Tafsir Q.S. Al-Baqarah ayat 184 – 185

Spread the love

KEMUDAHAN DARI ALLAH
DI BULAN RAMADHAN
Oleh: DR. KH. Abun Bunyamin, MA*)

Q.S. Al-Baqarah: 184
اَيَّامًا مَعْدُوْدتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا اَوْ عَلى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَ اَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
(yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Terjemah Per-Kata
اَيَّامًا
beberapa hari
مَعْدُوْدتٍ
yang tertentu
فَمَنْ
maka barang siapa
كَانَ
(adalah ia)
مِنْكُمْ
di antara  kalian
مَرِيْضًا
sakit
اَوْ 
atau
عَلى
dalam
سَفَرٍ
perjalanan
فَعِدَّةٌ
maka hitunglah
مِنْ
dari
اَيَّامٍ
hari-hari
اُخَرَ
lain
وَ
 dan
عَلَى
 atas
الَّذِيْنَ
orang-orang yang
يُطِيْقُوْنَهُ
 mereka berat menjalankannya
فِدْيَةٌ
 fidyah (denda)
طَعَامُ
 memberi makan
مِسْكِيْنٍ
seorang miskin
فَمَنْ
 maka barang siapa
تَطَوَّعَ
 ia mengerjakan
خَيْرًا
 kebaikan/ kebajikan
فَهُوَ
 maka ia (itu)
خَيْرٌ
 lebih baik
لَّهُ
 baginya
وَ
dan
اَنْ
bahwa
تَصُوْمُوْا
kalian berpuasa
خَيْرٌ
 lebih baik
لَّكُمْ
 bagi kalian
اِنْ
jika
كُنْتُمْ
 kalian
تَعْلَمُوْنَ
 (kalian) mengetahui
A
yat 184 ini diawali oleh kalimat ayyam ma’dudat (beberapa hari tertentu) sebagai keterangan bahwa puasa yang diwajibkan seperti disebutkan pada QS. Al-Baqarah ayat 183 sebelumnya adalah pada hari-hari tertentu di bulam Ramadhan. Allah tidak mewajibkan puasa setahun penuh atau lebih dari itu sebagai keringanan dan kasih sayang bagi orang-orang yang sudah mukallaf.
Selanjutnya Allah menjelaskan alasan bagi seseorang untuk tidak berpuasa, yaitu karena sakit dan dalam perjalanan. Bila karena dua alasan tersebut seseorang tidak berpuasa maka hendaknya ia mengganti puasanya pada bulan lain sebanyak hari yang ditinggalkannya.
Berkenaan dengan alasan sakit, kebanyakan para imam menyaratkan sakit yang berat yang menyulitkan baginya untuk berpuasa. Dalam Tafsir Al-Maraghiy, disebutkan bahwa Ibn Sirin, Atha, dan Bukhari bahwa semua sakit menjadi rukhsah untuk berbuka, karena banyak penyakit yang tidak menyulitkan seseorang untuk berpuasa tapi membahayakan baginya dan menyebabkan penyakit itu bertambah parah dan panjangnya masa penyembuhan. Bahaya (dharar) itu lebih menyulitkan daripada berat (masyaqqah). Sementara Allah menghendaki kemudahan bukan kesulitan bagi hamba-hamba-Nya.
Syarat perjalanan yang dibolehkan untuk berbuka adalah perjalanan yang dibolehkan untuk mengqashar shalat. Sedangkan pendapat mengenai jarak perjalanan yang membolehkan seseorang untuk berbuka itu berbeda-berbeda. Menurut Malik adalah perjalanan sehari semalam (87 mil).
Para ulama sepakat bahwa musafir di bulan Ramadhan tidak boleh berniat untuk berbuka, karena seorang dianggap sebagai musafir bukan sekedar dengan niat saja, tapi dengan amal dan persiapan.
Bagi yang berbuka karena dua alasan itu maka ia wajib meng-qadha-nya.
Orang-orang yang tidak mampu dalam ayat ini adalah orang-orang tua yang lemah dan orang sakit yang sudah tidak diharapkan lagi kesembuhannya, ibu yang mengandung dan menyusui bila khawatir akan keselamatan anaknya dibolehkan tidak berpuasa dengan membayar fidyah (memberi makan seorang miskin) dengan makanan yang biasa ia berikan pada keluarganya dengan ukuran sekali makan yang mengenyangkan sebanyak hari yang ditinggalkannya. Dan barang siapa yang berbuat baik dengan menambahkan ukuran fidyah maka kebaikan itu akan kembali kepadanya.
Dan berpuasa bagi tiga golongan tersebut itu lebih baik daripada fidyah karena puasa merupakan latihan fisik dan jiwa, membentuk ketaqwaan serta mendekatkan diri pada Allah.
Q.S. Al-Baqarah: 185
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ اَيَّامٍ اُخَرَ يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوْا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak mengendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.
Terjemah Per-Kata
شَهْرُ
bulan
رَمَضَانَ
Ramadhan
الَّذِيٓ
yang
اُنْزِلَ
diturunkan
فِيْهِ
di dalamnya
الْقُرْاٰنُ
Al-Qur’an
هُدًى 
petunjuk
لِّلنَّاسِ
bagi manusia
وَبَيِّنٰتٍ
dan penjelasan
مِّنَ
dari
الْهُدٰى
petunjuk itu
وَ
dan
الْفُرْقَانِ
Al-Furqan (pembeda)
فَمَنْ
maka barangsiapa
شَهِدَ
menyaksikan
مِنْكُمُ
di antara kalian
الشَّهْرَ
bulan
فَلْيَصُمْهُ
maka hendak lah ia berpuasa
وَمَنْ
dan barang siapa
كَانَ
(adalah ia)
مَرِيْضًا
sakit
اَوْ 
atau
عَلى
dalam
سَفَرٍ
perjalanan
فَعِدَّةٌ
maka hitunglah
مِنْ
dari
اَيَّامٍ
hari-hari
اُخَرَ
lain
يُرِيْدُ
menghendaki
اللهُ
Allah
بِكُمُ
bagi kalian
الْيُسْرَ
kemudahan
وَلَا
dan tidak
يُرِيْدُ
Dia menghendaki
بِكُمُ
bagi kalian
الْعُسْرَ
kesusahan
وَ
dan
لِتُكْمِلُوْا
agar kalian mencukupkan
الْعِدَّةَ
hitungan/ bilangan
وَ
dan
لِتُكَبِّرُوا
Hendaklah kalian meng agungkan
اللهَ
Allah
عَلٰى
atas
مَا
apa yang
هَدٰىكُمْ
Dia memberi petunjuk pada kalian
وَلَعَلَّكُمْ
dan supaya kalian
تَشْكُرُوْنَ
kalian bersyukur
QS. Al-Baqarah ayat 185 ini menjelaskan mengenai hari-hari tertentu yang diwajibkan puasa yaitu bulan Ramadhan yang pada bulan ini al-Qur’an pertama kali diturunkan dan kemudian diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun yang menjadi petunjuk bagi manusia ke jalan yang benar dan ajaran yang lurus. Allah juga menjadikannya pembeda antara kebenaran dan kebatilan serta keutamaan dan kehinaan melalui kejelasan ayat-ayatnya.
Untuk mengetahui datangnya bulan Ramadhan bisa dilakukan dengan ru’yah hilal (melihat bulan) dengan mata kepala sendiri atau melalui lembaga atau orang yang terpercaya. Dan bagi negara yang tidak dapat melihat hilal maka dapat merujuk pada daerah-daerah sekitar.

*) Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *