakwah. 

Tiga Nilai Pengembangan


Untuk memiliki alumni sedemikian rupa yang dipastikan membawa perubahan besar untuk bangsa ini, Pak Abun merumuskan tiga kata sebagai koridor pengembangan lembaga pendidikan di Al-Muhajirin: komprehensif, visioner, dan komitmen terhadap visi yang telah dirumuskan. Pesantren sebagai cikal bakal harus dijaga sebagai modal paling asasi yang menjadi ruh bagi semua lembaga pendidikan lainnya.

Di tengah pendirian lembaga-lembaga pendidikan Islam yang menjamur dengan label modern, Al-Muhajirin harus tetap sebagai pesantren tradisional yang konsisten menerapkan dan mewariskan akhlakul karimah seperti zuhud, tawadlu, dan ibadah-ibadah fardlu dan sunat. Namun sebagai sikap dinamis dalam merespon modernitas, kekhasan pesantren modern dalam penguasaan bahasa Arab, Inggris, dan sains harus disandingkan kearifan tradisionalitas. Karena itu, Al-Muhajirin harus menjadi pesantren yang memadupadankan keduanya.

Pada kenyataannya, tidak semua masyarakat siap memondokkan anak-anaknya di pesantren. Tepatnya tidak semua anak mau belajar dan mondok di pesantren, baik karena alasan jarak, tempat, atau alasan penghambat lainnya. Perlu sebuah strategi jitu agar misi pendidikan pesantren tetap teraih meski tanpa mondok sebagai ciri sejati sebuah lembaga disebut pesantren. Konsep pendidikan plus diusung Pak Abun dalam mengembangkan pendidikan Al-Muhajirin. Plus dimaksudkanya sebagai pendidikan yang selain menawarkan layanan sama dengan pendidikan formal lainnya, juga menawarkan layanan lebih berupa pembekalan pengetahuan, pengalaman, dan pengamalan pokok-pokok ajaran Islam.

Kebiasaan shalat lima waktu, membaca Al-Qur’an, hafal Juz Amma dan surat pilihan adalah di antara beragam “plus” yang telah digagas. Terutama tentang Al-Qur’an, doktor tafsir ini memberikan prioritas sebagai nilai plus yang harus dijaga sebagai keunggulan. Karena itu, belajar Al-Qur’an selalu dijadikan prinsip teguh Pak Abun sehingga menjadi pintu gerbang siswanya menguasai ilmu-ilmu keislaman. Konsekuensi pemikiran pendidikan plus dari Pak Abun ini menghendaki semua guru dalam semua mata pelajaran mampu membaca Al-Qur’an dengan baik.

Cara Sikapi Hasil


Berpijak di kekinian sambil menolehkan pandangan pada 19 tahun ke belakang perjalanan Al-Muhajirin, Pak Abun adalah orang yang paling pantas dan paling beralasan untuk meneguk bahagia dan bangga atas pencapaian Al-Muhajirin. Anak-anak dalam usia yang sangat belia sudah mengenal komunitas dalam tatanan Islam, terbiasa berucap basmallah, lantang bersahutan salam, dan semangat melafalkan doa pendek untuk sehari meski dengan pengucapan yang belum fasih. Pemandangan santri play group ini begitu menghibur Pak Abun.

Sedikit terpaut usia dengan santri Play Group, para calon pemimpin masa depan yang kini gembira belajar di TK Al-Muhajirin, mulai terampil melafalkan dan membaca huruf Al-Qur’an. Hal ini sangat membahagiakan Pak Abun. Ditambah lagi hafal bacaan shalat, surat-surat pendek dan surat pilihan dari Al-Qur’an, doa sehari-hari, dan lantunan lagu-lagu islami. Pemimpin yang komitmen pada shalat lima waktu itu telah mereka biasakan sejak TK dengan seminggu sekali balajar praktik shalat berjama’ah.

Dalam usia yang mendekati tamyiz, kegembiraan Pak Abun makin menemukan muara pada anak-anak SD. Kemampuan membaca Al-Qur’an yang ada pada mayoritas mereka, hapalan juz amma yang terus dikejar, kebiasaan shalat Dluha di setiap pagi mengawali pelajaran, berjamaah shalat Dzuhur setiap hari, bahkan shalat Jumat dengan ketertiban dan khidmat yang patut diapresiasi.

Pada anak-anak spiritualnya di usia remaja dengan seabreg pernak-pernik tantang dunia remaja, Pak Abun mensyukuri banyak hal. Pada santri SMI itu ditemukan pemandangan shalat berjamaah, shalat rawatib dan nawafil, sikap tawadlu dan hormat pada guru. Teristimewa pada mereka adalah kemandirian sehingga mereka belajar mengatur kehidupannya karena jauh dari orangtua.

Beragam kejuaran, baik secara akademik maupun non akademik, mulai tingkat gugus, kecamatan, sampai nasional, menjadi angin segar penghibur jerih payah Pak Abun dalam rentang 19 tahun usia Al-Muhajirin. Bahkan prestasi tingkat internasional mulai menemukan titik pijak untuk mengawali mimpi dalam sadar di masa depan.

Namun, sosok yang tidak pernah mengharapkan dipanggil Kyai ini, sangat sadar bila tatapan tadi diputar ke masa depan maka masih banyak ketidaktercapaian yang harus dikejar. Masih ada ruang kosong yang belum terisi. Masih ada robek yang harus ditambal. Disiplin dan dedikasi guru, kompetensi guru mata pelajaran yang professional dan terampil membaca Al-Qur’an, belum cukup menggenapkan kegembiraan dan kebanggaan Dr. KH. Abun Bunyamin, MA.

Tentang Motto itu


Keniscayaan untuk melakukan perbaikan jangan milik pendiri Al-Muhajirin saja. Harus terwariskan. Harus tertularkan. Semangat semua komponen Al-Muhajirin karenanya harus terus dinyalakan. Ide cemerlang Pak Abun untuk mematri semangat ini telah dikemas sedemikian rupa dalam motto Al-Muhahirin; Berpikir Dinamis, Berakhlak Salaf dan Berakidah Ahlu Sunah Wal Jama’ah.

Bagi Pak Abun, motto itu bukan sekadar tentang Al-Muhajirin. Sejatinya itulah yang seharusnya menjadi pencapaian tertinggi setiap lembaga pendidikan. Ya, cara berpikir yang dinamis, budi pekerti yang baik, dan tauhid yang terpatri dalam diri, itulah tujuan yang harus dicapai semua lembaga pendidikan. 

Berpikir dinamis artinya cerdas, berisi, sarat makna dan tangkas menjawab tantangan zaman yang selalu dinamis, berkembang  dan berubah. Berpikir dinamis artinya fleksibel, lentur tidak kaku. Peka terhadap masalah sosial, tidak bebal dalam kesendirian. Berpikir dinamis artinya tampil terdepan dalam mengambil peran strategis di masyarakat.

Tidak cukup dengan pemikiran yang hanya menjejali intelektual, budi pekerti yang baik atau akhlakuk karimah menjadi harga mati bagi pendidikan. Juga bukan sembarang baik dan karimah, tetapi punya rujukan dan panutan. Itulah mereka para salaf salih. Maka berakhlak salaf menjadi kesempurnaan setelah berpikir dinamis.

Berakhlak salaf artinya meniru perilaku para ulama terdahulu. Berakhlak salaf artinya mengedepankan amal daripada oral dan praktik daripada wacana. Berakhlak salaf artinya pendidikan bukan sekadar berbicara prestasi akademik, tetapi kekuatan amal dan keindahan moral seperti ditampilkan pada zaman Nabi saw dan Khulafa Rasyidun. Dengan cara inilah Pak Abun meyakini, kejayaan Islam bila terwujud di masa mendatang.

Para salaf salih setidaknya telah mewariskan tiga laku utama yang penting dijadikan pegangan: dedikasi tinggi untuk agama, ketulusan orientasi amal hanya pada pencapaian ridla Allah, dan keterjagaan dari moral yang bejat. Dengan semangat akhlak salaf ini para pendidik di Al-Muhajirin bekerja bukan lagi demi kesenangan atasan dan kepuasan materil; bukan mencari dunia, melainkan dedikasi agar Islam terus hidup sampai akhir zaman. Ilmu dan amal itulah kata kunci mewujudkan nilai-nilai luhur akhlak salaf tersebut dalam diri setiap guru, santri, dan alumni Al-Muhajirin.

Berpikir dinamis bisa membuat orang terlanjur rasionalis. Orientasi pada akhlak bisa menggiring orang pada laku asketis yang apatis. Perlu perangkat lunak agar utuh dalam bingkai keberagamaan yang hanif. Itulah aqidah islamiyah yang mewadahi prinsip-prinsip sangat asasi dari Islam. Itulahcara beriman yang diwariskan Nabi saw dan para sahabat. Rasulullah saw bersabda bahwa umat Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, umat Nabi Muhammad  SAW akan terpecah menjadi 73 golongan. Dan yang selamat hanya satu, yaitu yang bersama nabi dan para sahabatnya. Itulah akidah pembawa selamat. Itulah akidah Ahlus Sunah wal Jama’ah.

Nama-nama besar seperti Abu Hasan Al-Asy’ari, Abu Mansur Al-Maturidy, Imam Abu Hanifah, Imam Anas bin Malik, Imam Asy-Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Al-Ghazali adalah rujukan-rujukan penting dan utama dalam menerapkan ajaran Ahlus Sunah wal Jama’ah dalam aspek tauhid, fiqih, dan akhlak. Seiring dinamika zaman yang selalu menghadirkan problematika berbeda, komponen Al-Muhajirin di mulai dari para pemimpin lembaga dan guru-guru harus bersikap dengan rujukan yang jelas. Bukan pemikir dinamis bila sekadar tuturut munding. Maka penerapan motto ini harus diiringi dengan kegigihan belajar tiada henti dan menelaah pada banyak referensi.

Sejak muda, Pak Abun telah akrab dengan Nahdlatul Ulama. Sejak belajar di Cipasung tempat Kyai Ilyas Ruhiyat, Rais ‘Am NU pada masanya, aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama semasa PGA dan mahasiswa, menghadiri berbagai Muktamar, bahkan hingga kini sebagai pengurus NU Purwakarta, rupanya persentuhan itu juga memperkenalkan Pak Abun dengan pemikiran tokoh paling akbar dalam tubuh NU, Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Melampaui batas kenal, meski terpaut jarak antar generasi nan amat jauh,  Syaikh Hasyim Asy’ari Sang pendiri NU ini telah menginspirasi pendirian pondok pesantren Al-Muhajirin. Tidak terhenti pada pendirian, jargon akidah ahlus sunah wal jama’ah yang telah dihapal segenap santrinya, adalah saksi inspirasi itu kentara ada. Setelah Tebu Ireng, inspirasi serupa datang untuk Pak Abun dari Tasikmalaya. Cipasung, pesantren terbesar dan tertua di Jawa Barat ini sukses menyiramkan mimpi masa depan untuk membangun pesantren serupa kepada Pak Abun saat muda. Sang pendiri, KH. Ruhiyat, lalu putra sulungnya, KH. Ilyas Ruhiyat, ketika itu membuat Pak Abun muda begitu terkagum-kagum tentang perjuangan sebuah pesantren.

Pak Ilyas, bukan Kyai Ilyas, demikian Kyai santun dari Cipasung ini akrab disapa semua. Kekaguman itu juga telah merambahi urusan kenyamanan sapaan semacam ini bagi Pak Abun. Tak heran, di kalangan santri, alumni, guru, dan masyarakat Purwakarta, sulit untuk menyapa Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, dengan selain Pak Abun. Pengaruh dan inspirasi yang menuliskan pesan tersembunyi seperti itulah hormat dan cinta murid pada guru berbekas.

Nama KH. Khoer Afandi, pendiri pesantren Miftahul Huda di Manonjaya Tasikmalaya, masuk dalam daftar tokoh paling berpengaruh berikutnya terhadap pemikiran pendidikan Pak Abun. Kegigihannya berjuang dan konsistensinya mengembangkan pesantren merupakan energi penting bagi Pak Abun hingga pencapaian Al-Muhajirin di hari ini.

Berpikir dinamis yang kini jadi logo juga telah berlaga dalam perjalanan mendirikan Al-Muhajirin. Meski tidak berguru secara langsung, bukan halangan bagi Pak Abun untuk mendalami pemikiran dan keberhasilan seseorang. Trimurti pendiri Gontor mengisi ranah ini. Berawal dengan mengirim dua putri sulung dan bungsunya ke Gontor, inspirasi Trimurti mengalir mengiringi pengelolaan Al-Muhajirin.

Kecuali sebagian yang amat sedikit, tiap jengkal tanah di Al-Muhajirin adalah wakaf. Dengan rapi diaktakan. Dengan teliti didokumentasikan. Penataan organisasi dan kepengurusan  pesantren. Pendelagasian tugas dan wewenang. Kaderisasi pengelolaan dan kepemimpinan. Keluarga pendiri memiliki peran dominan untuk menjaga dan mengawal visi dan misi yang telah digariskan. Logis dan sewajarnya, keluarga pendiri adalah orang kedua secara struktural setelah pendirinya untuk urusan-urusan strategis dalam menjaga keberlangsungan pesantren.

Dalam kepemimpinan, senioritas dan pengabdian kepada lembaga menjadi tolok ukur penting mendelegasikan tanggung jawab memimpin lembaga pendidikan. Dari PG, TK, TPA, SD, SMI, mereka yang kini menjadi orang nomor satu, adalah karena dua hal tadi. Untuk menjaga kesepahaman visi, rasa memiliki, dan ikatan emosional, semua atau sebagian besar pendidik harus mereka yang merasakan pula didikan Al-Muhajirin.

Metode yang jelas, kualitas lulusan berkelas dengan ciri khas yang membekas menjadi agenda pengembangan ke depan. Dalam konteks itu, penguasaan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa dunia, terus diupayakan sempurna menjadi keunggulan. Pada aspek-aspek manajerial dan kebahasaan ini inspirasi mengalir dari trio pendiri pesantren Gontor. Sistem, itulah yang dibangun, bukan figuritas apalagi kultus.

Misi Menjawab Tantangan


Sebagai pesantren, Al-Muhajirin harus mampu menjawab permasalahan pendidikan nasional di negeri ini. Terutama permasalahan akhlak dan kemandirian peserta didik. Orientasi tertinggi pendidikan sejauh ini hampir terkubur ukuran-ukuran akademik. Ijazah, angka-angka, ulangan, dan ujian. Sementara membentuk kemandirian dalam diri siswa nyaris terlupakan. Manja, malas, tergantung pada orang tua, cepat mengalah menghadapi kesulitan hidup, dominan dengan pola pikir dan tindakan yang instan, dan jauh dari kreatif adalah potret pudarnya kemandirian dari lulusan pendidikan hampir di setiap level.

Sama bermasalahnya adalah aspek moral dan akhlak. Tawuran tak menunjukkan tanda segera hilang, kata-kata kasar dalam pergaulan, hormat dan takzim pada orang tua dan guru yang kian gersang, pakain dan penampilan yang jauh dari santun, terlebih lagi komitmen pada shalat lima waktu sebagai sumber kebaikan yang amat memprihatinkan. Inilah setumpuk masalah pendidikan nasional yang lebih berbahaya dari sekadar tidak lulus ujian nasional.

Para pendidik rupanya gagal mewariskan jiwa patriotisme kepada para siswa. Dalam limbung dunia remaja, mereka kehilangan teladan dan panutan. Pada sisi lain, rupanya kebijakan penguasa juga berandil besar dalam hal ini. Anggaran pendidikan yang makin besar tetapi juga dengan bocor yang besar. Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) lagi-lagi menjadi penggerogot besarnya anggaran pendidikan. Di sekolah, kejujuran menjadi barang langka dengan harga yang sangat mahal. Bantuan-bantuan ke sekolah untuk peningkatan mutu pendidikan, sering menjadi salah alamat. Swasta tetap saja dinomorduakan.

Memang seperti dikabarkan Allah dalam Al-Qur’an. Orang-orang baik yang terujilah yang patut jadi pemimpin. Mereka yang dzalim bila memimpin tidak bisa diharapkan untuk memperbaiki dan merubah keadaan (baca: Al-Baqarah 124) Pendidikan di negeri ini harus terhindar dari pemimpin seperti ini.

Lima Bekal Hadapi Masa Depan


Tidak cukup dengan komentar dan analisis. Al-Muhajirin harus tampil proaktif menjawab segala permasalahan dan tantangan pendidikan. Tahun-tahun mendatang, kedua hal ini akan semakin berat dan besar merintang. Seperti sikap visioner yang terasah sejak muda dalam diri Pak Abun, mempersiapkan Al-Muhajirin sebagai masa depan pendidikan Islam telah menjadi helaan nafas dan denyut jantungnya. Lima hal harus segera mengkristal untuk keniscayaan masa depan itu, yaitu kepemimpinan kolektif, program pembelajaran yang jelas; keikhlasan, jiwa juang, dan disiplin; manajemen modern, dan dukungan internal.

Kaderisasi kepemimpinan merupakan concern Al-Muhajirin mengantisipasi tantangan masa mendatang. Sekelompok kader pilihan, berkumpul dan bergerak sebagai sebuah team yang solid, sepahaman tentang visi dan misi yang diemban, saling menutupi kekurangan dan mengoptimalkan kelebihan, itulah kepemimpinan kolektif yang membawa gerbong pendidikan Islam terdepan bernama Al-Muhajirin.

Kejelasan program pembelajaran sebagai kendaran visi dan misi menuju pencapaiannya, perlu digariskan dengan cerdas dan jelas. Kejelasan target yang dicapai, kualitas lulusan yang hendak dijaminkan, struktur dan muatan kurikulum yang sarat kekhasan, metodologi yang serempak ditampilkan, dan evaluasi penilaian yang tidak terjebak pada sekadar angka adalah senjata ampuh untuk bertarung di masa depan. Pada barisan berikutnya, SDM pendidikan yang handal dan profesional setia mengawal perjalanan.

Perjalanan Al-Muhajirin ke depan akan penuh tantangan, bahkan ancaman. Persaingan yang kian mengglobal, gaya hidup yang kering spiritual, dan etos kerja yang selalu seukuran material adalah “virus” yang akan menyerang SDM Al-Muhajirin. Maka ketulusan bekerja dan keikhlasan berjuang di Al-Muhajirin adalah penawar paling tak bisa ditawar. Semua harus bekerja dengan tulus. Bukan lagi hubungan lahiriah dengan pimpinan dan keluarga Al-Muhajirin, bukan pula kontrak dalam lembaran kertas, tetapi bekerja sebagai hubungan kehambaan dengan Allah dan kontrak “jual-beli” dengan-Nya yang menyelamatkan hidup dunia dn akhirat. Ikhlas memang harus terus ditumbuhkan.

Keikhlasan ini yang akan menumbuhkan daya tahan dari segala tantangan dan ancaman. Berjuang dengan keringat bercucuran, pikiran terkuraskan, dan harta yang dikeluarkan yang mutlak dibutuhkan, akan menjadi ringan dan indah. Bukan lagi keterpaksaan dan kepura-puraan. Sebab bukan Al-Muhajirin untuk Al-Muhajirin, tetapi untuk kemaslahatan umat dan kejayaan Islam.

Demikian pula halnya dengan disiplin yang akan menghiasi kokohnya ketulusan dan daya juang setiap komponen Al-Muhajirin. Setia pada visi, patuh pada aturan, dan taat pada kebijakan bukan sebagai beban memberatkan, tetapi tanggung jawab dalam langkah  bersama untuk mengantarkan pada tujuan yang memuliakan. Itulah tiga wasiat ketangguhan SDM Al-Muhajirin; keikhlasan, jiwa juang, dan disiplin.

Menghadapi kenyataan modernitas yang dikawal kecanggihan tekonolgi dan kecepatan komunikasi adalah tantangan yang tak bisa dielakkan. Tak cukup dengan kesiapan-kesiapan perangkat lunak kepemimpinan, kurikulum, dan spiritualitas kerja seperti telah disebutkan, Al-Muhajirin harus tampil dengan manajemen yang modern. Kecanggihan digital, sistem informasi berbasis internet, dan komputerisasi dalam pengelolaan segala unsur manajerial merupakan keniscayaan bagi manajemen Al-Muhajirin yang modern ini. Sekaligus perwujudan dari motto berpikir dinamis mengimbangi dinamika jaman yang sangat cepat berubah.

Mewariskan pendidikan Islam kepada anak cucu menjadi peran yang melekat bagi setiap komponen Al-Muhajirin. Dalam konteks inilah, peran alumni  dan para guru untuk mewariskan hal serupa kepada keturunannya seharusnya dipahami. Kongkritnya, bilapun mereka tidak dididik secara langsung di Al-Muhajirin, maka  belajar di lembaga pendidikan yang menjaga nilai-nilai waratsatul anbiya dan komitmen pada ajaran Ahlus Sunah Wal Jama’ah menjadi kepastian. 



Al-Muhajirin adalah wujud perpaduan antara sekolah, madrasah dan pesantren. Ketiga wujud lembaga pendidikan ini adalah satu kesatuan yang kepada-Nya nama Al-Muhajirin tertuju. Kelebihan dan kekuatan dari ketiganya itulah yang menjadi Al-Muhajirin. Meski pemilahan antara ketiganya kerap ditemukan dalam operasional pendidikan Islam, bagi Pak Abun tidaklah demikian. Inilah sikap yang sejak awal ditanamkan. Sebuah keterbukaan pada apa pun metode kebaikan, selama itu makin menguatkan misi perjuangan untuk kejayaan Islam.

Sekolah dengan muatan yang lebih besar pada penguasaan sains dan penumbuhan sikap kritis, madrasah dengan muatan yang dominan pada ajaran-ajaran dasar keislaman. Karena keterbatasan waktu, dua wujud lembaga pendidikan ini sejak lama dianggap kurang menaruh perhatian pada pengalaman dan pengamalan nyata ilmu pengetahuan. Akibatnya akhlakul karimah kurang terbentuk pada dua lembaga ini. Pada ruang inilah, pesantren mengisi kekosongan.

Dengan pola berasrama, pesantren mengisi ruang kosong madrasah pada penguatan ilmu-ilmu keislaman dan ruang kosong sekolah pada aspek perilaku (behavior). Pesantren menekankan pada aspek keberagamaan secara kognitif, afektif, dan psikomotor. Struktur keilmuan di pesantren tergambar pada 12 cabang disiplin ilmu yang menjadi ciri khasnya, yaitu ilmu nahwusharafma’any, bahasa, badi’, fiqih, ushulfiqih, tajwid, ilmu tajwid, hadits, ilmu hadits dan tasawuf.

Al-Muhajirin harus tampil sebagai lembaga yang secara ideal memadukan ketiga wujud lembaga tersebut. Dan seperti itulah format pendidikan Islam ideal ke depan. Kritis seperti sekolah, santun seperti madrasah, dan kukuh pada keislaman seperti pesantren. Untuk mewujudkan itu memang tidak mudah, terutama berkaitan dengan kesiapan SDM pendidik. Ke depan formasi guru antara yang ahli dalam kajian keislaman dengan bahasa, dan ilmu pengetahuan harus sebanding. Lebih dari itu, semua harus tersatukan sebagai satu kesatuan ilmu menuju tujuan tertinggi pendidikan yaitu mengenal Allah. Inilah perjuangan Al-Muhajirin ke depan. Tanpa itu, lembaga pendidikan Islam hanya seperti bangunan yang selalu bongkar pasang. Tanpa kesatuan seperti ini, pendidikan Islam akan kehilangan orientasi. Tidak ke barat, tidak pula ke timur. Terombang-ambing tak tentu arah. Satu pihak membangun, pihak lain menghancurkan.

Seiring kenakalan remaja yang terus terjadi sebagai potret buram pendidikan Indonesia, lembaga pendidikan agama dan keagamaan ikut menjadi sorotan. Pesantren dan madrasah sebagai ikon pendidikan Islam pun tak luput dari tuduhan mandul melahirkan siswa dengan budi pekerti luhur dan akhlak mulia. Tentang hal ini, Pak Abun memiliki jawaban. Sedari awal, trademark pesantren dan madrasah adalah pendidikan yang berorientasi akhlak mulia. Tidak pernah terjadi tawuran antar pesantren, antar madrasah, atau pesantren dengan madrasah, atau dengan sekolah.

Pesantren terdepan dalam mengajarkan kesantunan. Hormat dan patuh pada guru menjadi keutamaan. Pembentukan akhlak menjadi prioritas melalui ibadah yang intensif baik fardlu maupun sunat. Shalat 5 waktu berjamaah, membaca Al-Qur’an, puasa sunat, doa dan dzikir, shalat tahajud, witir, dan dluha. Dari sinilah diharapkan terbentuk kelembutan jiwa dan rasa yang kemudian melahirkan akhlak mulia. Sementara itu, ilmu pengetahuan yang diberikan sekolah juga pesantren memberikannya lengkap dengan pengakuan dari pemerintah. Di sinilah justru pendidikan di pesantren memiliki kelebihan.

Menjawab Sekulerisme di Dunia Pendidikan


Salah satu permasalahan paradigmatik pendidikan nasional adalah sekulerisme dan dikotomi. Pendidikan Islam pun kerap tanpa sadar terjebak pada dua sikap ini. Hal ini terbaca dalam masih adanya anggapan bahwa selain ilmu agama tidak akan berkontribusi pada kehidupan akhirat. Juga pemikiran bahwa pesantren hanya untuk mendidik calon ustadz dan kyai, bukan profesi lainnya.

Persis satu tahun sebelum tahun 2000 datang, tahun yang disimbolkan sebagai gerbang modernitas, Pak Abun sigap menjawab permasalahan tersebut. Berdirilah di tahun 1999 itu tiga lembaga pendidikan umum:  SD, SMP, dan SMA Al-Muhajirin. Tak pelak, langkah ini banyak mengundang tanya banyak pihak. Mengapa pesantren mendirikan lembaga pendidikan umum?

Impian 2022 itu ternyata bergerak dari sini. Al-Muhajirin menghendaki lulusanya tidak sekadar menjadi ustad dan ulama yang tokoh agama, tetapi tersebar ke dalam berbagai profesi penting yang dibutuhkan masyarakat. Lulusan yang mampu mengisi dan bersaing diberbagai sektor. Lulusan yang tidak sekadar salih karena ajaran agama, tetapi juga cerdas, terampil, dan mandiri dengan bekal ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan. Untuk itulah didirikan SD, SMP, dan SMA di Al-Muhajirin.

Dengan strategi ini pula, masyarakat yang masih menomorduakan pesantren dan madrasah akan dapat mengecap pendidikan pesantren dan madrasah dengan memilih “sekolah umum” di Al-Muhajirin. Ruh pesantren akan tetap hidup di lembaga yang kadung disebut pendidikan umum ini, setidaknya melalui dua hal: shalat dan membaca Al-Qur’an. Melalui dua bekal utama inilah kualitas seorang anak terlihat, rajin membaca Al-Qur’an dan gemar menegakkan shalat. Tanpa dua kemampuan ini tidak mungkin anak menjadi pengamal Islam yang baik.

Lima Isu Pendidikan Nasional  

Kepekaan terhadap isu dan permasalahan pendidikan yang berkembang cukup menjadi pertanda dinamisnya berpikir seseorang. Bagi sebuah lembaga, sikap awas terhadap setiap perkembangan dunia luar juga menjadi keniscayaan. Tanpanya, peluang sulit terbaca, dan ancaman sukar dihindar. Sampai hari ini, setidaknya ada lima isu pendidikan nasional yang terus menjadi pembicaraan. Dimulai dari isu pendidikan karakter, ujian nasional, sertifikasi guru, otonomi pendidikan, hingga pembiayaan pendidikan, Pak Abun memiliki pisau analisanya sendiri.

Pendidikan karakter adalah upaya membentuk budi pekerti yang baik dalam diri anak yang didasari dengan pendidikan iman dan takwa. Bukan sekadar iman dalam keyakinan dan pemikiran tetapi mengaktual dalam pengamalan. Iman, itulah kata kunci pendidikan karakter. Tanpa iman, pendidikan karakter akan hampa dan bolong. Begitupun iman, bila tidak dibuktikan dengan tauhid sama bolongnya. Keimanan yang menjadi pondasi terkokoh pendidikan karakter ini harus melandaskan diri pada keyakinan Allah sebagai satu-satunya Pencipta, Pemelihara, dan Pemilik jagat raya.Allah lah Tuhan sejati. Tak ada yang lain.

Iman yang mengakar seperti itu akan membuat pemegang kebijakan dan setiap pendidikan sebagai pelaku utama pendidikan karakter dalam keteguhan yang tangguh. Hanya mencukupkan diri dengan Allah. Hanya bersandar kepada Allah. Dan inilah kecukupan paling kuat. Tanpa pondasi tauhid, program pendidikan apapun bagaikan buih yang tanpa kekuatan apapun. Mudah hilang tersapu angin. Seperti jarring laba-laba,  tak bisa jadi perlindungan dari serangan panas dan terjangan dingin. Sangat lemah. Jadi jelaslah, pendidikan karakter harus dimulai dari penanaman tauhid dalam diri anak didik. Dari tauhid itulah lahir karakter.

Pendidikan yang paripurna menghendaki keselarasan antara tujuan tertinggi yang ditetapkan sebuah lembaga dengan mekanisme penilaian sebagai ukuran ketercapaian. Bila tujuan tertinggi pendidikan adalah tentang pemikiran, akhlak, dan keimanan, maka kebijakan ujian nasional sebagai instrument evaluasi dan penilaian menjadi sangat tidak selaras. Ujian Nasional yang melulu tentang angka-angka alias terpaku pada ranah kogitif siswa semata, sangat bersebrangan dengan tujuan pendidikan yang justru sasarannya pada kualitas dibelakang angka.

Demikian pada tataran filosofisnya. Belum lagi pada tataran praksisnya yang sarat keprihatinan. Meskipun berawal dari ide baik, pelaksanaan ujian nasional hampir menjebak dunia pendidikan pada pembohongan nasional. Orang tua, anak, pihak sekolah, dan pemerintah daerah ada dalam pusaran kecemasan yang sama mengenai ratusan hingga ribuan anak didik mereka, tidak lulus ujian nasional. Siapapun dari mereka enggan memikul beban moril nan amat berat ini. Belum lagi hilangnya kebijakan yang memberikan kesempatan kepada siswa yang tidak lulus untuk ujian ulang pada tahun sama.

Kecemasan yang wajar ada sebab ujian nasional bukan kebijakan sekolah yang paling tahu kelebihan dan potensi setiap siswa yang telah dididiknya selama tiga tahun. Belasan pelajaran yang diperdalam, ratusan jam belajar yang dijalankan, dan puluhan kompetensi yang diajarkan, dengan ujian nasional harus rontok dalam hitungan empat sampai enam pelajaran. Harus hancur dalam hitungan tiga sampai empat hari.

Sebagai sebuah alat evaluasi, barangkali ujian nasional tidak jadi masalah untuk tetap ada. Tetapi tidak perlu dikaitkan dengan lulus atau tidaknya siswa. Posisikan saja sebagai instrument pemetaan kualitas pendidikan dengan nilai yang seutuhnya dan seadanya karena tidak dikaitkan dengan sekolah, tetapi dengan kebijakan nasional pendidikan. Serahkan urusan kelulusan sepenuhnya kepada sekolah. Biarkan sekolah terlepas dari beban apapun ketika harus memberikan nilai murni kepada siswanya. Sekolah juga yang paling tahu potensi dan kelebihan yang dimiliki anak didik yang memantaskannya berpredikat lulus, sekalipun dengan  capaian angka-angkanya pada batas paling rendah. Bahkan dari level sekolah dasar sampai SMA sebenarnya cukup dengan surat tanda tamat belajar seperti dulu pernah diberlakukan. Bukan ijazah yang memaksakan kelulusan.

Bahkan bila dikaitkan dengan isu otonomi pendidikan, ujian nasional tentu saja tak terbantahkan sebagai sebuah ketidaktepatan. Ya, otonomi pendidikan itulah mainstream pendidikan dewasa ini. Terbatas pada aspek-aspek pengelolaan pendidikan yang sesuai potensi dan kemampuan daerah, otonomi pendidikan memang diperlukan. Tetapi dalam pengertian melimpahkan seluruh wewenang pengelolaan pendidikan kepada daerah, otonomi pendidikan justru akan menimbulkan masalah baru pendidikan nasional.

Harus diakui setidaknya sampai hari ini, SDM pendidikan di tingkat pusat jauh lebih baik daripada daerah. Perlu kepakaran, mata analisis yang tajam dan pengalaman yang mapan untuk mengurai setiap permasalahan pendidikan di daerah. Pun untuk melahirkan kebijakan-kebijakan yang meningkatkan kualitas pendidikan daerah, hal yang sama mutlak dibutuhkan. Ketiga hal tersebut masih sulit didapatkan pada SDM pendidikan di daerah-daerah.

Otonomi pendidikan akan lebih tepat bila fokus pada orientasi pendidikan yang sesuai dengan potensi dan karakteristik daerah. Setiap daerah tentu saja memiliki potensinya masing-masing yang perlu digali, dikembangkan, dan diberdayakan. Potensi ini kemudian dijadikan keungguan sejalan dengan dinamika pendidikan di tingkat nasional dan global. Dengan cara ini, daerah akan tertantang untuk merancang keunggulan pendidikan yang pada akhirnya menumbuhkan tanggung jawab daerah untuk mengembangkan untuk mengembangkan pendidikan. 

Otonomi pendidikan juga harus lebih pada pemberian kewenangan sekolah dalam merancang penyelenggaran pendidikannya. Terutama bagi swasta sebagai wujud kontribusi aktif masyarakat dalam penyelenggaran pendidikan nasional. Anggap saja keleluasaan mengelola pendidikan untuk lembaga swasta ini sebagai imbalan dari pemerintah. Sebagai lembaga yang lahir dari bawah, sekolah swasta sangat perlu ruang gerak yang luas untuk mengembangkan visi dan misinya. Apa pun kebijakan nasional pendidikan jangan sampai membelenggu pergerakan sekolah swasta menuju visinya.

Sejauh ini, beberapa kebijakan tampaknya malah cenderung “mengerikan” sekolah-sekolah swasta. Program-program yang tidak terlalu prinsip, namun memaksa, seperti selalu bertambahnya jumlah mata pelajaran yang harus diajarkan. Sekolah swasta butuh lebih dari sekadar keleluasaan dalam pemberdayaan ekstrakurikuler. Tidak sebatas bantuan guru, gedung, dan pendanaan yang sewajarnya jadi perhatian, namun perlu dukungan penuh sebagai apresiasi peran sertanya dalam menyukseskan pendidikan nasional. Otonomi pendidikan pun bukan hanya tentang wajib belajar pendidikan dasar selama 9 tahun. Tetapi, bagaimana daerah kreatif ]mengoptimalkan pembentukan akhlak mulia \dan keterserapan dalam dunia kerja.

Kualitas Guru


Guru  sangat menentukan mutu sebuah lembaga pendidikan. Bahkan guru adalah ujung tombak peningkatan kualitas pendidikan. Dalam konteks itu, sertifikasi guru yang menjadi kejaran dan bidikan setiap guru tentu saja program yang sangat positif. Namun benarkah sertifikasi berkorelasi dengan mutu pengajaran guru?

Pada titik inilah kritik Pak Abun, mantan guru berprestasi Kabupaten Purwakarta ini, mengemukakan bahwa sangat baik jika guru dituntut menjadi seorang profesional yang dibuktikan melalui sebuah sertifikat. Namun, jangan sekadar mengejar selembar kertas itu. Jangan pula proses mendapatkan sertifikat ini memaksa guru untuk berburu bukti-bukti fisik yang berakibat pada pengabaian terhadap tugas dan fungsi utamanya.

Bagian terpenting dari sertifikasi guru seharusnya pada pembinaan profesinya. Harus diakui, masih banyak guru yang menjadi kebetulan secara kebetulan. Bukan karena niat dan cita-cita sejak awal, melainkan karena terpaksa keadaan. Kondisi seperti ini membuat karakter pendidik tidak menyatu dalam diri seorang guru. Karakter inilah yang harus jadi sasaran sertifikasi guru sehingga setiap guru benar-benar menjadi pendidik yang berkarakter kuat.

Sertifikasi guru bukan jalan tunggal pembinaan dan peningkatan mutu guru. Sebab pada hakikatnya pembinaan guru tanggung jawab semua, dari pemerintah pusat sampai sekolah tempat guru mengajar. Bahkan pribadi setiap guru bertanggung jawab terhadap peningkatan kualitas keguruan dirinya. Pembinaan paling mendasar adalah perihal pemaknaan profesi guru itu sendiri.

Menjadi guru adalah amanah dan kepercayaan. Menjadi guru adalah harga diri dan anugrah yang amat besar dari Allah SWT. Menjadi guru berarti menebar keberkahan bagi diri, keluarga, dan bangsa. Untuk sederet kemuliaan profesi guru ini, keikhlasan, disiplin, dan kasih sayang dalam menjalankan profesi guru mutlak diaktualisasikan. Bukan untuk mengejar penghargaan material, tetapi demi kesuksesan dan kegemilangan masa depan anak-anak didiknya. Inilah kepuasan tertinggi seorang guru, sebab sedari dulu guru adalah sebuah pengabdian tulus.

Biaya Pendidikan


Cukupkah lembaga pendidikan bermodalkan guru yang profesional minus dana yang memadai? Menurut sebuah penelitian, keberhasilan pendidikan sangat ditunjang biaya yang tinggi. Sekolah yang serba kekurangan dan serba terbatas ternyata pencapaian keberhasilannya rendah. Dengan tesis seperti ini realisasi anggaran 30% dari APBN dan APBD harus segera mewujud. Bukankah tidak ada satu pun kegiatan sekolah yang tidak butuh biaya? Semua tentu perlu biaya. Ibarat perdagangan, setelah ada modal baru berjalan. Biaya memang sangat fundamental bagi keberlangsungan pendidikan. Itulah karenanya pembiayaan pendidikan menjadi isu pendidikan yang tak kan selesai dibincangkan.

Terkait pembiayaan pendidikan yang sejatinya menjadi tanggung jawab pemerintah, program-program yang telah digulirkan seperti dana BOS, BOMM, beasiswa, dan bantuan lainnya harus mulai ditutupi titik-titik kerawanannya.

Pertama perihal kebocoran anggaran.Kebocoran harus semaksimal mungkin ditekan, diminimalisir, bahkan dihilangkan. Dari mulai pusat sampai sekolah, saluran air dana pendidikan ini harus utuh dan mulus tidak bocor setetespun. Bantuan pendidikan bukan ajang untuk memperkaya diri. Bantuan pendidikan terlalu suci untuk dikorupsi, sebab dibaliknya masa depan jutaan anak negeri menanti.

Kedua, sasaran bantuan. Selama ini masih terasa adanya kecenderungan mental kapitalisme dalam penentuan penerima bantuan pendidikan. Sekolah yang bagus makin bagus, yang kaya makin kaya, yang maju makin maju. Sementara sekolah-sekolah dengan fasilitas yang minim dan pendanaan yang kurang, tetap saja dalam kondisinya tanpa perubahan yang signifikan. Tak jarang, sasaran bantuan juga diarahkan bagi sekolah-sekolah yang siap “bekerja sama” dan memiliki “komitmen”. Demikian pula, pemilahan antara negeri dan swasta masih kentara dan terasa. Meskipun sering diteriakan tentang disamakannnya perlakuan, acapkali fakta berbicara lain.

Sebaliknya, sekolah yang mendapat bantuan juga harus menunjukkan integritas. Menggunakan bantuan sesuai alokasinya dan untuk sebesar-besarnya kemajuan pendidikan di sekolah. Tidak manipulatif. Bahkan, sekolah semestinya kreatif mencari berbagai sumber pendanaan untuk kemajuannya, bukan sebalikanya bantuan yang ada tidak optimal penggunaannya.

Besarnya perhatian terhadap pendidikan dengan memberikan berbagai program bantuan pembiayaan pendidikan, tidak berarti menegasikan peran serta masyarakat. Seperti pemahaman sekolah  gratis yang sempat menjadi polemik, adalah akibat dari sikap manja masyarakat yang minim partisipasi terhadap kemajuan pendidikan. Sebesar apapun bantuan pemerintah, tetap saja politis, bisa saja secara tiba-tiba bantuan tersebut menghilang karena kebijakan penguasa yang berubah. Maka peran serta masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan, tetap menjadi penting untuk terus dilibatkan dan dipertahankan.

Wirid Sepanjang Hijrah


Berawal di keheningan malam, dengan wajah basah oleh siraman sejuk air wudlu, ditingkahi hembusan angin di luar rumah yang menerpa setiap dedaunan pohon. Pohon rambutan yang masih setia berdiri dan memberi kepada santri itu seperti siap mengamini. Meluncurlah doa-doa terbaik, harapan-harapan terindah, dan keluh kesah pada alamat yang tak salah untuk kemajuan si taman surga bagi para pengasah pemahaman agama. Kemesraan malam yang apik terpelihara dan merahasia bertahun-tahun tentang bagaimana kekuatan doa menjadi senjata paling rahasia dalam membangun Al-Muhajirin.

(Doa-doa bahasa Arab)

Cercaan dan hujatan yang mewarnai perjalanan pesantren terbesar di Purwakarta ini, terutama pada awal kelahirannya, menjadi bekal untuk semakin larut dalam kedekatan amat dekat dengan Allah Pembolak-balik rasa dalam sukma bila malam tiba. Selalu mengkomunikasikan Al-Muhajirin kepada Allah, itulah yang setia Pak Abun lakukan. Komunikasi spiritual ini kemudian membekaskan keberanian untuk membawa Al-Muhajirin ke dalam pembicaraan dengan sebanyak mungkin orang. Dengan  keluarga, teman, pejabat, teman, keluarga, hartawan, pengusaha dan kaum intelektual, Al-Muhajirin setia jadi tema bicara. Al-Muhajirin adalah cinta mati perjuangan Pak Abun. Kemanapun, dimanapun, dengan siapapun, dan apapun kesibukan adalah untuk kesuksesan Al-Muhajirin. Melalui Al-Muhajirin inilah membina umat untuk kejayaan Islam divisikan.

Selama Al-Muhajirin membangun, Pak Abun juga tak luput bermunajat pada Allah SWT. Setiap hari melakukannya, sepanjang malam melakukannya. Pak Abun juga melakukan sebuah amalan dan wirid-wirid khusus yang didapatnya dari KH Yusuf Taji, seorang ulama kharismatik dari Wanaraja Garut. Ulama yang masih ada hubungan kerabat dengan abahnya itu memberikan dua amalan sebelum dan sesudah tidur yang  harus dilakukan Pak Abun. 

Masih Banyak Kekurangan


Sukses, maju, dan berkembang pesat! Itu barangkali apresiasi banyak orang tentang Al-Muhajirin. Tetapi untuk sosok yang memakmurkan keheningan malam dengan doa-doanya itu, tidaklah demikian. Seumpama padi, makin tinggi semakin merunduk. Seperti itu pula Pak Abun membicarakan sukses Al-Muhajirin. Mereka yang tahu dan mengerti perjalanan Al-Muhajirin, mengerti pula bahwa kondisi Al-Muhajirin sampai hari ini adalah wujud kesuksesan sebuah perjuangan pendidikan Islam menuju kondisi yang ideal. Tetapi tidak demikian dengan sosok pendirinya. Pak Abun justru melihat masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan yang harus terus ditutupi dan diperbaiki. Siapapun boleh melabelkan sukses kepada Al-Muhajirin atau sebalikanya. Namun itu tidak akan membuat terlena dalam rasa cukup, apalagi klaim sempurnaan. Al-Muhajirin akan terus melaju ke depan menuju visi tertingginya. Pujian tidak akan melarutkan dalam keterlenaan seperti juga cercaan tidak akan menyurutkan perjuangan. Maju menatap masa depan menuju impian 10-20 tahun mendatang, bahkan lebih jauh dari itu, itulah satu-satunya pilihan.

Siapapun yang sehati sepikir, dialah teman berjuang. Satu visi meninggikan kalimat Allah SWT. Satu visi menggapai ridla Allah SWT. Satu visi mencerdaskan umat, menyelamatkannya dari terpuruk dan terbelakang. Dengan mereka yang bervisi sedemikian itulah sejak awal, sekarang, dan seterusnya ke depan, Pak Abun berjuang. Tak peduli apapun kedudukan dan peran mereka, selama dalam visi itu, dengan merekalah perjuangan pendidikan ini akan terus berjalan. Tukang sapu, tukang tembok, atau apapun yang bisa mereka lakukan untuk mengawal perjuangan, dengan merekalah suka dan duka berbagi. Terlebih lagi dengan mereka yang memiliki ilmu dan pemikiran.

Tak sekadar ajakan dan tawaran, keteladanan itulah yang Pak Abun jaga dengan baik. Di pagi, siang, atau sore hari, tak ada keseganan baginya untuk memungut sampah yang berserakan. Ketika sebanyak mungkin orang diajak untuk berkorban membesarkan Al-Muhajirin, jauh sebelumnya pengorbanan itu telah ditunjukkan sebagai keteladanan.Keuntungan bisnis percetakan, gaji dan pendapatan bulanan, belum lagi keringat, tenaga dan pemikiran di siang dan malam berderet memberikan kesaksian.Ya, keteladanan menjadi kunci sukses sebuah perjuangan.

Tak ada perjuangan tanpa rintangan. Perjalanan 19 tahun merancang sebuah pendidikan Islam ideal yang dilakukan Pak Abun hingga hari ini masih berakrab ri dengan rintangan. Dari yang paling ringan dan mudah diselesaikan, sampai yang amat berat dan tak mudah dituntaskan. Dari urusan pribadi sampai hiruk pikuk perpolitikan. Dari mulai umpatan sampai ancaman. Dari kesalapahaman sampai yang benar-benar kebencian. Tapi, itulah fitrah memperjuangkan kebenaran.

Bila menyerah adalah jawaban untuk semua perintang itu, tentu tak mewujud sewujud hari ini Al-Muhajirin kini. Maka dalam kamus perjalanan hampir 20 tahun Al-Muhajirin, Pak Abun tak pernah menyisipkan kata menyerah. Berusaha dan fokus pada pencarian jalan keluar itulah yang dilakukan. Bahkan dengan sangat piawai, pedih dan sedih akibat perintang berwujud segala macam itu, tersembunyi dan merahasia nyaris tak dibagi pada siapa-siapa.

Bukan karena ada beking orang, kekayaan dan kekuasaan, tetapi karena keyakinan pada janji Allah SWT yang telah mengilhamkan bagaimana Al-Muhajirin dikembangkan. Janji-Nya yang amat menghibur seberat apapun perjuangan. Janji-Nya bahwa dalam setiap satu kesulitan perjuangan, ada dua kemudahan yang Allah hadiahkan. Janji bahwa beragam kemudahan pada saatnya akan Allah datangkan, dari situlah kata menyerah tak pernah menjadi pelarian. Ya, ayat إن مع العسر يسرا فإن مع العسر يسرا (Sesungguhnya bersama satu kesulitan ada kemudahanSesungguhnya bersama satu kesulitan itu ada kemudahan yang lain) begitu menjadi pusaka bagi Pak Abun dalam menghadapi segala bentuk rintangan dan tantangan. Tak heran, bila saat ada kesulitan, Pak Abun pun mengajak para santri membaca berulan-ulang kelengkapan surat berisi janji beragam kemudahan itu.

Kepasrahan, kebersamaan, keteladanan, dan ketangguhan telah menjadi resep-resep Pak Abun dalam menjaga konsistensi perjuangan. Demi melestarikan kepercayaan dan rasa memiliki umat terhadap Al-Muhajirin, keterbukaan menjadi warna bagaimana Al-Muhajirin dibesarkan. Secara proporsional, Pak Abun memberikan kepercayaan kepada banyak pihak yang bukan keluarganya. Secara proporsional pula banyak orang bisa tahu dari mana dan ke mana dana dialokasikan.Keterbukaan atau open management ini dalam kadar yang terjaga agar tidak berujung pada kebablasan. Ibarat rumah dengan banyak kamar, ada kamar yang belum saatnya bisa dimasuki semua orang.

Selain terbuka, kyai yang sejak santri setia pada peci ini, juga sangat menjaga kepercayaan. Sekali percaya pada orang, sepenuhnya kepercayaan diberikan. Meskipun boleh jadi akan ada yang menyalahgunakan kepercayaan yang diberikannya, Pak Abun tetap selalu beprasangka baik agar hubungan tetap bersih. Aura husnudzan inilah yang dipancarkan pada semua komponen Al-Muhajirin sebagai wasiat bahwa perjuangan harus dibangun dengan kesucian pikiran dan ketulusan hubungan.

Bagian Lima

Kata Mereka

Mantan Bupati Purwakarta, H. Dedi Mulyadi, SH.

“Al-Muhajirin adalah Pilar…”

Dari aspek perjalanan pemerintahan, setiap pemerintahan pasti memerlukan rakyat yang memiliki kualitas, baik kualitas jasmaniah maupun kualitas ruhaniah. Nah, Al-Muhajirin merupakan sebuah lembaga pendidikan yang mengurus pendidikan mulai dari tingkat pra-sekolah, sekolah dasar, bahkan hingga perguruan tinggi, yang tentunya memiliki kontribusi yang positif di dalam upaya membangun kualitas manusia itu. Dengan demikian, keparipurnaan personal, keparipurnaan individual atau insan kamil, itu bisa menjadi salah satu orientasi bagi pendidikan di Kabupaten Purwakarta dan Al-Muhajirin merupakan salah satu pilar bagi pengembangan sistem dunia pendidikan di Purwakarta, terus kemudian dunia pesantren, pendidikan kultur, serta dunia sosial dengan adanya KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Al-Muhajirin yang pengelolaannya relatif professional.

Ya, setiap lembaga, setiap organisasi, setiap kelompok pasti memiliki kelebihan dan pasti memiliki kekurangan. Kelebihan Al-Muhajirin adalah mampu melakukan proses adaptif terhadap apa yang menjadi trend kebutuhan masyarakat. Misalnya begini, ketika berbicara pendidikan dasar, Al-Muhajirin mengembangkan Sekolah Dasar, tidak membuat Madrasah Ibtidaiyah atau Madrasah Diniyah. Artinya itu kan sebuah ijtihad yang dilakukan. Ketika misalnya trend Sekolah Dasar lebih diminati oleh masyarakat, Al-Muhajirin cenderung untuk mengembangkan Sekolah Dasar Plus, yang plus tersebut di dalamnya merupakan sistem nilai pendidikan di madrasah-madrasah. Artinya kan tercapai dua-duanya. Aspek-aspek kultur yang berbasiskan madrasah juga tercapai kemudian aspek-aspek yang terstruktur, yang  sekolah dasar, juga ada. Nah, kecerdasan dan kecermatan terka market yang terkelola seperti Al-Muhajirin tidak semua orang berani melakukan. Keberanian yang pertama adalah berani berspekulasi. Keberanian yang kedua adalah berani berbeda. Nah, Al-Muhajirin merupakan sebuah lembaga Islam yang berani berbeda dibandingkan yayasan-yayasan Islam lainnya.

Saya sudah senang melihat Al-Muhajirin mengembangkan Sekolah Dasar di luar lingkungan pondok pesantren sekarang. Artinya Al-Muhajirin mencoba memahami bahwa lingkungan sudah relatif berat untuk pengembangan sebuah lembaga pendidikan. Dan kemungkinan bisa jadi ke depan pesantrennya juga mengambil tempat yang berbeda sehingga orientasi-orientasi arsitektur yang hari ini sudah mulai saya sukai di Purwakarta ini oleh Al-Muhajirin harus segera terus ditingkatkan. Arsitektur sekolah, artisektur masjid, dan arsitektur-arsitektur lainnya juga harus mulai ditingkatkan karena sepanjang sejarah peradaban Islam itu sangat bersinggungan erat dengan persoalan arsitektur. Peradaban Islam di dalamnya dicerminkan oleh arsitektur masjid dan arsitektur lainnya.

Harapan  saya adalah Al-Muhajirin terus berkiprah. Seiring dengan perubahan dinamika kehidupan masyarakat, maka rakyat kecenderungannya boleh berubah. Namun,yang tidak boleh berubah kan akidahnya. Dengan demikian, Al-Muhajirin memberikan tempat bagi setiap orang yang mengalami kecenderungan untuk berubah tetapi secara akidah tidak berubah. Artinya, secara esensial Al-Muhajirin senantiasa marketable terhadap tuntutan dan kebutuhan masyarakat karena pendidikan hari ini adalah pendidikan yang juga harus membaca market.

Hj. Zahra Haiza Azmina, M.Ag

Putri ke-2; Bendahara Yayasan, Manajer BMT

“Bapak adalah Imam bagi Keluarga dan Umat”

Saya melihat figur Bapak sebagai orang tua yang sangat bertanggung jawab. Bapak adalah imam bagi keluarga dan umat. Perjuangan Bapak sepertinya tidak akan berhenti, karena baginya berhenti berarti mati. Adapun Ibu, beliau adalah ibu bagi semua. Beliau dengan sabar dan telaten telah mengabdikan diri untuk Bapak, anak-anak dan orang lain yang membutuhkannya. Perpaduan Bapak dan Ibu telah menjadikan Al-Muhajirin seperti sekarang. Ini tak terlepas dari bantuan orang-orang yang Bapak percayai.

Masih  lekat dalam ingatan saat saya ketika pertama kali belajar bersama Bapak. Lembar demi lembar kitab dipelajari. Untai kata penuh makna diresapi. Tentang cinta Allah, para nabi, kasih para sahabat, mahabbah para sufi, dan lainnya. Kemudian hari mulai beranjak dan tenggelam bersama senja untuk memulainya lagi esok hari bersama sang fajar dan mentari. Semua itu berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berlalu ditanamkan dalam jiwa, tumbuh dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang tinggi di awan.

Terimakasih untuk Mamah dan Bapak. untuk hati yang senantiasa lapang dan kesabaran yang tak henti dalam perjuangan. Teriring harap kami menjadi mutiara terindahmu dalam setiap peran yang dimainkan di bumi. Semoga kami dapat meneladanimu untuk  mewakafkankan jiwa dan raga demi keagungan agama, mencintaimu dengan mempersembahkan bakti dan pengorbanan di jalanNya. Semoga rahmat Allah swt selalu menaungimu.***

Hj. Kiki Zakiyah Nuraisyah, LC

Putri ke-3, Ketua LTTQ, dan Kabid Usaha Yayasan Al-Muhajirin

“Bapak Rela Mengorbankan Apa yang Dimiliki untuk Umat”

Pesantren ini dulu memang kecil, kemudian menjadi besar. Satu pesan bapak yang selalu beliau ucapkan kepada saya, berbuatlah untuk Allah, berjuang untuk agama, maka dunia akan mengikuti. Jangan tergoda dunia karena dunia akan melalaikan.

Istiqomahnya Bapak dalam membina umat membuat beliau fokus dan rela mengorbankan apa yang beliau punya untuk kepentingan umat.

H. Anang Nasihin, MA

Menantu, Ketua DSM, Pengasuh Asrama Putra

Bapak adalah sosok ulama kharismatik  di zaman modern ini. Beliau sangat sederhana tetapi memiliki visi yang jauh ke depan. Sangat visioner. Kajian keilmuannya sangat luas, namun tetap sederhana dan mudah dipahami oleh semua pihak. Tulisan-tulisannya sangat menyentuh dan akurat. Karya-karyanya bisa dipahami dan menjadi rujukan banyak pihak.

Perjalanan hidup Bapak adalah perjalanan hidup orang-orang sukses yang sesungguhnya. pahit getir kehidupan pada masa lalu dilaluinya dengan kesabaran, ketulusan dan ketawadluan. Keberhasilannya hari ini adalah bukti bahwa beliau disiapkan untuk jadi orang hebat dengan masa yang seperti itu.

Dalam kehidupan social, beliau bisa masuk ke dalam lingkungan apapun sehingga ruang gerak dakwah beliau tidak sempit. Semua kalangan bisa didakwahinya dari mulai masyarakat bawah sampai para pemimpin.

KH. Habib Hasan Syua’ib

(Ketua MUI Kabupaten Purwakarta, Ketua Majlis Pengajian Mesjid Agung Purwakarta)

“Masyarakat Ikut Bangga Al-Muhajirin”

Saya sangat senang dengan keberadaan Al-Muhajirin. Murid-muridnya bagus hasilnya. Terus meningkat kegiatannya. Tahun demi tahun tempat untuk belajar terus bertambah. Apalagi sekarang sedang membangun mesjid khusus akhwat, santri putri, yang memang sangat dibutuhkan. Berangsur-angsur apa yang seharusnya dilakukan terpenuhi sehingga ketentraman belajar dan ritual ibadah bisa dilaksanakan secara teratur.

Pelayanan Al-Muhajirin untuk kebutuhan masyarakat sangat bagus dan dirintis terus. Masyarakat juga merasa bangga dengan Al-Muhajirin kerena beberapa factor; pertama, karena terletak di tengah kota. Kedua, Al-Muhajirin sudah mengembangkan pendidikan di kampus barunya. Insya Allah, saya melihat Al-Muhajirin memiliki masa depan cerah.

Saya berharap kebersihan di pesantren lebih diperhatikan seperti di tempat wudlu dan tempat buang air. Jangan sampai tercium baunya karena kotor. Kebersihan sangat dituntut supaya santri betah. Santri harus betah di pesantren supaya berhasil dan untuk itu masalah kebersihan dan air sangat penting.

DR. Burhanuddin TR

(Dosen UPI Purwakarta, Cendekiawan Muslim, Alumni KBIH Al-Muhajirin)

“Al-Muhajirin Surprise”

Al-Muhajirin berkembang sangat pesat. Faktor pendukung yang dimiliki membuat percepatannya sangat signifikan. Dari sejak pendirian TK kemudian pendirian pesantren, santri yang pada mulanya hanya segelintir orang kini telah mencapai ribuan.

Saya berharap, Al-Muhajirin ke depan harus menjadi pesantren yang dapat  ditiru pesantren lain, paling tidak di Purwakarta, umumnya secara nasional. Dan hal ini sangat rasional karena didukung oleh staf pengajar yang berbasis pesantren dan pendidikan formal dari mulai S1 sampai S3. Ke depan, ada satu harapan agar Al-Muhajirin mampu melahirkan ulama yang handal sesuai visi dan misi. Kalau sekarang salah satu alumni sudah ada yang  menjadi kiai yang saleh, maka ke depan harus lebih banyak alumni yang dilahirkan  sebagai sosok yang saleh dan menjadi teladan bagi masyarakat. Saya yakin, selain Knowledge Oriented, Al-Muhajirin mampu juga melakukan Attitude Oriented.

Saya tahu perjuangan Al-Muhajirin dari mulai pembebasan tanah. Al-Muhajirin kemudian berkembang sangat pesat. Bisa dikatakan Al-Muhajirin ini adalah surprise. Setingkat Al-Muhajirin tidak perlu lah merasa khawatir.

DR. Agus Muharram, M. Pd.

(Ketua ICMI Kabupaten Purwakarta, Ketua Yayasan Yasri, dan Pemilik SMK Farmasi serta SMK Bina Budi)

“Al-Muhajirin Yayasan Terbesar…”        

Saya tahu persis perjuangan Al-Muhajirin itu merintis dari nol. Namun, kiprahnya sangat bagus sehingga saya berani katakan bahwa Yayasan Al-Muhajirin adalah yayasan terbesar saat ini di Purwakarta. Pengelolaan pendidikan mulai level PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), SD Plus, SMP/MTs, SMA/MA hingga Sekolah Tinggi menunjukkan betapa pasangan Hj. Euis Marfu’ah, MA, (yang tidak perlu diragukan kapabilitasnya di bidang pendidikan) dan KH. Abun Bunyamin, MA. (yang piawai dalam berkomunikasi dengan berbagai kalangan) membuat masyarakat yakin betul untuk mempercayakan pendidikan anak-anaknya di Al-Muhajirin.  Saya kira ke depan Al-Muhajirin bisa menjadi lembaga yang menasional bahkan internasional. Teruslah berbuat untuk pembinaan umat. Ikuti terus kompetisi-kompetisi yang menggali potensi siswa serta tingkatkan kesolidan internal. Teruslah mensejahterakan umat, terutama komunitas internal (guru-guru dan seluruh pekerja di Yayasan Al-Muhajirin.***

Ir. Awod Abdul Gadir (Aktivis Politik)

“Al-Muhajirin Jangan Terjebak Politik”

Saya melihat Al-Muhajirin sekarang memang sudah berkembang.  Pesantren  adalah salah satu unsur yang harus menjalin sinergitas dengan pemerintahan, baik itu eksekutif maupun legislatif. Namun, bukan berarti kemudian pesantren justru harus bergantung pada pemerintah. Kalau pesantren sudah bergantung pada pemerintah dan senantiasa mendapat bantuan hal ini akan menyebabkan ewuh pakewuh sehingga nantinya amar makruf nahyi mungkar susah ditegakkan. Ada hal yang harus diluruskan bahwa kalau pesantren dapat bantuan itu adalah karena memang telah ada anggaran untuk itu, bukan kemudian harus ada deal-deal politik . Jangan sampai Al-Muhajirin terkooptasi dengan kondisi semacam itu. Sudah seharusnya pesantren tetap fokus pada ruh religious supaya menghasilkan lulusan yang benar-benar dapat menegakkan amar makruf nahyi mungkar.

Nurmala

(Eks Kepala Biro SDM PJT II dan kini menjabat selaku Ketua Satuan Pengawas Intern PJT II, Alumni KBIH Al-Muhajirin)

Al-Muhajirin Pintu Gerbang Sukses Dunia Akhirat…”

Saya kira, adanya Yayasan Al Muhajirin di Purwakarta merupakan pintu gerbang menuju sukses dunia dan akhirat . Al-Muhajirin telah nyata-nyata ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, umumnya, dan Purwakarta, khususnya, dengan melaksanakan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga mendidik level Sekolah Tinggi Agama Islam. Dengan demikian, keberadaan dari Al-Muhajirin ini sangat bermanfaat untuk Purwakarta. Saya berharap Al-Muhajirin dapat meningkatkan kualitasnya supaya  dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dan siap pakai.

Irfan Fauzan, Lc.

(Pengusaha Muda Purwakarta)

“Identitas Al-Muhajirin sebagai pesantren jangan sampai luntur…”

Al-Muhajirin adalah sebuah institusi yang memiliki potensi untuk berkembang dengan sangat luar biasa. Menurut saya, penting untuk menyiapkan regenerasi yang benar-benar siap untuk melanjutkan Al-Muhajirin. Jangan sampai terjadi sentralistik. Saya kira Al-Muhajirin sudah mulai melakukan hal itu. Yang pasti, identitas Al-Muhajirin sebagai pondok pesantren harus tetap dijaga dan jangan sampai luntur.

Drs. Wawan Suherwan, M.Pd (Kepala SMP Al-Muhajirin)

“Kebesaran Al-Muhajirin adalah buah perjuangan…”

Selaku bagian dari orang  yang mendampingi Bapak (KH. Abun Bunyamin, MA,– Red) sejak di Aliyah Salafiyah, saya tahu persis keinginan bapak membangun  pondok  sangat besar. Diawali dari sebuah pondok kecil dengan konsep makan terpusat (santri tidak masak sendiri tapi disediakan oleh dapur), salaf dan pembelajaran kitab diutamakan dimulailah kegiatan. Tumpang tindihnya berbagai kepentingan membuat saya sering mendapat  teguran dari Bapak karena terpaksa berada ditempat lain saat seharusnya ada di sekolah.

Saya ingat bagaimana saya harus menunggu beras di penggilingan beras agar santri bisa makan, mencari kayu bakar untuk masak. Subhanallah, kalau tidak istiqomah saya tidak tahu bagaimana jadinya. 

Oleh karena itu, keberhasilan Al-Muhajirin saat ini tak lepas dari istiqomahnya founding father dan orang-orang kepercayaan beliau dalam membangun Al-Muhajirin. Tidak ada keberhasilan yang diperoleh dengan hanya membalikkan telapak tangan. Kerja keras, loyalitas, istiqomah, tawasau bil-haq dan tawasau bissobri, menjalankan amanah dengan baik merupakan prestasi agar mendapat reward dari Allah. Besarnya Al-Muhajirin merupakan hadiah Allah atas perjuangan yang tak kenal lelah.

H. Ade Mumuh (Pengajar Kajian Kitab Salaf)

“Bapak mengorbankan hartanya untuk berjuang…”

Awal kedatangan saya ke Al-Muhajirin adalah mengantar guru saya  (KH. Khoer Afandi) meresmikan pondok pesantren mungil di Purwakarta. Eh ternyata saya menjadi utusan dari Manonjaya untuk mengajar kitab di Al-Muhajirin.

Subhanallah, perjuangan di Al-Muhajirin sungguh menantang. Mulai dari gangguan lingkungan sekitar yang tidak mau ada pesantren disini sampai, hinaan dan cemoohan terhadap Bapak (KH. Abun Bunyamin, MA) selaku tokoh agama berlontaran. Kalau mau cerita mirip sekali seperti saat Rasulullah menyiarkan agama Islam. Dihina adalah makanan sehari-hari kita. Namun Bapak terus berjuang, bahkan untuk makan santri, jika tidak menunggu beras di pengggilingan, tahu-tahu kami digembirakan oleh teh Lolom (juru masak pesantren saat itu) yang mengatakan bahwa hari ini santri-santri bisa makan. Tadi malam Bapak antar beras.

Kami terharu, Bapak telah mengorbankan hartanya untuk berjuang menegakkan syiar Islam. Demi tercapainya Mukmin Muttaqin, Ulama’ul ‘Amilin dan Imamul Muttaqien. Semoga perjuangan Bapak dapat diteruskan oleh generasi berikutnya

Cece Nurhikmah, M. Ag. (Kepala SD Plus Al-Muhajirin)

”Terbaik untuk Umat”

Banyak sekali hal yang dapat dijadikan pelajaran bermakna dalam  hidup selama saya bergabung di Al-Muhajirin. Saya menemukan keselarasan tujuan lembaga ini dengan tujuan hidup saya yaitu;  khairunnas anfa’uhum linnas (sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya). Oleh karena itu saya berharap eksistensi Al-Muhajirin selalu ada di benak umat Islam dikarenakan perjuangannya memberikan yang terbaik bagi kepentingan umat.

Hj. Olis Setiawati, S.Pd (Kepala TKA Al-Muhajirin)

Saya bersyukur telah menjadi bagian Al-Muhajirin. Kepercayaan dan kesempatan yang diberikan oleh lembaga ini sangat berarti dan berkesan dalam perjalanan hidup saya. Saya berharap lembaga ini terus eksis dan maju, dapat memberikan yang terbaik untuk umat, lingkungan sekitar, dan komunitas yang tergabung di lembaga ini.

Dewi Ratnengsih, S. Pd.I. (Kepala PAUD Al-Muhajirin)

Berjuang bersama Al-Muhajirin merupakan sebuah pengalaman yang berkesan dalam hidup saya. Pahit getir sudah saya rasakan. Namun semua itu terobati dengan menyaksikan Al-Muhajirin saat ini. Saya berharap Al-Muhajirin ke depan lebih maju lagi, lebih berkualitas, kuantitasnya bertambah dengan trus memperbaiki apa-apa yang menjadi kekurangan saat ini.

Fathurohan S Kanday

(Alumni angkatan ke-3, Wartawan Senior, Direktur Portal Berita www.pojoksatu.id )

“Al Muhajirin Mampu Merajut Pendidikan Berkualitas”

Kelas 5 SD menjadi masa tersulit. Semangat bersekolah, gairah merangkai mimpi, dan menanam cita-cita terasa ruwet pada tahun 90-an itu. Ekonomi sulit dan kedua orangtua yang lama tiada seolah ingin menggugurkan masa remajaku di Purwakarta. Tapi saya tak mau dikalahkan keadaan. Pendidikan harus jalan terus karena menjadi anak mandiri adalah kewajiban.

Meski masa kecilku dipenuhi belajar, kakek yang mengasuh saya sejak bayi belum melihat perubahan saya dalam berprilaku dan bersikap. Saya terlihat tidak punya cita-cita dan kebingungan menentukan masa depan. Tiba saatnya kakek memasukan saya ke Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Al-Muhajirin di Jalan Veteran Purwakarta.

Kali pertama masuk, TPA tak ubahnya tempat ngaji di mushola dekat rumah dan kalah mewah dibanding madrasah tempat saya belajar sejak kelas 1 hingga kelas 5 SD. TPA Al Muhajirin saat itu masih sebuah rumah kecil. Saya, yang pastinya angkatan pertama, bersama lima orang lainnya belajar berhimpitan di sebuah kamar tidur. Tapi entah kenapa saya langsung jatuh hati pada cara belajar dan metode mengajar di bawah bimbingan langsung Bapak KH Abun Bunyamin. Saya terasa mudah menyerap ilmu agama dibanding saat menempuh pendidikan agama di madrasah mewah yang tak jauh dari rumah. Saya betah sekali belajar di TPA Al-Muhajirin meski harus menempuh perjalanan satu jam dari rumah menggunakan angkutan kota.

Jenjang SD berakhir, selesai juga pendidikan saya di TPA Al-Muhajirin. Nilai Ebtanas Murni atau NEM (sekarang hasil UASBN) sangat memuaskan, sangat cukup masuk ke SMP favorit di Purwakarta. Saya meyakini itu karena saya bergabung di TPA Al Muhajirin. Sebab, sejak saya belajar di ‘TPA rumahan’ itu, nilai saya di SD turut terkatrol. Saya selalu dapat rangking di kelas. Kakek pun puas yang dibuktikan dengan menghadiahi cokelat, sebuah makanan mewah yang sangat langka saya nikmati saat itu.

Selepas SD, kakek tidak memilih memasukan saya ke SMP favorit di Purwakarta. Dia memilih memasukan saya ke madrasah tsanwiyah. Lagi-lagi di Al-Muhajirin, lagi-lagi angkatan pertama. Selain berstatus siswa MTS yang saat itu dianggap sebagaian teman SD sebagai sekolah kampungan, saya pun berstatus santri Pondok Pesantren Al-Muhajirin. Tapi entah kenapa saya begitu menikmati hari-hari ‘mondok’ di Al-Muhajirin, mulai dari mengaji, mencuci pakaian sendiri, sampai antre makan dan mandi. Menjadi santri, kemandirian benar-benar harus terpatri dalam hati.

Selama kurun MTs itu, Al Muhajirin menapaki masa pembangunan. Pondok pesantren yang lebih besar dibangun Bapak KH Abun Bunyamin di Gang Kenanga. Setiap hari, seusai mengenyam pendidikan umum di MTs, kami wajib gotong royong membangun kobong-kobong santri. Semua teman riang karena akan punya pondok yang besarrrr…!

Tidak terasa, delapan tahun saya hidup mandiri di Al Muhajirin: 2 tahun di TPA, 3 tahun di Mts, dan 3 tahun di madrasah aliyah. Selama itu, Al Muhajirin mampu merajut pendidikan berkualitas bagi saya. Selama di Al Muhajirin, saya tak pernah merasakan gap sosial atau ketimpangan hubungan antara golongan yang kaya dan miskin atau yang terdidik dengan tidak terdidik. Dulu saya tak pernah diperingati sedikit pun dari pihak sekolah Al Muhajirin karena terlambat membayar SPP berbulan-bulan.

Saya merasakan Al Muhajirin telah menjadi solusi tepat pendidikan dan pembangunan diri. Al Muhajirin telah memberi penekanan pada saya untuk learning (belajar) daripada teaching (mengajar) sehingga saya bisa mandiri dalam berbagai sisi hidup. Pendidikan yang berfokus pada learning itulah yang membuat saya kreatif mengelola kehidupan dunia dan akhirat. Irama belajar itu terus membekas saat menempuh pendidikan tinggi di Yogyakarta dan kerap membekas di dunia kerja. Hingga akhirnya saya bisa menduduki kursi direktur di sebuah penerbitan surat kabar lokal ternama di Bekasi.

Kultur yang baik selama di Al Muhajirin itu tak luput dari kultur edukasi yang selalu mendorong siswa-siswanya mengembangkan keterampilan dasar, keterampilan untuk berani berpikir, dan keterampilan secara individu. Tentu peran strategis itu ada pada sejumlah guru-guru saya di sana. Kesederhanaan yang terhormat Bapak KH Abun Bunyamin, Insya Allah selalu menjadi cermin hidup saya. Ketegasan dan kesabaran sejumlah guru-guru di Al Muhajirin juga selalu menjadi teladan saya dalam memimpin berbagai organisasi sosial dan bisnis. Semoga tetap istiqomah.***


Budi Solihin, M.Ag

(Alumni Angkatan Pertama MTs, Angkatan ke-3 MA, Dosen Ekonomi Syariah)

“Berhasil Cetak Kader”

Ketika Nabi Muhammad Saw. memobilisasi tentara untuk maju ke front perang, dalam front tersebut, ada kelompok yang sengaja digembleng khusus untuk benar-benar tafaqquh fiy dien (menguasai ilmu agama secara mendalam) sehingga mereka menjadi acuan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dan tugas meraka adalah sebagai mundzir (pengingat). Dalam perkembangannya, proses kaderisasi kelompok mundzir ini terus diperhatikan secara khusus. Pada masa khalifah, proses kaderisasi diformalkan dalam bentuk madrasah. Di Indonesia, proses kaderisasi ini diformalkan dalam bentuk pesantren, sehingga pondok pesantren menjadi lembaga untuk mengkader kelompok mundzir (pengingat).

Dari sinilah sejarah pesantren dimulai. Jadi, tidak benar bahwa semangat mendirikan pesantren diambil dari budaya India atau Hindu. Apalagi jka diingat bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui jalur laut oleh beberapa ulama Arab sendiri. Mereka berdagang sambil berdakwah, lalu setelah mendapatkan banyak pengikut, mereka mendirikan pesantren. Demikian seterusnya, hingga pesantren menduduki posisi yang sangat penting dalam struktur sosial, terutama masyarakat pedesaan.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sejak dulu hingga saat ini berusaha menerapkan nilai-nilai islam dalam pendidikannya baik ditinjau dari aspek ibadah maupun muamalah yang disampaikan melalui proses pembelajaran. Tujuan proses pembelajaran ini adalah agar peserta didik (santri) dapat mengaktualisasikan dirinya dan mampu mengamalkan nilai-nilai islam dalam berbagai aspek kehidupan di masyarakat.

Segala potensi yang dimiliki manusia  memiliki hubungan yang kuat dengan pendidikan, dan pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memperhatikan aspek manusianya dengan tujuan yang totalitas. Pendidikan adalah alat yang paling ampuh untuk melakukan perubahan. Karena itu, fungsi dari proses pembelajaran dalam pendidikan merupakan transformasi nilai-nilai terhadap perubahan sosial masyarakat secara menyeluruh.

Transformasi nilai-nilai ini sangat dimungkinkan mampu dilakukan oleh pesantren, karena pesantren berperan sebagai lembaga yang mengembangkan nilai moral-spiritual, informasi, komunikasi timbal balik secara kultural dengan masyarakatnya dan tempat pemupukan solidaritas umat.

Eksistensi pesantren tidak akan terlepas dari peran ulama sebagai pimpinan pesantren. Oleh karena itu, dengan sendirinya, para ulama atau kiai yang berbasiskan pesantren menempati posisi penting pula dalam masyarakat. Mereka dibutuhkan tidak hanya untuk mendidik dan membimbing para santri, namun juga untuk menjalankan peran kulturalnya ditengah masyarakat. Dengan demikian, pesantren dan ulama adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan.

Dalam konteks itulah, peran Bapak patut diperhitungkan karena beliau merupakan sosok ulama yang berhasil membawa pesantren Al-Muhajirin menjadi pesantren yang mampu mengkader santri menjadi mundzir dan berhasil memberi warna pada kehidupan sosial masyarakat menjadi masyarakat yang religious.

H. Rosadi Alibasa

Alumni MA Angkatan ke-2; Pengusaha, Pemilik Percetakan Shakira


Dengan kelembutan beliau dan kasih sayang dalam mendidik membuat kita semakin baik dan dan bisa menyerap apa yang disampaikan. Seumur hidup Saya tidak pernah menemukan beliau marah dengan suara yang keras. Tapi seandainya pun marah selalu dengan suara yang lembut dan santun. Itulah pendidikan penuh kasih sayang. Ketika dua orang bertengkar ataupun marah pasti akan mengeluarkan suara tinggi meskipun berdekatan. Menunjukan betapa jauhnya hati dan kasih sayang. Tapi seorang yang penuh kasih, akan bicara pelan dan lembut. Bukankah sepasang kekasihpun yang sedang dilanda cinta akan berbicara dengan berbisik. Menunjukan betapa dekatnya hati mereka. Malah dengan pandanganpun mereka sudah mengerti.

Salah satu yang membuat saya sampai sejauh ini adalah kasih sayangnyalah dalam mendidik saya. Meskipun saya waktu menimba ilmu di Muhajirin sering membuat ulah tapi beliau mendidik saya dengan kasih sayang.

Ibu Arkat (Tetangga Al-Muhajirin Yang Berjasa Besar)

“Al-Muhajirin Dapat Mengatasi Segala Bentuk Gangguan”

Saya turut senang dengan kemajuan al-Muhajirin saat ini. Dulu, pesantren ini sering mendapat kesulitan. Mulai dari lahan, gangguan warga dan lain sebagainya. Namun Alhamdulillah semua itu teratasi. Almarhum suami saya selalu berpesan, jangan pernah menyesal berinfaq dijalan Allah, hidup kita tidak akan lama. Apa yang kita dermakan akan menjadi pahala mengalir selama kita menunggu bertemu Allah. Semoga Al-Muhajirin pun, yang kini sudah sangat besar ini.  mampu berderma bagi kepentingan masyarakat disekitarnya.

BERKAH PATUH PADA ORANG TUA

H. ADANG SULAIMAN

kakak kandung terdekat

Sebagai kakak, saya menghabiskan waktu kanak-kanak bersama Pak Abun sampai usia remaja. Sekitar  usia 14 tahun waktu itu. Selepas itu, kami berpisah. Saya belajar ke Gontor Pak Abun ke Majalengka.

Sewaktu kecil Pak Abun orangnya pendiam, jarang main, dan penurut kepada orang tua. Sikapnya terhadap Emah dan Abah, orang tua kami, inilah yang menonjol sejak kecil. Berbeda dengan saya dan saudara yang lain, Pa Abun sangat taat, dan sering membantu orang tua di rumah. Bila ada permintaan dan tidak dikasih, dia tidak ngeyel. Dalam hal waktu juga sangat disiplin. Waktu untuk shalat, belajar, dan main sangat teratur sedemikian rupa. Dalam pergaulan kami waktu kanak-kanak, Pa Abun sering mengalah bila ada ketidakcocokkan. Begitu juga dengan teman sepermainan lainnya, Pa Abun lebih memilih mengalah daripada berebut atau berantem.

Saya tahu, perjuangannya membuat pesantren dimulai dari mengajar ngaji anak-anak kecil di rumah. Dari situ kemudian berpikir untuk mengembangkan pendidikan ke lokasi yang lebih luas. Pa Abun sangat gigih dan telaten berjuang. Meski tidak jarang juga mengalami kegagalan dalam menempuh berbagai upaya membesarkan Al-Muhajirin, dia tidak mudah menyerah. Modal utamanya adalah kesungguhan dan kegigihannya, bukan materi dan uang. Dengan kesungguhannya ini, Pa Abun pun tak sungkan membuka hubungan yang luas dengan berbagai pihak.

Setelah cukup sukses mengembangkan pesantren Al-Muhajirin, Pa Abun seperti masa kecilnya dulu, sangat memperhatikan Abah dan Emah. Karena kelebihan rezeki yang Allah karuniakan dibanding saudara yang lain, Pa Abun bisa memberikan perhatian yang lebih kepada orang tua.

Saya kira kesuksesan Pa Abun sampai hari ini adalah berkat keberkahan ketaatan, kepatuhan, dan akhlak baiknya kepada orang tua.


Penuh Teror dan Ancaman Pembunuhan

Bapak Aca Rukasah dan Pa Udin

Tetangga  Al-Muhajirin

Pada akhir tahun 80-an, Pa Abun membeli sebidang tanah di Gang Kenanga II. Pada tahun itu, tanah tersebut berupa lapangan. Akan tetapi penuh dengan pohon bambu, albasiyah, dan pohon buah-buahan. Saat itu, Pa Abun memimpin sebuah TKA di bawah yayasan Al-Wathon. Sepuluh tahun kemudian, Pa Abun baru membangun sebuah rumah.

Tak lama setelah itu, Pa Abun membangun sebuah bangunan untuk Madrasah Tsanawiyah. Setelah itu ada sejumlah santri berdatangan. Tapi tempat menginap atau kobong tidak ada. Santri terpaksa diinapkan di rumah Pa Abun sendiri.

Rintangan  mulai Pa Abun rasakan saat berniat membangun pondok pesantren di Kebon Kolot. Bahkan, ada sejumlah orang meneror Pa Abun agar mengurungkan niatnya membangun pondok pesantren. Tapi, sebagian lagi ada yang mendukung, hingga rela melakukan ronda malam untuk menjaga pesantren dan keluarga Pa Abun. Dalam cobaan dan tantangan, Pak Abun tetap memantapkan niatnya membangun pesantren hingga mewujud seperti sekarang.

Namun, ancaman tidak hilang begitu saja. Seorang pria yang dikenal ‘kurang waras’, sering menenggak minuman keras, dan seorang resedivis yang sering keluar masuk penjara kerap mengganggu lingkungan pesantren. Itu pada awal 2000. Selain meneror santri dengan melemparkan batu ke pesantren, dia juga sempat mengancam Pak Abun dengan senjata tajam. Pak Abun menghadapinya dengan kesabaran. Pak Abun juga memberikan keyakinan pada santri untuk tetap hanya meminta perlindungan ke pada Allah SWT. Terror dari seorang pria itu pun berakhir.

Dua tahun kemudian, sebuah teror kembali datang. Asrama putri di timur pesantren di duga kuat dibakar seorang tak dikenal. Berkat pertolongan Allah SWT, si jago merah tak sempat menjilat seluruh bangunan asrama.

Rasanya perjuangan beliau seperti perjuangan Rasulullah tatkala memperjuangkan Islam. Pada akhirnya orang yang selalu meneror Al-Muhajirin meninggal dalam keadaan su’ul khatimah. Na’idzubillahi min dzalik.

TERUS KULIAH

Prof. DR. Hamdani Anwar, MA

Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Jakarta

Saya salut, meskipun sibuk dengn berbagai kesibukan mengurus umat seperti di MUI, BAZ, dan pesantren, Pak Abun masih menyempatkan diri dan berhasil kuliah menuntaskan disertasinya dengan baik.

Penuh Kesabaran

H. Deden Zaenudin

Sekretaris Pembangunan Pesantren Tahun 1991

Perkenalan saya dimulai dari berbincang-bincang masalah agama sambal menunggu bus jemputan kujang, dilanjutkan ikut ngaji pada Senin, Rabu dan Jumat sore bersama lima bapak yang lainnya. Kitab yang dikaji tafsir, hadits, dan fiqih. Itu terjadi pada tahun 1986. Silaturahmi kemudian berlanjut saat Pak Abun menjadi RW di Perum Oesman.

Saya tahu Pak Abun menjadi RW karena ada program masjid di Perum Oesman. Pak Abun sebagai ketua di bantu dengan H. Tjanondeng (Alm) dan rekan-rekan lainnya. Pembangunan waktu itu dibuka dengan mengundang Ust. Jalaludin Rakhmat.

Saya  mengenal Pak Abun sebagai sosok tak putus asa. Segala  sesuatu asal dengan bismillah katanya, insya Allah terwujud. Saya juga ikut mengikuti undangan-undangan pengajian ke pelosok kampung, sekalipun hujan mengguyur. Mungkin itu suka dukanya bagi saya dan Bapak.

Bapak juga yang merintis pertama mendirikan TK/TPA di Purwakarta bersama Pak Irham dan Pak Afif (Alm). Dengan bismillah, toko disulap menjadi kelas seadanya. Berkat kegigihannya dengan melibatkan koleganya  seperti Bambang Sutaryono (alm), TK/TPA itu pun terwujud.

Hingga akhirnya Pak Abun mendirikan pesantren. Ini pun dimulai dengan membeli tanah dan dibentuk panitia pembebasan tanah dengan jalan mengedarkan formulir wakaf. Alhamdulillah berhasil atas kegigihan seksi usahanya. Meski terkadang ada hambatan, tapi dapat dilaluai dengan sabar.

Pak Abun adalah orang yang sangat toleran dalam menghadapi perbedaab madzhab. Beliau selalu memaparkan pendapat tiap Imam madzhab dan memberi kebebasan dalam memilih. Saya sangat merasakannya. Saya tidak pernah dilarang beliau untuk membaca buku-buku berbeda madzhab.

Selalu Mendapat Sambutan

Sufyan Sulaiman

Pendamping Pak Abun Tahun Pertama

PAK KH. Abun Bunyamin yang saya kenal pada tahun 1992-1997 merupakan sosok dengan kepribadian yang ulet, disiplin, pede banget, tak mengenal kata menyerah, istiqamah, diplomatik, selalu menjungjung tinggi silaturahmi sehingga apapun yang beliau rencanakan selalu mendapat sambutan dan dukungan dari tokoh, terutama para Kiai. Selamat sukses Pak Abun dan pesantren Al-Muhajirin Purwakarta.


     Efek Ibadah Dan taqarrub Pada Allah

K.R Muhammad Yasin Muthahhar

Penemu Metode Qaidati,  Pimpinan Pesantren Al-Abqary Serang.

Suatu hari saya berkunjung ke rumah beliau. Saya bermaksud memohon doa karena saya sedang merintis sebuah pesantren. Kemudian beliau memberi nasihat yang selalu terngiang di telinga sampai sekarang. Kata kuncinya adalah bangun malam. Saat itu beliu berkata: “keur pantar urang mah, bisa shalat subuh berjamaah tee kaasup kabeurangan…”. Maksudnya bagi orang yang berkiprah dalam perjuangan Islam diantaranya dalam mengelola pesantren, bisa shalat berjamaah subuh tapi tidak sempat shalat malam, sama dengan kesiangan.

Saya tidak banyak mengenal beliau, tetapi dari nasihatnya saya melihat beliau adalah ahli ibadah. Karena atsar ibadah dan taqarrub itulah beliau bisa membangun pondok pesantren terbesar di Purwakarta dan sekitarnya. Mungkin ungkapan ini tepat bagi beliau: jika kita telah memberikan yang terbaik untuk Allah. Maka Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Semoga kita bisa meneladani perjuangan beliau.